Mewariskan Iman Kristen dalam Keluarga dari Generasi ke Generasi

Sebagai orang yang percaya Tuhan Yesus, salah satu perhatian terbesar kita adalah keluarga. Selama lebih dari satu abad terakhir ini, tatanan dan stabilitas keluarga sudah berubah drastis. Tantangan-tantangan yang kita hadapi ketika masih kanak-kanak kini sudah berubah. Kita harus menghadapi semua yang disodorkan masyarakat kepada anak-anak kita yang membuat mereka terhasut untuk menjauhi keluarga dan gereja?

Mendidik dan mempersiapkan anak-anak yang sudah Tuhan percayakan adalah tugas penting orang tua (Ulangan 6:4-9; Mazmur 127:3-5; Amsal 1:8; 3:12; 6:20; 13:24; Efesus 6:4 dan ayat-ayat lain). Dalam Hakim-Hakim 2:10, menunjukkan kisah yang sangat menyedihkan yaitu generasi berikutnya menjadi generasi yang tidak mengenal Allah setelah mereka masuk dalam tanah perjanjian.

Contoh lain, yaitu keluarga imam Eli (1 Samuel 2:11-36). Imam Eli gagal mempersiapkan anak-anaknya, Hofni dan Pinehas. Bayangkan bila generasi penerus kita rusak seperti anak-anak Imam Eli! Kita sebagai keluarga Kristen, sudah harus mempersiapkan generasi penerus kita dengan baik..

Di sisi lain, Alkitab memberikan contoh keluarga yang berhasil mewariskan iman pada generasi berikutnya. Abraham, Bapa orang percaya mewariskan imannya kepada generasi berikutnya Ishak, lalu Ishak mewariskan imannya kepada anaknya Yakub dan Yakub kepada anak-anaknya.  Kemudian dalam 2 Timotius 1:5, menyatakan bahwa Iman Timotius hidup karena warisan dari ibunya Eunike dan neneknya Lois.

Sebagai orang tua, tentunya kita menginginkan anak-anak kita berhasil dalam iman dan kehidupannya. Pertanyaannya adalah apa yang harus kita lakukan sebagai orang tua agar dapat meneruskan iman kita kepada generasi berikutnya?:

  1. Mengajarkan Firman Tuhan

Ulangan 6:4-9 menegaskan bahwa orang tua harus mengajarkan firman Tuhan kepada anak-anaknya. . Sangat penting untuk mengajarkan firman Tuhan secara dini pada generasi berikutnya secara baik dan benar serta berulang-ulang karena firman Tuhan itulah yang menuntun, menerangi dan menjaga  kehidupannya. “FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” (Maz. 119:105). “ Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai firmanMu.” (Maz. 119:9)

  1. Menerapkan disiplin dalam keluarga

Disiplin dalam keluarga sangat penting dalam mendidik dan mempersiapkan generasi berikutnya. Disiplin adalah perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang dipercaya, juga dalam melakukan pekerjaan tertentu yang menjadi tanggung jawabnya. Ketika orang tua membiasakan anak dengan kedisiplinan, maka saat besar anak akan tertanam tetap seperti itu dan jadi lebih terkontrol. Disiplin dalam keluarga harus didasarkan pada firman Tuhan, dijalankan dengan kasih dan kebenaran.

  1. Menjadi teladan bagi anak-anak

Ketika rasul Paulus menasihati Timotius, anak rohaninya dalam iman, (II Timotius 3:10-11). Kata kuncinya adalah mengikuti. Timotius mengikuti jejak Paulus karena ia melihat otentisitas Paulus, ia mendengarkan ajarannya, ia menyaksikan sikap-sikap Paulus yang seperti Kristus serta respons Paulus yang positif terhadap penderitaan dan komitmennya yang teguh kepada Tuhan.

Untuk mewariskan teladan semacam itu kita harus menjadi orang yang konsisten. Kehidupan Kristen bukanlah sesuatu yang kita kenakan ketika di depan umum dan kemudian kita lepaskan ketika sedang berada di rumah. Allah menghendaki kita terus bertumbuh dalam kedewasaan rohani dan integritas (I Petrus 2:1-2). Ketika anak-anak kita melihat kasih kita kepada Tuhan yang kita tunjukkan melalui ketaatan terhadap perintah-perintah-Nya, maka mereka akan mengadopsi sikap dan tindakan kita juga.

  1. Memberikan waktu untuk anak-anak

Waktu adalah hal yang berharga bagi anak-anak kita, khususnya anak-anak kita yang masih kecil. ketika kita menyediakan waktu untuk anak-anak artinya kita memberikan yang berharga baginya. Memberikan waktu bersama  anak-anak sangat penting untuk mempersiapkan generasi yang akan datang. Kebersamaan kita dengan anak-anak untuk membangun relasi yang akrab, memperhatikan dari dekat pertumbuhan mental dan kerohanian anak-anak, menemukan dan menolong anak-anak bertumbuh dewasa dalam pergumulan mereka yang kompleks, memberi kesempatan membagikan panggilan Tuhan dan pelayanan orang tua serta visi, misi dan pengajaran firman Tuhan.

Wahai orang tua wariskanlah iman Kristiani pada generasi penerus kita sehingga nama Tuhan semakin dimuliakan dan diagungkan melalui keluarga kita. Amin.

Oleh: Hokie Wijaya

Check Also

Artikel Utama

BERSAKSI ITU MENYENANGKAN

Oleh: Pdt. Dr. A.L. Jantje Haans 2 Timotius 4:2, 8Menginjil itu tidak mudah. Namun, menginjil/bersaksi …