Doa Dengan Tulus

Sebuah cerita klasik sederhana ini selalu mengingatkan saya akan pentingnya ketulusan dalam berdoa. Kisah ini mengenai seorang anak kecil ketika akan diserang seekor banteng mengamuk kemudian berdoa dengan mengucapkan doa makan, namun Allah tetap mendengarnya. Secara ajaib banteng yang berlari ke arah anak tersebut berbelok arah.

Terlepas dari kata-kata indah yang dirangkai dalam doa, Allah mengenal isi hati setiap kita. Dan isi hati-lah yang menjadi perhatian Allah. Lantas apakah yang terdapat dalam hati kita? Firman Allah mengatakan bahwa “doa orang benar bila dengan yakin didoakan sangat besar kuasanya” dan bahwa Allah melakukan lebih dari yang kita doakan. Namun doa yang dimaksud disini ialah doa yang lahir dari hati yang selaras dengan kerinduan Allah. Karena dalam Yakobus 4:1-3 dikatakan bahwa kita tidak akan menerima apa-apa bila kita salah berdoa yaitu bila yang kita minta itu hanya untuk memuaskan hawa nafsu belaka.

Oleh karena itu kita perlu menyelaraskan kerinduan kita dengan kerinduan Allah. Bukan berarti doa kita hanya akan semata-mata mengenai hal ‘rohani’ saja, karena Bapa pun rindu memberkati kita secara jasmani. Cara yang tepat untuk menyelaraskan keinginan kita dengan keinginan Allah ialah bersekutu dengan-Nya, membangun komunikasi dalam pembacaan firman dan penyembahan. Bila hati kita selaras dengan kerinduan Tuhan, maka doa yang lahir dari hati kita menjadi sama dengan apa yang Allah rindukan.

Seringkali apa yang Allah rindukan, Ia simpan dalam hati kita menjadi beban doa. Misalnya kita teringat akan kondisi bangsa dan negara atau ada keluarga atau rekan kita yang belum percaya pada Yesus sehingga kita mendoakannya. Jangan abaikan beban belas kasihan yang Allah simpan dalam hati kita dan terlintas dalam pikiran kita karena doa yang lahir dari hati yang hancur dan apa adanya sangat disukai Allah. Ketika belas kasihan Ilahi mengalir dan memenuhi kita sehingga kita berdoa seiring dengan kerinduan-Nya maka Sorga akan terbuka dan menjawab.

Hal lain terkait berdoa dengan tulus ialah ketika kita berdoa ingatlah bahwa kita berbicara dengan pribadi yang hidup, dekat dengan kita bukan pribadi yang jauh entah dimana. Ia adalah Bapa yang rindu mendengar kisah anaknya. Hal ini perlu disampaikan karena sebagian orang terjebak kebiasaan rutinitas berdoa, sehingga doa bukan lagi sebagai sarana komunikasi dua arah melainkan sarana ritual searah.

Berdoa secara tulus ialah datang kepada Bapa sebagaimana kita adanya, baik atau tidak baik keadaan kita, tanpa topeng tanpa kepalsuan, karena memang IA-lah Bapa yang Maha Tahu. Ia mengerti kerinduan hati kita yang terdalam, pertanyaannya apakah kita datang dengan menyatakan kerinduan hati yang tulus dan selaras dengan-Nya atau tidak. Tuhan memberkati kita.

Oleh: Ivan Stefanus

Check Also

Artikel Link

PRAISE AND WORSHIP (TALKSHOW)

Oleh: Tirza Raidishya Fairha Ayumi Handi Minggu, 22 September 2024 Ibadah Link Youth berkesempatan mengadakan …