Memuji dan menyembah Tuhan ialah ultimate calling untuk segala makhluk, seperti dikatakan dalam Mazmur 150:6 ‘Biarlah segala yang bernafas memuji Tuhan! Haleluya!’. Manusia diciptakan untuk memuliakan Tuhan, namun ketika manusia jatuh dalam dosa, manusia mulai menyimpang dari panggilannya dan beralih kepada kepentingan ego pribadi.
Konsep memuji dan menyembah Tuhan di masa kini seringkali menyempit, yakni hanya pada konsep menyanyi dengan kata-kata pujian saja, padahal memuji dan menyembah Tuhan bukan mengacu pada sebuah kegiatan, namun sikap hati. Dalam berbagai ayat di Alkitab tertulis bahwa sikap hati-lah yang Allah inginkan dan bukan sebuah ritual atau rutinitas. Memang menjadi sebuah tantangan di masa kini bagaimana kita menjalankan ibadah yang lahir dari hati, bukan karena tuntutan sosial, rutinitas, atau keterpaksaan.
Sekarang pertanyaannya ialah bagaimana kita dapat memuji Allah dengan sikap hati kita yang tulus?. Jawabannya ialah dengan merasakan kasih dan hati Tuhan nyata dalam hidup kita. Kasih karunia dan isi hati Tuhan akan nampak paling jelas kepada kita bila kita berada dekat dengan jiwa-jiwa di mana Allah mengutus kita.
Kisah Daniel, Hananya, Misael, dan Azarya merupakan sebuah cerita hidup anak-anak muda dalam memuji dan menyembah Tuhan dengan sikap hati. Mereka mengasihi Tuhan dan percaya sepenuhnya kepada Allah bahkan dalam kondisi yang sulit sekalipun sehingga mereka dapat melihat kemuliaan Allah dinyatakan dan melalui mereka Allah dimuliakan. Mereka menghormati Allah sejak masa muda mereka dan tidak lalai menunaikan ibadah mereka dalam berdoa dan berpuasa.
Pujian dan penyembahan Daniel dan rekannya memberi dampak kepada raja-raja dan bangsa-bangsa. Tentu kita pun ingin pujian dan penyembahan kita kepada Tuhan memberikan dampak dan membawa sukacita serta kemuliaan bagi Allah, oleh karena itu muliakanlah Allah dengan sikap hati yang benar agar kemuliaan Allah dapat dinyatakan melalui kehidupan kita.
Oleh: Ivan Stefanus
GBI Pasir Koja 39 Bandung