
Apa itu pemuridan? Pemuridan adalah suatu proses dimana seseorang mengajarkan isi dari firman Tuhan kepada orang lain atau “muridnya” dan membagi kehidupannya. Dalam proses pemuridan ini, kita tidak hanya bernyanyi, berdoa, dan mempelajari firman Tuhan bersama tapi kita juga membangun hubungan dengan bapa rohani atau pengajar dan bagi kita yang telah memuridkan, dengan anak-anak rohani kita.
Orang-orang yang tergabung dalam kelompok pemuridan yang sama biasanya memiliki hubungan yang dekat dengan satu sama lain, karena dalam kelompok inilah mereka dapat menceritakan permasalahan mereka dan memperoleh penghiburan serta nasihat. Tetapi, seperti hubungan-hubungan dekat pada umumnya, hubungan diantara bapa rohani dan anak-anaknya tidak dapat dipastikan selalu berjalan mulus. Kadang ada masalah dan konflik yang terjadi akibat miskomunikasi, kekecewaan, atau hal lainnya. Oleh karena itu, kita perlu membangun hubungan yang kuat dalam kasih agar kita dapat mengatasi atau bahkan menghindari konflik yang berkepanjangan.
Apa sebenarnya kasih itu? Menurut Firman Tuhan dalam 1 Korintus 13:4, kasih memiliki beberapa karakteristik yang dapat diterapkan dalam hubungan pemuridan. Pertama-tama, kasih itu sabar. Kita perlu belajar untuk bersikap sabar terhadap bapa atau anak rohani kita ketika mereka melakukan kesalahan-kesalahan kecil. Belajar untuk tidak membesar-besarkan kesalahan-kesalahan kecil karena kadang-kadang, masalah yang besar biasanya hanya timbul dari sesuatu yang kecil yang terlalu dibesar-besarkan. Kedua, kasih itu murah hati. Lakukan investasi dalam hubungan pemuridan, bukan berarti investasi tersebut hanya berupa materi, tapi juga investasi waktu dan tenaga. Luangkan waktu untuk bertemu, bercerita, dan berikan waktu mendengarkan cerita bapa/anak rohani. Hubungan yang baik dapat dibangun melalui komunikasi yang sering dilakukan. Ketiga, kasih tidak melakukan yang tidak sopan. Kesopanan dapat ditunjukkan dengan cara saling menghargai satu sama lain dengan cara menjaga perkataan dan perilaku.
Terakhir, kasih tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Mungkin dalam hubungan pemuridan yang kita jalani kita mengalami beberapa luka hati dalam prosesnya. Luka yang dipendam dapat menghambat komunikasi dan merusak hubungan pemuridan ini. Berhenti memendam luka dan dendam karena kedua hal itu tidak menghasilkan sesuatu yang baik. Belajarlah untuk melepaskan dan mengampuni. Salah satu cara yang dapat dilakukan ketika kita merasa sangat sulit untuk mengampuni orang yang begitu dekat dengan kita adalah melihat melampaui kesalahan yang dilakukannya. Kita belajar untuk memikirkan alasan atau penyebab dibalik kesalahan tersebut. Mungkin saja bapa/anak rohani kita tidak sengaja melukai kita karena dia sendiri pernah dilukai sebelumnya. Dengan begitu, kita belajar untuk menunjukkan belas kasihan pada orang yang telah melukai kita, sama seperti Yesus yang memilih untuk mengampuni kita padahal kita sudah menyakiti hati-Nya dengan perbuatan-perbuatan kita. Kita juga dapat berbicara langsung dengan orang yang melukai kita untuk menyampaikan apa yang kita rasakan dengan tujuan untuk memulihkan hubungan. Minta Roh Kudus untuk membimbing kita supaya maksud kita tersampaikan dan tidak menyebabkan lebih banyak luka diantara kedua belah pihak.
Hari ini, mari kita sama-sama belajar untuk menunjukkan kasih kepada bapa dan anak-anak rohani yang Tuhan sudah beri dan percayakan.
GBI Pasir Koja 39 Bandung