Berkat Di Masa Krisis

Bpk. Pdp. Haresh T. Keswani

Jumat, 29 November 2019, kami berkesempatan untuk berbincang tentang tema Berkat Di Masa Krisis di dalam kehidupan Bapak Haresh T. Keswani.

Banyak orang mungkin berpikir, seorang Haresh T. Keswani mungkin tidak pernah mengalami krisis keuangan. Akan tetapi ternyata hal itu keliru. Beliau menyatakan, bahwa dalam berbisnis tentu pernah mengalami masa krisis. Contohnya tahun 1996, ketika beliau ekspansi bisnis ke Solo. “Di bisnis ada yang namanya fluktuasi, di mana ada kalanya ramai tetapi ada masa sepi pelanggan. Akan tetapi, puji Tuhan selalu ada pertolongan Tuhan,” ujar Pak Haresh.

Ketika mengalami krisis, Pak Haresh mengatakan, bahwa hal pertama yang ia lakukan adalah berdoa, mencari Tuhan. Kemudian mengevaluasi diri apakah krisis ini disebabkan oleh kesalahan yang beliau lakukan, untuk menjadi pembelajaran dan perbaikan ke depannya. “Selain itu, saya juga selalu mempersiapkan dana agar ketika masa krisis datang, saya memiliki dana cadangan. Berinvestasi adalah hal yang penting untuk dilakukan, karena krisis dalam bisnis bisa dialami siapa saja, baik anak Tuhan ataupun bukan. Kita perlu berinventasi supaya siap menghadapi krisis,” lanjutnya lagi.

Supaya tidak mengalami krisis, beliau menyatakan agar kita menjaga diri  biaya hidup tidak melebihi penghasilan  Bahkan harus menyisakannya untuk ditabung dan diinvestasikan.

Dalam kesempatan ini, beliau juga membagikan tips apa saja yang harus dilakukan sebelum melakukan ekspansi dalam bisnis. “Hal pertama, berdoa meminta hikmat dan pimpinan Tuhan agar tidak salah dalam melangkah. Bangun hubungan pribadi yang intim dengan Tuhan dan dengar Ia berbicara. Langkah kedua, survey (cocok-kah produk yang akan kita jual, kira-kira biaya operasionalnya), ketiga adalah awasi dan miliki administrasi yang baik,” jelas Pak Haresh lagi.

Ketika penulis menanyakan bagaimana soal prinsip menabur di masa krisis bagi seorang Pak Haresh? “Sebagai seorang pengikut Yesus, menabur adalah hal yang sudah seharusnya dilakukan. Tidak peduli di saat kita berkelimpahan ataupun sedang mengalami kesulitan keuangan. Karena teladan kita adalah Kristus.”

Kemudian ia melanjutkan, bahwa di Matius 25 Tuhan Yesus berkata, bahwa ketika kita memberi makanan, minuman dan tumpangan bagi mereka yang berkekurangan, sesungguhnya kita sedang melakukannya untuk Kristus. Tidak dapat dipungkiri, bahwa ada orang Kristen yang salah dalam motivasi menabur. Ada yang menabur bukan karena taat atau mengasihi Allah, tetapi karena ingin mendapatkan tuaian berupa laba. Dalam hal ini Pak Haresh menyatakan, bahwa Tuhan tahu hati dan iman setiap orang. Firman Tuhan  berjanji, bahwa mereka yang menabur pasti akan menuai. “Janji Tuhan itu ya dan amin.Saya sendiri mengalaminya, ketika saya menabur, Allah pun memberkati saya.”

“Saat menabur, tentu kita tetap harus berdoa meminta hikmat dan pimpinan Allah agar taburan kita jatuh di tempat yang tepat. Kita juga harus seimbang, antara menabur untuk pekerjaan misi dan menolong orang miskin,” imbuhnya lagi.

“Ketika mengalami krisis, kita dapat saja merasa seperti tidak ada harapan. Tetapi, sebagai anak Tuhan, kita harus berpegang teguh kepada kebenaran firman Tuhan, melakukan firman-Nya dan percaya penuh akan janji pertolongan Tuhan yang sudah dinyatakan di Alkitab. Saat keadaan tanpa daya, tidak ada pribadi yang dapat kita andalkan kecuali Tuhan. Jika berharap kepada manusia, kita akan kecewa. Tuhan lah satu-satunya pengharapan kita. Tuhan tidak jauh dari kita, datang dan cari Dia. Tuhan pasti menjawab mereka yang sungguh-sungguh berseru kepada-Nya dan setia. Bahkan, kadang kala di masa-masa krisis ini, kita justru dapat semakin dekat dengan Tuhan dan mengenal-Nya,” lanjutnya lagi.

Pak Haresh pun mengungkapkan keheranannya melihat orang Kristen yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus dan menerima keselamatan dari-Nya, tetapi enggan untuk membangun hubungan dengan Tuhan. Padahal, kehidupan yang berbahagia itu bukan karena memiliki harta akan tetapi kehidupan yang melekat erat dengan Tuhan. “Tragedi terbesar bukan ketika Tuhan tidak menjawab doa, tetapi ketika kita tidak berdoa,” ujarnya.

Sebagai gereja dan hamba Tuhan kita mesti selalu mengingatkan jemaat untuk membangun keintiman mereka dengan Allah. Fokuskan khotbah-khotbah kita kepada firman Tuhan karena firman-Nya berkuasa. Jangan ngalor ngidul bicara hal-hal yang tidak penting atau banyak bergurau sekedar mengejar kesenangan jemaat,” tuturnya lagi.

Satu hal yang dapat disimpulkan dari perbincangan kami dengan Bapak Haresh T. Keswani adalah, bahwa membangun hubungan yang intim dengan Tuhan adalah hal yang utama yang harus kita kejar dan prioritaskan sebagai orang Kristen. Ketika kita intim dengan Allah, apa pun yang terjadi di dalam kehidupan kita, entah itu krisis atau kelimpahan, tidak akan menghancurkan kita. Dekat dengan Tuhan akan membuat kita penuh dengan hikmat-Nya. Kita pun akan bertindak hati-hati sesuai dengan pimpinan Roh Kudus, sehingga apa saja yang kita kerjakan berhasil dan beruntung.

Oleh: Pdp. Haresh T. Keswani

Check Also

Artikel Utama

BERSAKSI ITU MENYENANGKAN

Oleh: Pdt. Dr. A.L. Jantje Haans 2 Timotius 4:2, 8Menginjil itu tidak mudah. Namun, menginjil/bersaksi …