
Sebuah kutipan mengatakan bahwa penyesalan selalu datang terlambat. Kutipan ini secara implisit mengajak kita untuk lebih bijak dalam mengambil keputusan terhadap berbagai pilihan agar kelak tidak menyesal di kemudian hari. Masalahnya, apakah ketika kita mengambil keputusan-keputusan ini setiap harinya kita melibatkan Roh Kudus?
Masa muda, masa dimana banyak keinginan yang ingin diraih, masa pengejaran mimpi, panggilan, dan cita-cita. Tujuan besar dicapai melalui serangkaian milestones yang kecil dan ini merupakan keputusan-keputusan sederhana di setiap harinya. Misalnya apakah kita akan menggunakan waktu untuk belajar atau main game? Akankah kita menggunakan waktu dengan bijak?
Seiring berjalannya waktu, pilihan-pilihan yang muncul dalam hidup kita kian sukar. Ketika sekolah, waktu luang dapat digunakan dengan pilihan antara main dan belajar, ketika kuliah pilihannya mencicil tugas atau ikut aktivitas organisasi kemahasiswaan atau ikut seminar, ketika bekerja/bisnis pilihannya mengembangkan diri dengan pelatihan atau bersosialisasi untuk mengembangkan relasi atau berkumpul dengan keluarga besar. Semakin kita bertumbuh dewasa, setiap pilihan terlihat baik sehingga sulit untuk memutuskan, namun Roh Kudus tahu yang terbaik buat kita. Oleh karena itu, kita perlu melibatkan Roh Kudus dalam mengambil keputusan.
Kunci melibatkan Roh Kudus dalam keputusan kita ialah peka dan taat. Untuk dapat peka perlu melatih diri. Dalam Perjanjian Baru sering ditulis, “siapa bertelinga hendaklah ia mendengar.” Yang dimaksudkan disini ialah “listen to understand not hear to know.” Ketika Roh Kudus menasihati atau mengingatkan kita, perhatikan dan mengerti apa yang Ia maksudkan. Bila kita telah mengerti, langkah selanjutnya ialah taat. Banyak orang yang tidak bisa peka mendengar suara Roh Kudus dan taat. Seringkali kita lebih memilih kedangingan kita daripada taat kepada Roh.
Roma 8:13 “Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.”
Berbicara tentang “disiplin”. Disiplin merupakan tindakan yang secara konsisten mengejar standar yang telah ditentukan, dan dalam perkara disiplin rohani, standar yang digunakan ialah standar Kristus. Bila sejak masa muda kita memiliki disiplin rohani, kelak tanpa disadari kita akan menjadi tentara Kristus yang telah siap pergi ke medan pertempuran. Oleh karena itu latihlah diri kita beribadah dengan disiplin, mengikuti pimpinan Roh Kudus dalam kehidupan kita sehari-hari.
Oleh: Ivan Stefanus
GBI Pasir Koja 39 Bandung