“Kita tidak akan pernah puas sampai kita mengerjakan panggilan kita yang sesungguhnya.”
Panggilan kita yang sesungguhnya berasal dari Tuhan, dimana Tuhan menempatkan kita dan membentuk masing – masing kita untuk pekerjaan-Nya yang mulia. Berbahagialah orang yang mengenali pasti apa yang Tuhan taruhkan dalam hatinya untuk dikerjakan semasa hidupnya, terutama bila sejak masa muda. “Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda. Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu, apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang.”
Tidak mengenali tujuan hidup atau panggilan sejak dini, mengakibatkan kita mengalami proses yang tetap mengarahkan kita kembali pada panggilan yang Tuhan tetapkan, seperti Yunus. Kisah Yunus yang lari dari panggilannya untuk ke Niniwe merupakan contoh yang sangat jelas, dimana seorang yang seharusnya membawa kabar pertobatan bagi kota yang besar dan megah malah harus mengalami proses dimana ia tidak diinginkan dalam sebuah kapal karena membawa bencana, dibuang ke laut, dan tinggal dalam perut ikan besar selama 3 hari. Butuh proses panjang untuk menyadarkan Yunus kembali ke panggilannya.
Untuk mengetahui panggilan yang Tuhan tetapkan memang tidak selalu mudah, bahkan bila sudah mengetahui panggilan yang Tuhan tetapkan pun, untuk menuruti panggilan tersebut tidaklah mudah. Beberapa tokoh Alkitab mendapatkan panggilan khusus menjadi nabi Allah. Musa yang dengan jelas mendengar suara Allah , berkelit dari panggilan dengan berbagai alasan, Gideon meragukan bahwa dirinyalah yang dipilih Allah untuk membebaskan bangsa Israel pada saat itu. Nabi-nabi yang dipanggil oleh Allah ini seperti manusia pada umumnya, tetapi Tuhan lah yang mempersiapkan dan memanggil mereka untuk tujuan besar-Nya. Biarlah kita seperti Yesaya yang siap menyatakan: “Ini aku, utuslah aku.”
Ketika Tuhan memanggil kita, ada banyak tantangan yang akan dihadapi, mungkin dikucilkan, dibenci, merasa sendirian, dilanda ketidakpastian dalam keuangan, dan sebagainya. Syukur kepada Allah, tantangan-tantangan ini tidak akan dihadapi sendirian karena ada janji Allah yang tak pernah lalai ditepatinya. Tak perlu takut dan khawatir bila kita menjalani panggilan Allah dalam hidup kita, justru kita perlu takut dan khawatir bila kita keluar jalur panggilan Allah itu.
Sebuah kereta yang dikenal kereta Maglev (Magnetic Leviation) merupakan salah satu kereta tercepat di dunia karena memanfaatkan prinsip super-conductor pada rel kereta yang dirancang khusus memiliki temperatur yang sangat rendah dibandingkan temperatur lingkungan. Hal ini membuat kereta sedikit melayang dan meminimalisir gaya gesekan antara roda kereta dengan rel sehingga kereta menjadi sangat cepat. Kereta ini disebut kereta tercepat hanya jika kereta ini berada dalam rel khusus tersebut, namun bila kereta ini keluar dari jalur khusus yang dibangun untuknya maka kecepatannya berkurang jauh bahkan dapat ketinggalan dibandingkan dengan kereta uap jaman dahulu. Begitu pula dengan kehidupan orang Kristen yang memiliki jalur hebat yang telah Tuhan persiapkan, kita akan meluncur paling cepat ketika berada pada panggilan Tuhan, namun akan bergerak sangat lambat bila kita keluar dari panggilan kita.
Oleh: Ivan Stefanus
GBI Pasir Koja 39 Bandung