LIFESTYLE NOT ATMOSPHERE

Youth
Oleh: Kevin Eldiwan

Apa yang kita pikirkan pada hari-hari ini soal pujian dan penyembahan? Mungkin beberapa dari kita di sini berpikir bahwa pujian dan penyembahan hanya berfokus pada suatu tempat di mana kita bisa bersama-sama melakukan pujian dan penyembahan bersama jemaat lainnya dengan diiringi musik dan sebagainya. Oleh karena itu terkadang ketika diposisikan jemaat berpendapat ketika musiknya tidak mendukung kita tidak bisa melakukan pujian penyembahan tersebut secara nyaman. Sebaliknya ketika kita diposisikan sebagai pelayan yang melayani dibidang pujian, meskipun kita berpikir bahwa musik dan suasana harus mendukung untuk melakukan pelayanan ini, seringkali kita malah menyalahkan jemaat dengan berpendapat “wah jemaatnya diam saja, tidak merespons” dan sebagainya. Dan pada akhirnya ketika kita bergantian diposisikan sebagai pelayan dan jemaat, mindset soal pujian penyembahan ini tidak kunjung berakhir, dan akhirnya malah tidak fokus untuk melakukan pelayanan dan juga diposisi kita sebagai jemaat, sampai akhirnya saja berputar-berputar dalam mindset yang sama.

Di dalam Lukas 10:38-42, dalam kisah Maria dan Marta, Yesus mengajarkan terhadap Marta yang terlalu kuatir dan menyusahkan diri dengan berbagai perkara dan berbeda dengan Maria yang lebih memilih untuk diam dekat kaki Tuhan Yesus untuk mendengarkan firman Tuhan. Respon yang dilakukan Maria ini menunjukkan keintimannya dan lebih lagi mengenal ajaran dari Tuhan Yesus. Banyak juga kisah-kisah di Alkitab yang menunjukkan bahwa pengasingan, peristirahatan itu dapat membuat kita intim lebih lagi dengan Yesus, bahkan Yesus sendiri pun di taman Getsemani menyendiri untuk berdoa meminta pertolongan supaya cawan yang dihadapi-Nya dapat berlalu. Lalu kembali kita cek, apakah dalam pengasingan diri kita sering kita lakukan untuk bersekutu dan berdoa pada Tuhan? Kegiatan apa saja yang kita lakukan ketika kita sedang sendirian? Mari kita luangkan waktu kita ketika kita sendirian untuk berdoa, memuji dan menyembah Tuhan, melakukan komunikasi dengan diri-Nya, supaya kita diberikan petunjuk dan kekuatan dalam kehidupan sehari-hari.

Lantas apa hubungannya dengan pujian penyembahan yang dilakukan di gereja tadi? Bicara soal keadaan pujian penyembahan di gereja, ketika kita diposisikan menjadi pelayan ataupun jemaat, ketika kita sudah mengerti dan dilatih bahwa pujian penyembahan dapat dilakukan dengan keadaan ketika kita menyendiri tadi, kita tidak perlu pusing-pusing untuk mempermasalahkan posisi kita apakah kita menjadi jemaat atau menjadi pelayan. Ketika kita sudah tahu esensi penyembahan yang dapat kita latih dari kesendirian kita, kita sudah tahu betul, kita akan memberikan yang terbaik apa pun posisi kita. Dengan memberikan yang terbaik dalam posisi di mana kita ditempatkan, kita tidak perlu memandang jemaat yang tidak merespons, atau musik yang dimainkan tidak mendukung. Spirit of excellence akan mengalir sendiri ketika kita sering melatih pujian dan penyembahan dalam kesendirian. Mari kita mengoreksi pandangan kita tentang pujian penyembahan terutama dalam gereja. Apakah sikap pujian dan penyembahan itu sudah dilatih setiap harinya? Dan selanjutnya bukan bicara soal gereja saja, ketika sudah mengerti bahwa pujian dan penyembahan itu dapat dilatih setiap hari juga, itu akan berdampak di mana pun kita ditempatkan. Worship is about Lifestyle not Ambience. God Bless You all!

Check Also

Artikel Link

PRAISE AND WORSHIP (TALKSHOW)

Oleh: Tirza Raidishya Fairha Ayumi Handi Minggu, 22 September 2024 Ibadah Link Youth berkesempatan mengadakan …