Kalau kita bertamu ke rumah teman atau keluarga, kadang ada foto keluarga yang di bingkai rapi serta di pajang di ruang tamu. Ada foto bapak, ibu, dan anak-anaknya. Mukanya ceria dan pakaiannya bagus, malah kadang pakaiannya seragam. Kompak. Mereka sama-sama dalam sebuah rumah yang disebut keluarga. Dalam keluarga ada keindahan, kesatuan dan kasih sayang. Itu semua bisa terwujud kalau setiap anggota keluarga saling menghargai dan taat kepada aturan yang ditetapkan di keluarga dan tentunya firman Tuhan. Seseorang bisa saling menghargai jika orang tersebut kenal dan tahu Firman Tuhan. Karena Firman Tuhan tidak pernah mengajarkan kepada kita semua untuk saling merendahkan orang lain. Sikap seperti itu muncul dari ketaatan kita pada Firman yang Tuhan nyatakan dalam Alkitab.
Kata taat adalah kata yang sering kita dengar dan sering kita ucapkan tetapi kita sering tidak melakukannya. Kata taat juga sama dengan patuh. “Anak bijak taat orang tua”. Nah yang menjadi pertanyaan apakah kita sudah mau mentaati semua perintah orang tua kita, sudahkah kita dengar-dengaran nasihat orang tua ataukah melawannya?.
Ingatlah bahwa Tuhan Yesus sudah memberikan teladan bagi kita dalam segala hal. Tuhan Yesus telah memberikan contoh kepada kita semua meskipun Tuhan Yesus itu Allah. Dari sejak kecil Tuhan Yesus juga belajar patuh dan taat kepada Maria dan Yusuf sebagai orang tua Tuhan Yesus sebagai manusia. Alkitab mencatat bahwa Yesus adalah pribadi yang kepada-Nya Bapa berkenan. Jika Bapa berkenan kepada Yesus karena Yesus adalah pribadi yang kudus tak berdosa. Hidup-Nya pasti menyenangkan Bapa, (Yohanes 4:34).
Demikian juga kita sebagai anak Tuhan Yesus , maka kita juga wajib meniru apa yang telah Tuhan Yesus lakukan. Sebagai anak Tuhan yang baik maka kita juga harus membutikan untuk belajar taat dan patuh kepada orang tua kita. Sebab kalau kita berkata mengasihi Tuhan Yesus tetapi kita dengan orang tua yang membesarkan kita dan yang memelihara serta membiayai uang sekolah, kita melawan mereka maka kita berbohong kepada Tuhan. Ini sama dengan orang yang mengenal Tuhan tapi hatinya penuh dengan kemunafikan (Roma 1:18-22). Ketaatan yang kita lakukan kepada orang tua dengan tulus akan menjadikan kita menjadi anak kesayangan.
Seperti cerita nabi Nuh, yang membangun bahtera (Kej. 6:1-22). Dari kisah ini ada pelajaran rohani yang dapat kita ambil kebenarannya, yaitu ditengah-tengah orang yang munafik, Nuh tetap mengajarkan kepada anak-anaknya untuk tetap taat kepada perintah Tuhan. Coba seandainya nasihat Nuh tidak didengar oleh anak dan menantunya, apakah mereka akan selamat? Jawabannya pasti tidak! Ketaatan yang kita lakukan dapat menyelamatkan seisi keluarga kita. Tuhan Yesus sebagai Anak yang taat kepada Bapa, akhirnya menyelamatkan banyak orang. Mengapa kita perlu taat kepada orang tua kita? Dari kisah nabi Nuh ini bahwa taat mendengar nasihat orang tua adalah salah satu wujud atau bukti bahwa kita mengasihi Tuhan.
- Ingat orang tua adalah wakil Tuhan di bumi ini (Amsal 1:8-9). Ketaatan serta kepatuhan yang kita lakukan kepada orang tua adalah kewajiban yang harus kita lakukan sebab itu juga perintah Tuhan (Efesus 6:1;Kolose 3:20). Ketaatan kepada orang tua adalah bukti bahwa kita benar-benar mengenal Firman-Nya, sebab orang yang tidak taat kepada orang tua digolongkan orang yang munafik atau lalim (Roma 1:30).
- Orang yang taat kepada orang tua juga merupakan bukti bahwa kita juga mengasihi serta menghormati orang tua yang Tuhan telah berikan kepada kita untuk menjagai kita. Ketaatan dan kepatuhan kita kepada orang tua sebagai bukti kita mau mengabdi dan mau melayani Tuhan dengan tulus. Dan seorang anak yang mendengar nasihat dari orangtuanya akan disebut sebagai anak yang bijak dan takut akan Tuhan (Amsal 13:1,15:20,33).
Jadi kalau kamu selalu memiliki kerinduan untuk belajar terus mematuhi dan mendengarkan nasihat orang tua maka kamu akan menjadi anak yang membanggakan Tuhan dan memuaskan Tuhan.
Oleh: Rina Kumala
GBI Pasir Koja 39 Bandung