
Seorang anak muda di Amerika Serikat pernah mencoba ‘menghidupi’ Firman Tuhan dalam kehidupannya sehari – hari. Ia berkomitmen untuk mengikuti setiap aturan dalam kitab Taurat selama 1 bulan penuh tanpa kesalahan. Ia tidak makan makanan yang tidak diijinkan seperti yang tertulis di perjanjian lama, ia tidak beraktifitas di hari Sabtu, menyembelih domba atau burung merpati sebagai korban, dan sebagainya. Apakah dengan demikian ia merasa puas dan hidupnya penuh?. Apakah hal seperti itu yang disebut melakukan firman Tuhan dalam kehidupan sehari – hari?. Tentu tidak. Karena bukan itu yang dimaksudkan. Lantas apakah yang dimaksud dengan melakukan Firman-Nya dalam kehidupan kita sehari – hari seperti yang Allah inginkan ?
Untuk mengetahui apa yang Allah inginkan, kita harus mendekat pada-Nya melalui saat teduh, berdoa, dan pembacaan Firman Tuhan. Tertulis dengan sangat jelas kehendak Allah dalam Firman-Nya. Namun, seringkali manusia mengintepretasikan Firman Tuhan dengan salah sehingga apa yang dilakukannya bertentangan dengan esensi dari kehendak Allah sendiri. Hal ini seperti yang dilakukan beberapa orang pada jaman gereja mula – mula. Paulus, dalam suratnya, 2 Timotius 3 : 5 mencatat, ‘Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!’
Seringkali manusia terjebak dalam rutinitas dan liturgi gereja namun tidak memaknai isinya Apakah liturgi itu salah? Tentu tidak, kita membutuhkannya agar tercipta keteraturan. Namun memaknai ibadah berbeda jauh dengan hanya mengikuti liturgi.
Anak muda menyukai hal – hal yang baru, inovatif dan kreatif sehingga seringkali bertentangan dengan liturgi yang telah ada. Hal ini sering memicu pertentangan antara kaum muda dengan lingkungan yang lebih dewasa. Anak muda perlu belajar memaknai isi dari ibadah dan memegang erat nilai – nilai Firman Tuhan, jangan sampai melakukan hal – hal baru yang inovatif namun mengabaikan Firman Tuhan.
Dalam kehidupan masa kini, tentu kita tidak lagi melakukan praktek – praktek ibadah seperti pada perjanjian lama, seperti menyembelih domba dan sebagainya. Namun, nilai yang terkandung dalam ibadahnya tetap kita pegang erat, yaitu bahwa dosa memiliki konsekuensi yang sama dengan kematian dan hanya oleh pencurahan darah saja kita dapat ditebus. Hal ini pun berlaku dalam kehidupan sehari – hari kita dalam melakukan Firman Tuhan, saat membaca Firman Tuhan kita perlu mengerti kehendak-Nya dan nilai dari perintah – perintah-Nya bukan hanya sekedar memperhatikan kulit luarnya saja agar kita tidak melakukan hal yang salah seperti anak muda pada contoh tadi.
Sebuah hal sederhana dalam melakukan Firman Tuhan ialah lakukanlah Firman Tuhan yang kita dapatkan walau dimengerti dengan sederhana. Mungkin ada beberapa bagian dalam Firman Tuhan yang sulit kita mengerti, namun jangan sampai karena kita tidak mengerti suatu bagian Firman Tuhan lantas kita mengabaikan semuanya. Lakukan hal – hal sederhana seperti menghormati orangtua, mengampuni, dan mengendalikan diri. Banyak orang mengetahui banyak Firman tetapi melakukan sedikit, namun lebih baik kita melakukan setiap Firman yang kita dapatkan walaupun kita belum mengerti banyak. Yakobus 4 : 17 mencatat ‘Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.’
GBI Pasir Koja 39 Bandung