Sebuah film Hollywood terkenal berjudul Mission Impossible, film yang menggambarkan kehidupan seorang agen rahasia yang menjalankan misinya. Dalam film, digambarkan sebuah misi yang mustahil untuk dilakukan. Dengan berbagai kondisi yang menegangkan serta tantangan yang harus dilalui, akhirnya misi tersebut berhasil diselesaikan, berbeda dengan judul dari film ini.
Seperti film tersebut, seringkali pola pikir kita dalam memandang misi penjangkauan merupakan suatu hal yang mustahil kita lakukan sebagai jemaat. “Pergi misi itu bagiannya para pendeta”, demikian seringkali kita berpikir. Namun, cara pandang ini tidak sesuai dengan apa yang disampaikan Yesus. “Pergi dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku”, demikianlah perkataan Yesus kepada murid-murid-Nya. Kata-kata ini diucapkan kepada semua murid Yesus saat Ia akan naik ke sorga dan kini, kata-kata tersebut berlaku bagi semua yang merupakan murid Kristus, termasuk kita.
Pola pikir bahwa misi merupakan hal yang mustahil bagi jemaat seringkali berangkat dari ketidakpercayaan kita akan kemampuan kita dalam menyampaikan kabar baik ini. Kabar baiknya ialah bahwa kita tidak perlu percaya dan mengandalkan kemampuan kita, karena Allah berjanji akan menyertai kita dan Roh Kuduslah yang bekerja melalui kita. Bagian yang perlu kita lakukan ialah memulainya dan percaya akan karya Roh Kudus.
Menyampaikan sebuah kabar baik merupakan hal yang seharusnya menyenangkan bukan? Seperti menyampaikan berita kelahiran seorang anak dalam suatu keluarga atau berita kenaikkan gaji atau bahkan hal-hal yang sederhana seperti berita tentang kemenangan klub sepakbola favorit kita. Ketika kita memandang Injil sebagai kabar baik bagi kita dengan segala emosi kegembiraan yang meluap darinya dan bukan hanya sebagai sebuah kisah yang dingin dengan segala sejarahnya atau sebuah cerita lama yang sudah bosan untuk didengarkan, maka Injil akan dengan sendirinya mengalir melalui kehidupan kita, bahkan kita tidak akan tahan untuk tidak memberitakannya.
Sebagai seorang muda, saya pernah mendengarkan kisah seorang sahabat yang sedang jatuh cinta. Ketika sedang berkumpul dengan kawan-kawan lainnya dan dimulai pembicaraan, dia mulai menceritakan ‘kabar baik’ yang dia alami tanpa diminta. Dengan penuh kegembiraan dan semangat, bahkan kawan-kawan yang berkumpul dapat turut merasakan kegembiraannya itu. Sayang sekali, Injil terkadang diceritakan dengan cara berbeda, dimana semangat dan kegembiraan itu tidak dirasakan oleh orang yang mendengarnya bahkan orang yang menceritakannya. Ketika Injil turun nilainya hanya menjadi sebuah cerita mengenai sebuah kisah lampau, maka Injil tersebut kehilangan esensinya.
Semangat yang hilang membuat Injil menjadi berat dan mustahil bagi sebagian orang untuk melakukannya. Padahal dahulu, Injil merupakan sebuah kabar ‘panas’ yang mengalir secara alami seperti kabar sukacita dari kelahiran seorang anak yang dinantikan, yang disampaikan kepada tetangga, rekan terdekat, orang tua dan saudara-saudara. Untuk mengubah pola pikir bahwa Mission Impossible menjadi Mission is Possible perlu perubahan pola pikir, tapi tidak cukup sampai disitu, melainkan setiap kita perlu kembali meresapi dan mengalami kuasa, sukacita, dan keindahan dari Injil itu sendiri. Karena tanpa kita mengalami kuasa Injil itu dalam hidup kita, lantas apa yang akan kita ceritakan?
Oleh: Ivan Stefanus
GBI Pasir Koja 39 Bandung