GBI Pasir Koja pada bulan Juli 2015 akan membahas serangkaian tema yang penting bagi kehidupan orang percaya, dan seringkali disebut sebagai Kapita Selekta. Empat buah rangkaian tema tersebut adalah [1] Keseimbangan dalam Kehidupan; [2] Berpikir Positif, Hidup Positif; [3] Murid Kristus Bukan Pengikut; serta [4] Iman Disertai Perbuatan.
1. Keseimbangan dalam Kehidupan
Sen Sendjaya dalam bukunya Jadilah Pemimpin Demi Kristus menuliskan “seringkali prioritas kita disusun seperti berikut: (1) Allah; (2) Keluarga; (3) Pekerjaan; (4) Pelayanan Gereja; (5) Pelayanan Non-Gereja. Akibatnya, kita merasa tertarik ke berbagai area di mana tidak ada Tuhan dalam perencanaan dan keputusan kita. Prioritas yang lebih biblikal adalah (1) Allah; (2) Allah dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan seterusnya. Dengan kata lain, kita hanya memiliki sebuah fokus, yaitu Allah. Saat kita memandang Allah, segala dimensi lain dalam kehidupan ada pada perspektif yang benar. Dan kita menjadi seorang yang holistik: Kristus benar-benar menjadi Pemilik/ Tuan (Kurios) atas hidup kita”.
Lukas 10:27 menuliskan agar kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap kekuatan, dan dengan segenap akal budi kita. Kunci keseimbangan dalam kehidupan adalah dengan menempatkan Kristus sebagai fokus dalam seluruh area kehidupan kita. Ketidakseimbangan terjadi ketika fokus hidup kita bergeser dari Allah, ketika kita memiliki fokus lain maka sejatinya kehidupan kita sedang berjalan tidak seimbang. Jika hari ini kehidupan kita berjalan tidak seimbang, mari kembalikan posisi Kristus sebagai penguasa tunggal dalam hidup kita.
- Berpikir Positif, Hidup Positif
Sebagai orang percaya yang mengasihi Tuhan dengan segenap kekuatan dan akal budi, berpikir positif dan hidup positif mungkin lebih tepat kita katakan sebagai berpikir seperti Kristus dan hidup seperti Kristus. Yakni proses sepanjang kehidupan, pembaharuan budi yang terus menerus terjadi yang akan memampukan kita untuk membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
Joyce Meyer dalam tulisannya Pikiran adalah Medan Perang menyatakan bahwa “Tindakan-tindakan kita adalah akibat langsung dari pikiran-pikiran kita. Jika kita mempunyai pikiran negatif maka kita akan mempunyai kehidupan negatif. Sebaliknya, jika kita membaharui pikiran kita sesuai dengan Firman Tuhan, maka kita akan, seperti yang dijanjikan oleh Roma 12:2, membuktikan dalam pengalaman kita ‘kehendak Allah yang baik dan yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna’ bagi hidup kita”. Pada bagian lain, Joyce juga menuliskan mengenai tipu daya Iblis yang selalu berusaha menyerang pikiran “Melalui siasat yang cermat dan tipu daya yang licik, Iblis berusaha mendirikan ‘benteng-benteng’ dalam pikiran kita. Benteng adalah suatu wilayah di mana di dalamnya kita dibelenggu karena cara pemikiran tertentu.”.
Pemazmur menasihatkan agar kita merenungkan Taurat Tuhan siang dan malam, karena mengisi pikiran dengan kebenaran Firman Tuhan senantiasa adalah hal yang sangat penting. Membiarkan pikiran kita tidak terisi oleh Firman Tuhan artinya kita sedang mempersilahkan Iblis untuk memenangi peperangan di pikiran kita. Seorang yang sudah kalah dalam peperangan pikiran tidak mungkin menjadi perkasa dalam hidupnya. Semakin banyak waktu yang kita luangkan untuk membaca dan merenungkan kebenaran Firman Tuhan, semakin kita akan dimerdekakan dan menjadi orang percaya yang menjalani hidup berkemenangan.
- Murid Kristus Bukan Pengikut
Murid Kristus mengerti bahwa yang harus dipikirkan dalam hidupnya adalah mengenai Kristus, dan Kristus. Segala sesuatu yang dilakukan adalah berdasarkan pertimbangan apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna. Bagi seorang murid, kepentingan Kristus lebih penting dari kepentingan diri sendiri. Hal yang didoakan dan dipikirkan oleh seorang murid adalah mengenai kemajuan Kerajaan Allah, di manapun ia berada. Kehidupan kedua belas murid Yesus memperlihatkan bahwa seorang murid adalah pribadi yang setiap hari membangun hubungan dan mengenal-Nya secara pribadi, serta melakukan apa yang Yesus lakukan setiap hari.
Sedangkan seorang pengikut mengenal Yesus hanya sebatas sebagai pemberi berkat, fokus seorang pengikut adalah berkat-berkat-Nya dan bukan mengenal pribadi Yesus sebagai sumber berkat. Seorang pengikut harus mau mengalami pertumbuhan iman dan mengambil komitmen untuk menjadi murid Kristus. Amanat Agung Yesus adalah untuk menjadikan semua bangsa murid Yesus, bukan sekedar menjadi pengikut.
- Iman Disertai Perbuatan
Lukas 10:30-37 mengisahkan mengenai tiga orang pribadi (yaitu seorang Imam, seorang Lewi, serta seorang Samaria) yang melihat seseorang yang baru dirampok oleh penyamun dan dalam keadaan setengah mati. Seperti yang sudah kita hafal betul jalan ceritanya, kedua orang pertama yaitu sang Imam dan orang Lewi melihat kondisi orang yang setengah mati itu tapi respon mereka acuh tak acuh dan hanya lewat begitu saja. Sedangkan orang terakhir, seorang Samaria yang juga melihat orang tersebut, hatinya tergerak oleh belas kasihan dan segera menolong.
Yesus mengajarkan bahwa orang Samaria itulah yang melakukan hukum kasih terhadap sesama manusia dan yang perbuatannya patut diteladani. Kita juga bisa mengambil kesimpulan bahwa kedua orang berstatus “rohani” yang tidak mau menolong, yaitu sang Imam dan orang Lewi, tidak memiliki kasih terhadap sesama manusia dan tidak patut diteladani. Yakobus 2:17-18 menegaskan bahwa iman yang tidak disertai perbuatan adalah iman yang pada hakekatnya mati, iman orang percaya harus tampak dari hidup dan perbuatannya.
Melalui pembahasan rangkaian tema-tema penting ini selama bulan Juli 2015, mari kita semakin giat dalam pengenalan akan Yesus dan terus hidup dalam kebenaran-Nya. Tuhan Yesus memberkati.
Oleh: Pdp. Timotius Witono
GBI Pasir Koja 39 Bandung