
Istilah eskatologi mengacu pada bagian terakhir dari sejarah bumi. Mencakup diskusi tentang kematian, kebangkitan, penghakiman, kedatangan kedua, milennium, nasib bumi dan umat manusia, dan banyak lagi. Namun, konsep ini tidak harus terdengar terlalu negatif, atau menyeramkan, karena pada akhirnya tidak demikian. Eskatologi juga merupakan studi tentang apa yang akan dilakukan Yesus Kristus untuk mengakhiri konflik kosmik “kebaikan vs. kejahatan .” Ini adalah studi tentang bagaimana Dia pada akhirnya menyelamatkan dan memulihkan kita.
Kata eskatologi berasal dari dua kata Yunani yang berarti terakhir (ἔσχατος atau eschatos ) dan “belajar” (λογία atau logia ). Secara harfiah, ini adalah studi tentang hal-hal terakhir, atau studi tentang akhir zaman.” Namun, perlu diingat bahwa ini mengacu pada “hal-hal terakhir” dari dunia yang penuh dosa in, bukan bumi ini sebagai planet, atau umat manusia sebagai anak-anak Allah. Satu-satunya hal yang berakhir selamanya adalah dosa, Setan, atau Iblis, dan para pengikutnya yang menolak Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Istilah “eskatologi” tidak digunakan dalam Alkitab, namun peristiwa-peristiwa masa depan yang dimaksud dalam studi ini tercakup dalam seluruh Alkitab. Penting untuk mempelajari ajaran eskatologi, sehingga kita dapat mengetahui di mana harus menempatkan fokus dan keyakinan kita. Jika ada satu pelajaran yang bisa diambil dari membaca studi ini, mungkinkah Tuhan tidak ingin Anda takut pada “Akhir Zaman”? Sekalipun peristiwa-peristiwa dan rincian-rincian dalam Alkitab bisa sangat intens, penting untuk diingat bahwa Allah sedang berperang melawan kejahatan—keegoisan, kebencian, keserakahan, dll. Jika kita berpegang teguh pada Allah dan apa yang Dia minta agar kita pikirkan (Filipi 4:8), Dia berjanji bahwa Dia akan menjadi perlindungan dan kekuatan kita (Mazmur 46:1). Janji-janji Tuhan dapat membawa harapan dan kepastian karena kita diingatkan bahwa pada akhirnya, Dialah yang menang. Dan Dia telah berjanji untuk menyertai kita sampai akhir zaman (Matius 28:20).
Eskatologi dimulai (dan diakhiri) dengan apa yang telah dan sedang dilakukan Allah bagi kita semua melalui Putra-Nya, Yesus Kristus . Kasih Allah terhadap umat manusia, berarti bahwa Yesus (Allah Putra) diutus ke bumi pada waktu yang telah dinubuatkan untuk membayar hukuman atas dosa kita, menebus dan mengangkat kita sebagai manusia & sebagai anak-anak Allah (Galatia 4:4-5). Kehidupan kekal adalah sebuah anugerah. Anda tidak dapat memenuhi syarat untuk hidup kekal. Itu diberikan oleh Tuhan kepada semua yang menerima Dia sebagai Tuhan & Juruselamat (Yohanes 3:16, Efesus 2:9). Yesus menawarkan kita kehidupan kekal melalui pengorbanan-Nya ketika Dia mati untuk menanggung hukuman dosa kita. Jika kita menerima Yesus dan memulai hidup baru bersama-Nya, kita akan dibangkitkan ketika Dia datang kembali untuk membawa orang-orang yang memiliki hubungan dengan-Nya ke sorga (1 Korintus 15:52).
Tuhan mengutus Yesus untuk menyelamatkan kita dari kematian kekal, dan dari keharusan hidup di dunia yang penuh dosa. Puncak akhir dari rencana ini adalah pemerintahan Yesus sebagai raja di atas segala raja, setelah kedatangan-Nya yang kedua kali, akan jelas siapa yang percaya Yesus dan siapa yang tidak. Yesus memang merupakan harapan besar umat manusia ketika kita mempelajari eskatologi, dan kita dapat merasa nyaman dengan hal ini ketika kita mempelajarinya untuk memahami bagaimana segala sesuatunya akan terjadi di Akhir Zaman. Sementara itu, saat kita menantikan kedatangan Yesus kembali, kita dapat menemukan ketenangan pikiran dalam kenyataan bahwa Roh Kudus, yang bekerja di dalam hati kita, menegaskan bahwa kita adalah anak-anak Allah—ahli waris-Nya (Roma 8:16-17). Tuhan Yesus ingin menyelamatkan kita. Dia ingin kita melewati akhir zaman tanpa kuatir atau takut, bahkan ketika keadaan di sekitar kita kacau (2 Petrus 3:9; Yesaya 41:13; Matius 24:6).
PENGHAKIMAN (DAN APA ARTI SEBENARNYA?)
Kita telah membuktikan bahwa Tuhan tidak ingin siapa pun merasa takut. Dia ingin berdamai dengan setiap anak-anak-Nya. Namun, Dia juga menghormati kebebasan memilih kita (Freewill), dan jika ada orang yang tidak ingin diselamatkan, Dia akan menghormati keputusan itu. Namun, Tuhan menghormati pilihan manusia, bukan berarti orang yang tidak percaya, bebas dari hukuman maut. Pada dasarnya itulah maksud dari penghakiman terakhir. Tuhan Yesus Kristus melihat hati setiap orang untuk mengungkapkan di mana letak kesetiaan mereka sebenarnya.
Hal ini memang menjadi tema utama akhir zaman, karena semua peristiwa ini merupakan akibat dari dunia yang perlahan-lahan mencari jalannya sendiri, dan keputusan akan menjadi lebih jelas mengenai siapa yang memihak Tuhan dan siapa yang menentang Dia (2 Tesalonika 2:1-10; Wahyu 7:1-3). Sehingga menarik dan penting untuk mengenal serta mempelajari tema ini, supaya kita mengerti apa fokus utama dari eskatologi?
BAGAIMANA DENGAN PENGHAKIMAN TERAKHIR?
Kata “penghakiman” sering dikaitkan dengan perasaan negatif. Mungkin terdengar kasar bagi Allah untuk menghakimi manusia—terutama ketika penghakiman tersebut menghasilkan akibat yang kekal (baik atau buruk). Namun, melihat lebih dekat penghakiman Tuhan, sebenarnya itu adalah hal yang sangat positif! Hal ini tidak seperti penilaian manusia yang tendesius adalah salah, seringkali tidak adil, sehingga membuat orang merasa salah memahaminya. Tuhan mengenal setiap manusia karena Dia menciptakan manusia. Dia mengenal kita terus menerus. Dan untuk menjadi Tuhan yang benar-benar adil, pada akhirnya, Dia tidak bisa membiarkan kejahatan terus membawa kesedihan, penderitaan dan problema kepada dunia (Wahyu 21:4, 2 Timotius 1:10, Wahyu 20:10).
Jadi, Dia akan menyelamatkan mereka yang mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Mereka yang memilih sebaliknya akan menerima nasib sesuai pilihannya, meskipun Tuhan telah memberi mereka kesempatan untuk berdamai. Itu sebabnya, pada saat Hari Kiamat, kitab kehidupan catatan sorga dibuka (Wahyu 20:11-15). Melalui Kitab Kehidupan, menjadi sangat jelas mengenai pilihan setiap orang. Itu sebabnya masih banyak lagi yang harus terjadi sebelum penghakiman terakhir atas seluruh umat manusia. Kesetiaan sejati setiap orang akan terungkap. Kita lebih lanjut perlu mempelajari, membaca dengan seksama Alkitab agar pemahaman kita tentang penghakiman terakhir, tidak diselewengkan oleh pengajaran sesat.
“MASA KESUSAHAN” DI BUMI, MENDEKATI ”WAKTU AKHIR.”
Sebelum Allah menghakimi dunia, kitab Daniel menggambarkan “masa kesusahan, yang belum pernah terjadi sejak bangsa-bangsa pertama kali ada” (Daniel 12:1). Hal ini mencerminkan gambaran yang jelas tentang peperangan, penganiayaan, gempa bumi dan bencana lainnya yang dibicarakan dalam Matius 24, Lukas 21 dan Markus 13. Namun, bahkan ketika kita membaca tentang masa kesusahan ini, kita dapat mengingat bahwa meskipun dunia berada dalam kekacauan, kita dapat berharap dan yakin bahwa kedatangan Yesus sudah dekat. “Masa Kesusahan”, dalam kaitannya dengan akhir zaman, adalah periode singkat namun intens yang terjadi segera sebelum kedatangan Yesus yang kedua kalinya. Dalam banyak hal, ini seperti kesempatan terakhir yang Tuhan berikan kepada dunia agar mereka dapat melihat dampak dosa yang sebenarnya. Tuhan ingin setiap orang mempunyai kesempatan terakhir untuk bertobat, mengaku dosa, dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat. Dan kemudian menerima rahmat dan pengampunan-Nya.
Namun akan ada titik di mana takdir setiap manusia (dan setiap malaikat yang memihak kepada Iblis) akan ditentukan. Pada saat ini setiap orang mempunyai kesempatan untuk memilih hidup bersama Tuhan atau menolak Dia (Wahyu 22:11). Untuk memahami apa yang sering disebut sebagai “penutupan masa percobaan”, akan bermanfaat jika kita mempertimbangkan konsep ini pada tingkat individu, orang per orang terlebih dahulu. Ada saatnya ketika individu menuai apa yang mereka tabur. Keputusan mereka pada akhirnya telah dibuat oleh mereka sendiri. Dalam Matius 12:31, Yesus berkata, “setiap dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni.” Hal ini mungkin tampak aneh pada awalnya, karena kita diberitahu dalam 1 Yohanes 1:9 bahwa Allah “setia dan adil dan akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” ketika kita mengakui kesalahan kita. Dosa terhadap Roh Kudus bukan berarti Tuhan tidak mau mengampuni. Sebaliknya, hal ini mencerminkan apa yang terjadi jika kita menjadi terbiasa mengabaikan Dia yang bekerja dalam hati kita melalui kuasa Roh Kudus. Jika kita terus-menerus menolak “bujukan” Roh Kudus di hati kita, Dia harus menghormati pilihan itu dan menarik diri dari keinginan Roh Kudus untuk menyelamatkan kita. Pada titik itu, pada tingkat pribadi, pada dasarnya seseorang pada akhirnya akan menentukan nasibnya sendiri. “Masa percobaan” kita berakhir karena keputusan kita untuk menolak Tuhan, atau bahkan memusuhi Roh-Nya dan para pengikut-Nya. Dan kita menderita akibat kehilangan hubungan kita dengan-Nya dan terhadap kehidupan kekal yang Dia janjikan.
Penutupan masa percobaan setiap orang, berdasarkan pilihan mereka untuk mengikuti Tuhan atau menolak Dia, pada akhirnya akan terjadi dalam skala global. Kitab Suci berbicara tentang akhir zaman, membandingkannya dengan zaman Nuh. Dalam Matius 24:37-39, Yesus berkata: “Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Sebab sebagaimana pada masa-masa sebelum air bah mereka makan dan minum, dan mengawinkan, sampai pada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak sadar sampai air bah itu datang dan menyapu bersih mereka semua, demikian pula halnya dengan datangnya, Anak Manusia” (ESV). Meskipun orang-orang di zaman Nuh jelas mempunyai banyak waktu untuk mengambil keputusan untuk bergabung dengannya dalam bahtera sebelum air bah datang, jendela itu—yaitu “masa percobaan”—tertutup ketika pintu bahtera ditutup. Kemudian datanglah air bah seperti yang digambarkan dalam Kejadian 7. Dalam penglihatan rasul Yohanes tentang akhir dunia, ia melihat empat malaikat yang diperintahkan Allah untuk menahan angin yang merusak (Wahyu 7:1). Jelas bahwa pada akhir sejarah, Tuhan penuh belas kasihan dan ingin menunggu selama mungkin agar manusia mendapat kesempatan untuk menemukan keselamatan di dalam-Nya. Namun seperti pada zaman Nuh, pada zaman akhir ini akan tiba saatnya, dekat dengan kedatangan Yesus, ketika orang-orang akan mengikuti jalan yang telah mereka pilih dalam hidup mereka masing-masing.
Dalam Wahyu 22:11, rasul Yohanes mendapat penglihatan tentang akhir dunia. Seorang malaikat berkata: “Biarlah orang yang berbuat salah terus berbuat salah; biarkan orang yang keji terus menjadi keji; biarlah orang yang berbuat benar terus berbuat benar; dan biarlah orang suci itu tetap suci.”
Pada titik ini, mereka yang telah menolak pengaruh dan peranan Roh Kudus sepanjang hidup mereka, menjadi begitu keras kepala (alias tegar tengkuk seperti bangsa Israel yang menolak Yesus Kristus adalah Juruselamat dan Mesias yang dijanjikan bagi umat Israel), sehingga Roh Kudus harus menarik diri dari masa anugerah yang akan datang itu. Ini akan menjadi saat yang sangat sulit bagi mereka yang memilih untuk mengikuti Tuhan karena kemungkinan besar mereka akan menghadapi penganiayaan dari orang-orang yang menolak Dia. Mereka juga akan menjadi saksi atas kehancuran yang ditimbulkan oleh seluruh dunia.
Dalam Matius 24, Yesus mengatakan kepada para pengikutnya bahwa mereka akan dibenci dan bahkan dibunuh demi Dia (ayat 9). Yesus berbicara tentang “kesengsaraan besar yang belum pernah terjadi sejak awal dunia sampai sekarang” (ayat 21). Semua kegilaan ini digambarkan sebagai “ rasa sakit bersalin ” (ayat 8) oleh Yesus. Rasa sakit saat melahirkan di sini adalah perbandingan dengan rasa sakit fisik yang luar biasa yang dialami seorang ibu yang hendak melahirkan anak. Sama seperti rasa sakit yang luar biasa ini datang sebelum sukacita atas lahirnya seorang bayi, masa yang penuh gejolak ini mendahului sukacita Kedatangan-Nya yang Kedua. Rasul Yohanes juga berbicara tentang masa penganiayaan serius di mana seekor binatang (simbol dari entitas yang sangat kuat dan merusak) berusaha memaksa semua orang untuk menyembah dia (Wahyu 13:12). Selama Masa Kesusahan ini, kekuatan-kekuatan besar di bumi akan bersatu, berupaya memaksa semua orang untuk mengikuti sistem ibadah yang palsu. Mereka yang tidak taat akan menghadapi penganiayaan (Wahyu 13:11-17). Alkitab dengan jelas telah mencatatnya juga, bahwa akan terjadi suatu titik di mana wabah penyakit akan terjadi dan kejahatan akan terjadi di bumi (Wahyu 6:8) sedemikian rupa sehingga para pengikut Tuhan berseru, “ Berapa lama lagi, ya Tuhan?” (Wahyu 6:10).
Sekalipun masa ini sulit, para pengikut Tuhan tidak perlu takut. Tuhan telah berjanji untuk tidak pernah meninggalkan mereka yang berseru kepada-Nya! Yesus mengungkapkan hal ini pada akhir Amanat Agung-Nya ketika Dia berkata, “…Dan sesungguhnya Aku menyertai kamu senantiasa, bahkan sampai akhir zaman” (Matius 28:20, NKJV).
GBI Pasir Koja 39 Bandung