
Mazmur 103:1-5 berbentuk solilokui yaitu sebuah pidato panjang yang disajikan oleh satu karakter untuk dirinya sendiri sebagai ekspresi dari pikiran batinnya untuk dirinya sendiri, di mana di sini, Daud sang pemazmur menggugah diri dan jiwanya sendiri untuk memuji Allah atas kebaikan-Nya kepada Daud secara khusus (ay. 3-5), juga kepada jemaat secara umum (ay. 6-18).
Manusia kerap lupa, bahwa sejatinya sebagai orang yang telah diselamatkan dan mengalami kasih karunia Allah dalam diri Kristus Yesus, maka kita harus memuji Tuhan. Hal yang sama pun dialami oleh Daud.
Itulah sebabnya, di dua ayat di awal Mazmur 103, Daud berseru kepada dirinya sendiri untuk melakukan 2 hal:
1.PUJILAH TUHAN!
Goncangan Pandemi Covid-19 di seluruh dunia masih sangat terasa akibatnya hingga saat ini. Dalam waktu yang begitu singkat dan tidak terduga keadaan begitu berubah. Banyak orang seketika kehilangan pekerjaan, usaha, harta bahkan anggota keluarga yang mereka kasihi. Dunia memang akan selalu bergoncang dan tidak akan pernah ada yang abadi, akan tetapi ada SATU PRIBADI yang tidak pernah berubah, Tuhan Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya (Ibrani 13:8). Karenanya kita dapat tetap, bahkan harus tetap memuji Allah di keadaan apa pun yang kita hadapi.
2.JANGAN LUPAKAN SEGALA KEBAIKAN-NYA!
Masalah dan persoalan yang setiap hari kita hadapi membuat kita lupa akan kasih dan kebaikan Tuhan. Aneh memang, mengapa kita sulit melupakan perkataan orang yang menyakiti hati kita dan gampang sekali melupakan perkataan firman Tuhan yang memulihkan dan menghidupkan kita. Kita punya ingatan yang panjang akan kesedihan, kemalangan, persoalan dan beban hidup yang kita alami, akan tetapi segera lupa akan semua kebaikan, pertolongan, pemeliharaan, jalan keluar dan kasih-Nya yang sempurna atas kita, yang Bapa telah berikan dan lakukan di sepanjang hidup kita.
Mazmur 103:3-5 mengingatkan kita akan kebaikan Tuhan yang telah Ia nyatakan dalam hidup kita:
a. Ia mengampuni segala kesalahan kita.
Bagaimana mungkin kita melupakan, bahwa sejatinya kita adalah manusia berdosa yang memerlukan kasih karunia Tuhan agar tidak binasa? Pengampunan adalah karunia pertama dan paling penting yang kita terima dari Allah. Melalui pengampunan itu kita dipulihkan kepada Allah dan ditebus dari kebinasaan. Tidak ada seorang pun yang dapat selamat dengan usahanya sendiri dan tidak ada seorang pun yang suci sehingga tidak memerlukan pengampunan dosa dari Tuhan. Sadarilah, bahwa kasih karunia Tuhan lah yang melayakkan kita untuk memanggil-Nya Abba ya Bapa. Karenanya, apa pun keadaan kita, pujilah Tuhan!
b. Ia menyembuhkan segala penyakit kita.
Penyakit di sini berbicara tentang sakit tubuh, termasuk juga penyakit jiwa kita. Penyakit jiwa yang dimaksudkan adalah: Hawa nafsu, iri hati, keserakahan, luka batin, trauma, gambar diri yang rusak, kemarahan, ketakutan, kepahitan, depresi dan masih banyak penyakit jiwa yang dapat merusak rancangan Allah yang sempurna atas hidup kita, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepada kita hari depan yang penuh harapan.
Datanglah kepada Tuhan dengan mata yang tertuju kepada Allah dan kembali alami kasih-Nya yang memulihkan hati dan jiwa kita!
c. Dia yang menebus hidup kita dari lobang kubur.
Kejatuhan Adam ke dalam dosa mengakibatkan umat manusia mengalami dosa, penyakit, dan kematian secara universal. Mazmur ini memberikan penghiburan di tengah ancaman kematian bagi semua orang, bahwa bagi orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, hidupnya tidak berakhir di lobang kubur, akan tetapi ada pengharapan masa depan, di mana pada waktunya kita akan memasuki langit baru dan bumi baru dalam kekekalan bersama Tuhan.
d. Memahkotai kita dengan kasih setia dan rahmat.
Pemazmur menggambarkannya seperti seorang raja yang memberikan kuasa dan kemuliaan kerajaannya kepada anaknya, seperti itulah kita sesungguhnya dimahkotai Tuhan dengan segala berkat Kerajaan Allah. Ingat selalu, bahwa kita adalah anak-anak Allah, ahli waris-Nya yang berhak menerima janji-janji Allah. Menaikkan pujian sesungguhnya adalah sebuah tindakan iman yang menuntun kita kepada kebenaran firman Tuhan, kepada pribadi Allah, yang akan memampukan kita memercayai Allah dan mengalami penggenapan janji-janji-Nya.
e.Memuaskan hidup kita dengan yang baik, sehingga kita awet muda seperti burung rajawali. (BIS).
Apakah yang dimaksudkan dengan awet muda seperti rajawali? Rajawali atau elang merupakan jenis unggas yang mempunyai umur paling panjang di dunia. Umurnya dapat mencapai 70 tahun. Tetapi untuk mencapai umur sepanjang itu, seekor rajawali harus membuat suatu keputusan yang sangat berat di usia yang ke 40. Di usia tersebut cakarnya mulai menua, paruhnya menjadi panjang dan membengkok hingga hampir menyentuh dadanya. Sayapnya menjadi sangat berat karena bulunya telah tumbuh lebat dan tebal, sehingga sangat menyulitkan waktu terbang. Pada saat itu, rajawali hanya mempunyai dua pilihan: Menunggu kematian, atau mengalami suatu proses transformasi yang sangat menyakitkan selama 150 hari. Banyak rajawali mati di proses ini karena mereka ada di posisi yang sangat rentan akan bahaya. Mereka tidak bisa mencari makan dan melarikan diri dari pemangsa. Biasanya mereka mendapat makanan dari rajawali tua yang sudah melewati proses molting ini (ini pun sebuah subyek bahasan yang tidak kalah menarik untuk dibahas).
Untuk melakukan transformasi itu, rajawali harus berusaha keras terbang ke atas puncak gunung untuk tinggal di sana selama proses transformasi berlangsung. Pertama-tama, ia harus mematukkan paruhnya pada batu karang sampai paruh tersebut terlepas dari mulutnya, kemudian berdiam beberapa lama menunggu tumbuhnya paruh baru. Dengan paruh yang baru tumbuh itu, ia harus mencabut satu persatu cakar-cakarnya dan ketika cakar yang baru sudah tumbuh, ia akan mencabut bulu badannya satu demi satu. Suatu proses yang panjang dan menyakitkan. Lima bulan kemudian, bulu-bulu rajawali yang baru sudah tumbuh. Ia pun mulai dapat terbang kembali.
Anak-anak Tuhan yang telah melewati proses di mana ia diijinkan Tuhan melewati lembah kelam dan mengijinkan dirinya diperbarui di gunung Tuhan, akan dapat terbang tinggi melintasi badai hidup persoalan dengan kekuatan baru. Orang Kristen yang seperti ini akan menjadi saksi Tuhan yang efektif karena ia dapat menolong, menguatkan dan menghiburkan mereka yang sedang melewati persoalan yang sama. Mereka akan memuji Tuhan tidak lagi dengan bibir mereka, akan tetapi benar-benar menjadi pemuji yang sejati karena mereka mengenal Allah bukan lagi dari apa kata orang, tetapi mata mereka sendiri telah melihat Allah.
Seperti Abraham yang berkata, di atas gunung Tuhan disediakan, waktu ia mengalami ujian iman. Kita pun dapat belajar, bahwa Allah selalu dapat dipercayai untuk menyediakan kehadiran, kasih karunia, dan segala yang diperlukan bagi setiap situasi yang sesuai dengan kehendak-Nya. Dia mungkin membiarkan hal-hal terjadi dalam kehidupan kita yang tampaknya menghancurkan harapan dan cita-cita kita, akan tetapi setelah iman teruji, dan hati kita dimurnikan, maka Allah pasti meneguhkan, menguatkan, menegakkan, dan memberikan upah kepada orang percaya dan mengandalkan-Nya.
Hari ini, apa pun keadaan kita, percayalah, bahwa Ia tidak pernah merancangkan hal-hal yang buruk atas hidup kita dan Ia bukan Bapa yang menikmati penderitaan kita, justru sebaliknya Ia Bapa yang telah melakukan kebaikan yang sempurna bagi umat tebusan-Nya. Oleh sebab itu, apa pun keadaan kita hari ini, tetaplah memuji-muji Dia, agar pandangan kita beralih dari gunung kesusahan kepada Allah Maha Kuasa yang sanggup memindahkan gunung.
Pujilah Dia dengan nyanyian, dengan tarian, dengan musik, dengan sorak sorai dan tepuk tangan. Pujilah Tuhan dengan seluruh hidup dan lewat setiap hembusan napas kita. Haleluya!
GBI Pasir Koja 39 Bandung