
Menceritakan kabar baik merupakan sesuatu yang terjadi secara alami. Misalnya berita kelahiran seorang anak akan dengan gembira diberitakan kepada sanak keluarga atau berita kelulusan dari perguruan tinggi akan dengan bahagia diberitakan kepada sahabat dan teman-teman. Kabar baik ini semakin mudah diberitakan karena perkembangan teknologi saat ini, melalui telepon (melalui video call atau audio call), layanan pesan singkat, aplikasi chatting melalui media sosial (WA, Line, Twitter dan lain-lain).
Pada zaman dahulu, para rasul mengalami kejadian luar biasa yang menggembirakan. Oleh karena itu, mereka memberitakan kabar baik tersebut kepada banyak orang. Kalau menggunakan istilah zaman sekarang istilahnya message blasting. Pesan yang sama yang diberitakan kepada banyak orang ialah pesan bahwa Allah telah datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia. Ya, Allah sendiri turun ke dunia supaya manusia yang berdosa dan tidak mampu menjalankan hukum Taurat, dapat beroleh keselamatan. Berita sederhana inilah yang disebut sebagai Injil.
Injil yang diberitakan ini memiliki kuasa (Markus 16:17-18) bila orang yang memberitakannya mengalami kabar baik itu. Bagaimana mungkin orang yang mendengarkan kabar baik itu percaya pada kabar tersebut jika yang memberitakannya tidak excited dan tidak mengalami kabar tersebut. Oleh karena itu dasar kita memberitakan Injil haruslah pertama-tama karena kita telah mengalami kabar baik tersebut. Jika belum, maka pemberitaan kita tidak akan memiliki kuasa sebagaimana harusnya.
Apa yang disampaikan Paulus dalam Roma 15:14-21 merupakan dasar dalam Paulus melayani, yaitu karena kasih karunia dan anugerah Allah yang telah ia alami (bukan telah ia ketahui) sehingga ia boleh menjadi pelayan Kristus. Dalam memberitakan Injil, Paulus jelas melakukan pemberitaan di daerah dimana Kristus belum dikenal orang supaya ia tidak membangun di atas dasar yang telah diletakkan orang lain. Ini yang harus menjadi semangat penginjilan gereja. Bukan menerapkan sistem marketing gereja, yang menjual kehebatan gereja agar jemaat banyak dan hanya memindahkan jemaat gereja yang satu ke gereja lainnya. Memang perpindahan jemaat antar gereja bisa saja terjadi dan itu bukan merupakan suatu hal yang salah, namun bila pola pemikiran pemberitaan Injil dilakukan seperti ini maka akan bahaya sekali. Sebagai gereja, kita satu tubuh Kristus, yang tentunya objektif yang ingin dicapai haruslah seperti apa yang dipikirkan oleh kepala yaitu Kristus Yesus sendiri.
Hal yang penting untuk dicermati agar kita dapat terhindar dari marketing gereja ialah jangan iri terhadap gereja lain karena kita satu tubuh dan satu tujuan. Kalau ada gereja yang dianggap lebih baik, baiklah gereja dapat belajar satu dengan yang lain. Karena merupakan hal yang aneh bila tangan iri kepada kaki atau jantung iri kepada ginjal, karena setiap organ memiliki fungsi dan tujuan khususnya masing-masing. Justru dengan bersinergilah tujuan bersama dapat tercapai dengan efektif, optimal, dan efisien.
Gereja merupakan organisme yang hidup dan memiliki tujuan yang sama terlepas dari denominasi apa pun. Namun memang praktiknya tidak semudah itu, kita perlu bimbingan Roh Kudus agar seiya-sekata, sepikir, dan sepenanggungan karena apalah yang menyatukan gereja satu dengan yang lainnya kalau bukan pimpinan Roh Kudus. Semoga dorongan dan pimpinan Roh Kudus saja yang merupakan motivasi kita untuk memberitakan Kabar Baik ini.
Oleh: Ivan Stefanus
GBI Pasir Koja 39 Bandung