Fokus Pada Panggilan Hidup Kita

“Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, segenap jiwamu, segenap akal budimu.”

Shallom….

Kemudahan dan kenyamanan hidup membuat manusia merasa semua hal dalam kehidupan  mungkin ada dalam kontrol. Apalagi dengan adanya kemajuan teknologi yang semakin canggih, hal tersebut seringkali menjadikan manusia semakin sombong dan arogan. Namun kita perlu sadari bahwa tidak ada pengetahuan dan fasiltas apa pun yang sanggup menjamin pasti kehidupan dan keselamatan manusia.

Masalah terbesar manusia adalah dosa dan akibat dosa adalah maut. Ilmu pengetahuan, uang, keluarga, kedudukan tidak mampu memberi solusi bagi persoalan manusia ini. Penyelesaian masalah dosa hanya ketika seseorang datang kepada Kristus dan mengakui-Nya sebagai Tuhan secara pribadi. Hanya Yesuslah Jalan keselamatan bagi semua orang. Oleh karena itu, sebagai pribadi yang sudah ditebus oleh Yesus, kita harus mengikuti Tuhan dengan segenap jiwa dan hati kita baik dalam keadaan suka maupun duka (Mat. 22:37).

Ada 4 hal yang yang perlu kita ingat saat merenungkan kasih Tuhan dan apa yang seharusnya kita lakukan untuk Tuhan :

  1. Waktu kita terbatas

Tidak ada seorang manusia pun yang mampu untuk mengetahui waktu dan masa kehidupannya. Umur merupakan rahasia Tuhan. Kita patut bersyukur kepada Tuhan bila kita masih diberikan kesehatan dan umur, sehingga dapat beribadah dan melayani-Nya. Untuk Itu kita harus memanfaatkan waktu yang Tuhan karuniakan dengan sebaik-sebaiknya (Mzm. 90:12, Ef. 5:15-16).

  1. Pengalaman bersama Tuhan menjadi kekuatan dan motivasi untuk melayani-Nya.

Kebaikan dan pertolongan Tuhan dalam kehidupan adalah kekuatan dan fondasi pelayanan kita. Setiap kita pasti pernah mengalami pertolongan Tuhan sehingga kita tidak bisa melupakan dan selalu ingin menceritakan tentang kebaikan Tuhan tersebut. Tugas menyampaikan berita tentang kebaikan Tuhan dan menceritakan keselamatan-Nya merupakan tugas semua orang percaya sesuai Amanat Agung Yesus (Mat. 28:19; Mrk. 16:15,20).

Kisah tentang orang yang dirasuk setan (Mrk. 5:1-13), terjadi perubahan besar setelah orang tersebut bebas dari ikatan setan, dia memohon supaya diperkenan mengikut Yesus tetapi Ia menyuruhnya pulang ke rumah bertemu orang-orang sekampungnya untuk bersaksi tentang apa yang telah Yesus perbuat kepadanya (Mrk. 5:18-20). Demikian pula pengalaman kesembuhan orang lumpuh yang pekerjaannya hanya meminta-minta sedekah di dekat pintu gerbang Bait Allah tetapi tidak pernah merasakan sukacita yang terjadi dalam ibadah. Namun setelah disembuhkan, dia berjalan masuk ke dalam Bait Allah, melompat-lompat sambil memuji Allah membuat orang lain takjub dan tercengang (Kis. 3:1-10). Pengalaman hidup kita bersama Tuhan secara spesifik berbeda satu dengan yang lain namun implikasi dari menceritakan dan menyaksikan pengalaman pribadi dengan Tuhan memberikan motivasi yang lebih giat melayani Dia dan dapat membuat orang lain  dikuatkan untuk percaya dan mengenal Tuhan.

  1. Setiap kita diberkati untuk menjadi berkat.

Kita tidak hanya diselamatkan tapi pasti menerima banyak berkat rohani dan jasmani dalam kehidupan. Kita menerima berkat untuk memberkati sekitar kita, sehingga mereka bisa merasakan kehadiran Tuhan dalam kehidupan kita. Kita dipanggil untuk menjadi berkat dengan mengambil tanggung jawab untuk mendukung setiap pekerjaan pekabaran Injil. Dukungan dapat berupa tenaga, doa dan dana (Luk. 8:3b).

Diperlukan hati yang tulus dan mau untuk mengambil bagian yang Tuhan percayakan. Kita tidak harus menjadi kaya secara materi lebih dahulu untuk dapat melayani Tuhan dan mempersembahkan korban bagi-Nya, seperti dicontohkan oleh jemaat di Makedonia yang miskin namun mempersembahkan lebih dari yang diharapkan. Mereka kaya dalam kemurahan walau mereka mengalami pencobaan berat dalam pelbagai penderitaan; bahkan mereka memberi melampaui kemampuan mereka (2 Kor. 8:2-4), bukan  dari kelimpahan/kelebihan (Luk. 21:2-4).

  1. Bekerja dengan fokus menyelamatkan jiwa

Kita harus belajar dan mengikuti teladan Yesus yang bekerja dengan giat dan fokus memberitakan Injil kerajaan Allah (Luk. 8:1). Hal ini dilakukan-Nya sebab Ia meng-hendaki agar tidak ada yang binasa tetapi semua orang berbalik dan bertobat (2 Ptr. 3:9b). Rasul Paulus mencontoh teladan Yesus dengan giat memberitakan Injil bahkan menganggapnya celaka jika tidak menginjil (1 Kor. 9:16) sebab dia tahu pen-tingnya keselamatan yang hanya ada di dalam Yesus (Kis. 4:12, 1 Tim. 2:1-2, 4).

Sehingga perkabaran Injil tidak hanya terbatas dalam kegiatan misi gereja, dalam pelayanan di gedung gereja, ataupun dalam kegiatan sosial yang dilakukan gereja. Namun lebih luas dari itu, hendaknya kita membawa api misi dalam setiap aktivitas kita dan profesi apa pun selalu dikaitkan dengan keselamatan orang lain melalui Injil yang kita beritakan kepada mereka.

Yesus memberi tanggung jawab kepada para murid-Nya dan kepada setiap generasi untuk melakukan “panggilan suci” (Lukas 14:34). Panggilan suci tersebut ialah untuk menjadi garam dan terang bagi dunia, agar banyak orang menjadi percaya dan menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juru Selamat.

Oleh karena itu, jika kita telah diberkati Tuhan dengan semua berkat materi, kesehatan, kepandaian/talenta, fisik yang prima, kita perlu mengingat semuanya itu bukanlah untuk diri kita sendiri tetapi Tuhan Yesus mempercayakan dan memberikan segala berkat-Nya kepada kita supaya kita juga menjadi berkat bagi banyak orang. Untuk itu, marilah kita membuat komitmen menjadi lebih giat dalam mengambil bagian pekerjaan misi. Dengan apakah kita akan membalas semua kebaikan Tuhan selain mengasihi-Nya dan melayani-Nya dengan segenap hati dengan menggunakan berkat jasmani dan rohani yang kita miliki untuk memberkati pekerjaan Tuhan. Dengan demikian, makin banyak orang mengenal Dia dan nama Tuhan dipermuliakan. Amin. Tuhan Memberkati kita semua.

Oleh: Ronny Lesmana

 

 

 

 

Check Also

Artikel Utama

BERSAKSI ITU MENYENANGKAN

Oleh: Pdt. Dr. A.L. Jantje Haans 2 Timotius 4:2, 8Menginjil itu tidak mudah. Namun, menginjil/bersaksi …