Tembok Yerikho

Yosua 6:1-27.

Yerikho adalah kota benteng dengan luas sekitar 4 ha (40.000 m2) memiliki 2 lapisan tembok yang tebal , tetapi bagaimana akhirnya tembok yang tebal dan tertutup rapat itu bisa diruntuhkan? Tembok Yerikho runtuh bukan karena perbuatan tangan manusia bukan karena di bom, dinamit atau bahkan rudal tetapi hanya oleh kuasa Tuhan yang dahsyat. Hal itu sudah dikatakan sebagai janji Tuhan kepada Israel, “Ketahuilah, Aku serahkan ke tanganmu Yerikho ini beserta rajanya dan pahlawan-pahlawannya yang gagah perkasa.” (Yosua 6:2).

Dalam Yosua 6:20 dikatakan “ Lalu bersoraklah bangsa itu, sedang sangkakala ditiup; segera sesudah bangsa itu mendengar bunyi sangkakala, bersoraklah mereka dengan sorak yang nyaring. Maka runtuhlah tembok itu, lalu mereka memanjat masuk ke dalam kota, masing-masing langsung ke depan, dan merebut kota itu.

Bersorak (shout) adalah salah satu aspek dari pujian (praise)

Bersorak lebih dari sekedar bertepuk tangan tapi dengan segenap hati dan kekuatan meninggikan Allah, ketika orang-orang yang mengelilingi tembok . (Yosua 6:10)

“Semua orang harus diam, jangan bersuara sama sekali, kecuali bunyi trompet,” demikian perintah Yosua. “Jangan mengeluarkan sepatah kata pun sampai kuperintahkan kamu untuk bersorak, barulah kamu bersorak-sorak!”

Pekik sorak mereka ketika Tuhan bersorak adalah teriakan yang keluar dari hati yang mengandalkan Tuhan sepenuhnya,karena tidak ada yang dapat mereka lakukan yang berwarnakan iman atas kepastian yang Tuhan janjikan.

PELAJARAN DARI RUNTUHNYA YERIKHO

Tuhan tidak pernah mengajar umat-Nya untuk lari dari persoalan yang ada di hadapannya. Tuhan juga tidak mengambil alih peperangan  yang harus dihadapi. Yang pasti adalah Tuhan mengajari kita untuk berperang dengan suatu keyakinan bahwa kemenangan pasti menjadi milik kita. Jadi kita harus berperang (menghadapi masalah), tetapi kita juga harus ingat bahwa dalam peperangan itu kita tidak sendirian, sebab Tuhan menyertai dan akan memberikan kemenangan bagi kita.

Pelajaran lain yang didapat adalah mengalahkan persungutan. Terlalu mudah bagi Tuhan untuk dapat langsung memberikan Yeriko kepada Israel, tetapi Tuhan lebih memilih untuk mendidik Israel. Mereka harus tertib dan taat untuk tidak berbicara satu kata pun. Selama mengelilingi kota Yerikho, mungkin musuh mengolok-olok atau mencemooh mereka, menganggap hal itu perbuatan bodoh, tetapi orang Israel harus taat akan perintah Tuhan agar menjaga sikap dan mulut mereka. Selain itu pernahkah Anda membayangkan betapa membosankan ketika mereka diminta mengelilingi tembok itu dengan cara yang sama dan jarak yang sama setiap hari selama 6 hari.  Bahkan dikatakan hari ke 7 disuruh berkeliling 7 kali. Berarti sekalipun hari Sabat, yang adalah hari istirahat, tetap mengelilingi kota tersebut. Akitifitas seperti itu sepertinya pekerjaan yang tak berarti. Mereka hanya diminta berkeliling tanpa melakukan apapun. Mereka bukan hanya dibentuk untuk bersabar – Sabar mengerjakan walau sepertinya tak ada peluang. Tetapi yang terutama mereka harus meruntuhkan “sungut-sungut” atau “manja” mereka, karena di padang gurun mereka selalu bersungut-sungut.

Pelajaran ketiga penting karena biasanya orang akan bersorak sorai ketika kemenangan telah diraih. Melalui peristiwa runtuhnya Yerikho kita diajarkan untuk bersorak sebelum menang! Coba diteliti, ketika bunyi sangkakala ditiup panjang, maka mereka harus bersorak sorai, padahal saat itu tembok Yerikho masih tetap berdiri tegak. TUHAN mengajarkan kepada kita untuk mengucap syukur terlebih dahulu kepada ALLAH sekalipun persoalan yang sedang kita hadapi belum terselesaikan. Inilah prinsip yang harus ada di dalam kehidupan orang Kristen. Jika kita baru dapat bersyukur setelah memperoleh kemenangan, apa bedanya dengan orang yang tidak mengenal TUHAN? Jadi metode peperangan yang digunakan oleh TUHAN sangat berbeda dengan apa yang digunakan oleh dunia.

Pelajaran keempat adalah Tuhan mau melatih kita. Setelah tembok Yerikho runtuh, tindakan selanjutnya yang harus dilakukan oleh orang Israel adalah mereka maju dan merebut kota yang telah diruntuhkan itu. Jadi Tuhan tidak mengambil alih peperangan yang sedang kita hadapi, tetapi Ia mengajari kita untuk berperang dan setelah itu kita sendiri harus mau maju menghadapi dan memerangi musuh yang ada di hadapan kita. Melihat metode Tuhan ini, kita ambil suatu kesimpulan bahwa bukan kerja keras yang diposisikan di depan, melainkan ketaatan kepada Allah. Setelah tembok diruntuhkan, barulah kita bekerja keras untuk meraih kemenangan yang telah diberikan Tuhan bagi kita

Oleh: Lis Lidyawati

Check Also

Artikel Utama

BERSAKSI ITU MENYENANGKAN

Oleh: Pdt. Dr. A.L. Jantje Haans 2 Timotius 4:2, 8Menginjil itu tidak mudah. Namun, menginjil/bersaksi …