Kasih sebagai Pondasi Kekristenan

1 Yohanes 4:8, “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.”

Sebagai seorang Kristen, kasih merupakan identitas kita. Kasih merupakan landasan pengorbanan Kristus bagi kita. Kasih adalah perintah utama yang mencakup seluruh isi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menekankan bahwa kasih merupakan hal yang sangat penting.

1 Korintus 13:3, “Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.”

Sangat jelas diterangkan bahwa dalam segala tindakan kita, kasih perlu menjadi motivasi utama yang melandasi kita melakukan hal-hal baik. Tidak cukup dengan melakukan hal yang baik saja, namun kasih sebagai motivasi yang menggerakkan kita merupakan hal yang esensial. Mengapa kasih begitu penting? Karena tanpa kasih, hal baik yang kita lakukan menjadi dingin dan basi. Seperti makanan yang enak, saat sudah dingin makanan tersebut tidak akan selezat ketika masih hangat.

Ketika kita melakukan hal yang baik, maka perlu disertai sikap hati yang benar. Kasihlah yang membedakan antara keagamawian dan kekristenan yang hidup. Sikap agamawi membawa kita untuk melaksanakan kewajiban, sedangkan kekristenan yang hidup membawa kita untuk terlebih dahulu memiliki belas kasihan sebelum bertindak. Kalau kita berbuat baik hanya karena kita tahu bahwa itu merupakan kewajiban agama, hal tersebut akan menjadi beban dan kebaikan kita tidak menyentuh hidup orang. Apa yang berasal dari akal akan diterima akal, tetapi apa yang berasal dari hati akan diterima oleh hati. Perbuatan yang didasari belas kasihan akan menyentuh hati dan mengubahkan hidup orang lain.

Anak-anak muda perlu mengerti bahwa kasih merupakan hal yang harus melandasi perbuatan. Tanpa motivasi yang benar, hal yang dilakukan dengan benar pun tidak akan bertahan lama. Bila kita berbuat baik kepada orang lain untuk mendapatkan imbalan, maka perbuatan baik kita tidak akan bertahan lama. Bila kita melayani di gereja karena tuntuta atau agar dipuji orang, maka pelayanan kita tidak akan bertahan lama karena lambat laun ujian itu pasti datang. Ketika angin datang, bukan hiasan dan pajangan rumah yang menentukan rumah itu tetap kokoh berdiri atau tidak melainkan pondasi dan struktur rumahlah yang menentukan. Demikian juga ketika ujian datang, hal yang menentukan kita bertahan ialah motivasi yang menjadi dasar dan pondasi kita melakukan perbuatan-perbuatan yang kita lakukan. Inilah yang dimaksud Paulus, tidak ada faedahnya bila kita melakukan hal-hal yang baik tanpa kasih, yaitu tanpa dasar yang benar maka perbuatan yang dibangun di atasnya pun tidak akan bertahan. Marilah kita saling mengasihi seperti yang telah diteladankan Yesus bagi kita.

Oleh: Ivan Stefanus

Check Also

Artikel Link

PRAISE AND WORSHIP (TALKSHOW)

Oleh: Tirza Raidishya Fairha Ayumi Handi Minggu, 22 September 2024 Ibadah Link Youth berkesempatan mengadakan …