
Penggunaan hajaran sebagai teknik pendisiplinan untuk anak-anak yang lebih besar adalah hal yang sensitif. Banyak pihak yang berwenang bahkan percaya bahwa hajaran seharusnya berakhir pada usia sekitar 10 tahun. Aturan umum kita adalah, bahwa setelah seorang anak melewati pubertas, sudah waktunya menggunakan bentuk lain pendisiplinan. Ketika anak perempuan mulai mendapatkan haid dan anak lelaki mulai tumbuh janggut, itu saatnya hajaran dihentikan.
Anda perlu berdoa mencari nasehat yang saleh dan memikirkan tentang kapan waktunya berhenti menggunakan tongkat terhadap anak tertentu. Setiap anak adalah sangat berbeda. Anak-anak lelaki dan perempuan berbeda secara radikal. Beberapa anak sensitif dan patuh, yang lainnya membutuhkan upaya dramatik yang menarik perhatian untuk dapat mengendalikan mereka. Setelah mengajar di sekolah menengah selama 5 tahun, saya bisa katakan bahwa beberapa anak di sana perlu untuk dipukul. Adalah jelas, bahwa mereka tidak menerima pendisiplinan yang mereka butuhkan semasa kanak-kanak dan seseorang perlu memiliki keberanian untuk menempatkan anak-anak ini di bawah kendali sebelum terlambat!
Jika Anda dengan efektif mengajar anak Anda atas pemberontakan terbukanya ketika dia masih muda, Anda tidak perlu menggunakan tongkat terlalu sering setelah itu. Pra-remaja dan remaja Anda akan mempunyai roh yang tunduk terhadap Anda dan seharusnya dapat dikendalikan dan pada umumnya bisa dipercaya. Satu teguran yang tegas seharusnya cukup untuk membuat mereka menyesal dan mengaku ketika mereka melanggar satu standar. Bagaimana pun, jika Anda belum pernah menghajar, usia-usia sekolah menengah pertama adalah jendela kesempatan terakhir untuk membawa anak-anak ke bawah otoritas Anda.
Untuk menghukum remaja-remaja, saya yakin “tongkat konsekuensi” adalah bentuk yang paling efektif dari disiplin. Biarkan anak Anda berhadapan dengan konsekuensi dari pemberontakan dan sikap keras kepalanya. Jangan menyelamatkan dia dari hal-hal tersebut.
Contoh, jika anak Anda mendapatkan masalah di sekolah, jangan salahkan guru-guru dan mendatangi sekolah untuk “memperbaiki” keadaan bagi anak Anda. Biarkan dia menderita konsekuensi penuh atas apa yang ditetapkan gurunya. Jika anak Anda mencuri, izinkan yang berwenang untuk menghukum anak Anda secara penuh, jangan melindungi dia. Jangan membuat alasan-alasan untuk dia. Biarkan dia tahu Anda mengasihi dia dan selamanya mengasihi dia, tetapi JANGAN memberikan jaminan tebusan buat dia. Izinkan dia untuk mengalami konsekuensi total atas dosanya
Ini adalah bentuk pendisiplinan yang paling menyakitkan untuk orangtua. Hati kita tersayat melihat anak-anak kita menderita. Tetapi Ibu, jika Anda benar-benar mengasihi anak Anda lebih dari diri sendiri, Anda akan memberikan Allah izin penuh untuk menyelesaikan program pelatihan-Nya bagi anak Anda.
Saya mengenal seorang lelaki muda yang orangtuanya menebus dengan jaminan agar dia keluar dari tiap keadaan yang sulit. Mereka melakukan ini dengan mengatasnamakan kasih, tetapi telah menghancurkan hidupnya, dan hidup mereka. Dia keluar dari penjara pindah ke tahanan rumah, pindah ke program 12-langkah pemulihan dan kembali ke penjara, berputar dalam satu lingkaran yang tak pernah berakhir. Ibu dan ayahnya masih belum sadar, bahwa MEREKAlah yang harus disalahkan! Mereka telah mengizinkan pola hidupnya yang menghancurkan dengan sikap lunak mereka yang memberikan kelonggaran daripada mempersiapkan dia dengan menetapkan batasan-batasan yang sepantasnya dan tegas. Ibu, saya mohon dengan sangat. Biarkan anak Anda menanggung akibat-akibat dari dosanya. Jangan mengambil jalannya Allah. Mundurlah dan biarkan Allah melakukan semua yang Dia telah rencanakan untuk membawa anak Anda kepada penundukkan penuh.
Ingat, Anda adalah ibunya. Dia adalah anak. Dia butuh bimbingan Anda. Inilah yang membuat dia merasa aman. Dia harus mengetahui di mana batasan-batasannya!
(Saya ingin bisa menghibur Anda saat ini. Saya tahu itu sangat sulit tetapi bertahanlah disitu, Anda telah melakukan yang luar biasa! Seorang dewasa muda yang saleh yang dihasilkan dari proses ini akan membayar semua cucuran keringat dan air mata Anda atas anak ini!)
Besok kita akan menyelesaikan pelajaran dari dua tahap pendisiplinan terakhir untuk anak-anak kita. Saya tahu pelajaran hari ini sangat sulit untuk beberapa diantara Anda. Itu yang saya alami 20 tahun yang lalu.
Hati Yang Diubahkan
Ketika Danielle berumur 2, kami sangat bebas dengan jalan pemikiran dan teologia kami dan kami telah memutuskan, bahwa kami tidak akan menghajar anak-anak kami. Danielle semakin menjadi tidak tahu aturan sementara kita mencoba melayani dia.
Ibu saya mempunyai keberanian untuk menegur saya tentang cara-cara saya mengasihi anak. Walau pun saya suka membela diri, pesan itu menyentakkan saya. Saya dengan hati-hati mulai membaca apa yang Alkitab katakan tentang tongkat dan pendisiplinan secara umum. Ayat yang membuat saya terpaku adalah Amsal 19:18: Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi jangan engkau menginginkan kematiannya.
Saya tidak menginginkan kematian bayi saya yang berharga ini! Saya tidak tahu apakah itu berarti kematian secara roh, kematian emosional, atau kematian fisik, tetapi saya tidak menginginkan salah satu dari itu terjadi kepada si kecil tersayang.
Apa yang sekarang saya yakini adalah bahwa kemungkinan itu berarti ketiga jenis kematian itu. Menurut saya, anak-anak yang orang tuanya tidak cukup mengasihi mereka untuk mendisiplinkan mereka adalah anak-anak yang paling menyedihkan di bumi. Mereka sedang menuju jalan kehancuran.
Maukah Anda berhenti sekarang dan berjanji pada diri sendiri untuk mengizinkan Allah memakai Anda sebagai alatnya untuk mendisiplin anak Anda? Maukah Anda bekerja sama dengan dia untuk menghasilkan keturunan yang saleh?
“Tuhan, saya ingin konsisten dengan pendisiplinan saya. Bapa, disiplinkan saya sehingga saya bisa mendisiplin anak saya sesuai dengan firman-Mu. Saya berdoa di dalam nama Yesus. Amin.”
Kiat-kiat untuk Ibu
Anda dan suami Anda seharusnya membuat satu daftar perilaku yang tidak dapat diterima dalam rumah Anda. Itu akan membantu Anda untuk memutuskan kapan pendisiplinan diperlukan. Pikirkan melalui daftar Anda dan putuskan apa ukuran pendisiplinan yang diperlukan untuk digunakan jika anak Anda memilih untuk memberontak.
Di sini ada beberapa perilaku yang bisa anda pertimbangkan:
· Menjawab “Tidak” ketika diminta untuk melakukan sesuatu.
· Terus bermain ketika diminta untuk melakukan sesuatu .
· “Tidak mau”.
· Memalingkan muka.
· Marah besar/mengamuk.
· Dengan menantang terus berjalan ketika Anda sedang berbicara.
· Mengabaikan Anda.
· Memukul Anda.
· Dengan sopan mendengarkan tetapi gagal untuk menaati.
· Melakukan yang berlawanan dengan apa yang dimintakan.
· Mengendalikan keluarga.
· Menghindari penerimaan rasa bersalah.
· Kambing hitam.
· Berdebat.
· Menuntut menjadi pusat perhatian keluarga.
· Mendikte apa yang orang tua bisa lakukan dan yang tidak.
· Menyuruh orang.
· Aksi diam (mogok bicara sebagai aksi berontak).
· Menunda untuk taat hingga hampir terkena masalah.
GBI Pasir Koja 39 Bandung