
Terimakasih GBI Pasirkoja yang telah memberikan fasilitas workshop / pelatihan dari Unlimited Worship bagi para pemain musik dan pujian. Pelatihan berlangsung tanggal 2, 9, dan 16 November 2019, dan bertempat di GSG Taman Sakura dan di jalan Pasirkoja 39 Bandung.
Harapan dari workshop ini , Musik Pujian GBI Pasirkoja memiliki kesatuan dalam pengajaran/prinsip pelayanan, semakin mengerti secara detil akan pelayanan musik pujian dan membimbing jemaat dalam menyembah Tuhan di ibadah. Kiranya para pelayan musik pujian GBI Pasirkoja mempraktekan hal yang didapat dari pelatihan ini secara berulang-ulang dalam pelayanan minggu ke minggu dan juga melakukan evaluasi terhadap pelayanan yang telah berlangsung sehingga manfaat workshop terasa dan berdampak.
Ada suatu perumpamaan. Jika ada 2 orang, si “A” dan si “B” yang berkehendak untuk mengambil suatu benda yang ada di tempat yang cukup tinggi, misalnya sebuah koper di atas sebuah lemari. “A” maupun “B” tidak dapat menggapai benda itu sekalipun mereka meloncat. Satu-satunya hal yang dapat dilakukan adalah “A” bertumpu pada pundak/kaki “B” agar dapat mengambil koper tersebut. Perumpamaan ini bercerita tentang kata “Membantu”. “A” adalah jemaat, dan “B” adalah pelayan. Demi mendapatkan benda tersebut, “B” harus rela untuk berada di bawah, diduduki, dan bahkan diinjak. Sesungguhnya, tujuan seorang pelayan musik pujian adalah membantu jemaat menyembah Tuhan. Segala sesuatu yang dipersiapkan dan diberikan oleh pelayan haruslah mengarah pada satu tujuan ini, meskipun sebagai seniman memiliki kemampuan yang hebat, tetap harus merendahkan hati dan bahkan menghancurkan ego sendiri demi membantu jemaat.
Kami diajarkan bahwa ketika sedang melayani haruslah membangun penyembahan bukan pertunjukan. Bagaimana caranya? Sebagai pelayan, kita harus membangun keintiman dengan Tuhan lewat pujian penyembahan, doa, dan membaca Firman setiap hari, serta jangan lupa untuk bersekutu dengan teman carecell/PA dan bersaksi atas kebaikan Tuhan. Hal yang membedakan pelayan musik pujian dengan orang bayaran di luar sana yang tidak mengenal Tuhan adalah keintiman. Mimbar bukanlah tempat kebohongan, melainkan tempat kejujuran. Segala yang kami lakukan di mimbar (bermazmur, mengangkat tangan, bahkan bersujud), seharusnya kami sudah melakukannya di kamar, sehingga tidaklah menjadi suatu pertunjukan. Sebagai pelayan, kami tidak perlu membuat siapapun disenangkan. Sesungguhnya ketika kami melayani, Tuhanlah yang menjadi penontonnya, Tuhanlah yang melihat kami.
Ada suatu perumpamaan lagi, si C adalah orang Jakarta, dan si D adalah orang Bandung. Jika si C orang Jakarta ini sedang pergi ke Bandung dan ingin makan sesuatu, pastinya si C akan meminta bantuan si D untuk mengarahkan jalan dan merekomendasikan tempat makan yang enak. Si D tidak akan membawa ke tempat yang belum pernah dikunjungi karena si D akan mempertanggungjawabkan tempat makan rekomendasinya. Perumpamaan ini bercerita bahwa hanya orang yang sudah mengalami Tuhan, yang dapat membawa orang mengalami Tuhan. Mari bangun penyembahan dan bukan pertunjukan.
Persiapan adalah sebuah ekspresi dari iman. Jika kita gagal mempersiapkan, sesungguhnya kita sedang merencanakan kegagalan. Semakin disengaja persiapannya, semakin besar kemungkinan Tuhan bekerja dengan luar biasa. Segala sesuatu yang luar biasa/excellent, selalu ada dalam hal-hal yang mendetil.
Banyak hal yang dibahas dalam workshop mengenai persiapan. Sesungguhnya yang dimaksudkan persiapan disini adalah bukan latihan untuk ibadah hari minggu saja, melainkan persiapan sebelum latihan untuk ibadah hari minggu dan mengenai hal menjaga kekudusan. Bagaimana seorang pemuji (Worship Leader dan singers) dan pemusik (Music Director dan pemusik) setiap hari mendengarkan secara detil lagu-lagu rohani (lama atau baru). Bagaimana pemuji berlatih vocal setiap hari, namun tetap menjaga suaranya dengan banyak minum air putih. Bagaimana pemusik berlatih alat musik masing-masing dan belajar mendengarkan bagiannya masing masing dalam sebuah lagu (drumnya bagaimana, gitarnya bagaimana, dll). Bagaimana seorang pelayan menjaga kehidupannya dengan taat dan ikut perintah Tuhan.
Persiapan juga selalu berhubungan dengan evaluasi. Evaluasi kita hari ini sebenarnya akan menjadi persiapan kita di kemudian hari. Maka, sangatlah penting melakukan evaluasi per ibadah. Hal-hal yang kurang efektif dapat kita koreksi dan kita cari solusinya.
Kami juga diberikan pelatihan secara teknis. Bagaimana seorang Worship Leader menyusun lagu dan mengatur alur lagu, bagaimana seorang Music Director merumuskan susunan dan alur lagu yang didapatkan dari seorang Worship Leader agar teman-teman pemusik dapat mengerti. Bagaimana suatu tim dapat mengerjakan bagian masing-masing, dengan kompak dan tidak bertubrukan.
Tim Musik Pujian meminta dukungan dari keseluruhan Gembala dan jemaat GBI Pasirkoja untuk bisa terus berkembang. Kami berharap akan ada perubahan yang baik dalam Musik Pujian ke depannya. Terima kasih banyak GBI Pasirkoja.
Pada tanggal 2 November 2019 lalu, saya dan 11 pemimpin pujian lainnya mendapat berkat untuk mengikuti pelatihan Worship Leader bersama Team Unlimited Worship di Graha Sakura. Acara yang dimulai pkl. 09.00 sd pkl. 16.00 berjalan dengan sangat menggairahkan dan interaktif sehingga waktu yang cukup lama tidak membuat kami lelah atau bosan. Kami sangat diberkati dengan firman Tuhan yang dibagikan oleh Sdr. Franky Kuncoro, tentang bagaimana kehidupan pujian dan penyembahan kami sehari-hari lah yang menentukan kualitas pujian penyembahan kami di atas mimbar. Tehnik dapat dipelajari akan tetapi hubungan pribadi kita dengan Tuhan tidak. Tuhan tahu apakah kita sungguh-sungguh seorang penyembah atau sekedar penyanyi.
Kami juga diperlengkapi banyak materi dan tehnik bagaimana membangun suasana pujian dan penyembahan dalam ibadah, supaya kami dan semua tim musik pujian dapat membantu jemaat untuk menyembah Tuhan.
Fungsi Pemimpin Pujian ada 3:
- Communicator.
Kami berfungsi untuk menyampaikan pesan kepada jemaat dan mendukung visi gembala melalui sesi penyembahan, dan bukan pesan atau visi pribadi. Kita sepakat, bahwa pesan gembala berasal dari Tuhan. Kami juga harus dapat mengkomunikasikan pesan Tuhan tersebut kepada seluruh tim musik pujian supaya seluruh tim memiliki visi dan hati yang sama. - Conceptor.
Pemimpin pujian harus membuat perencanaan agar pesan dan visi tersebut dapat diterima dengan baik. Perencanaan dimulai dengan menyusun lagu yang sesuai dengan tema firman Tuhan Minggu itu dan memikirkan konsep dinamika dari lagu ke lagu, supaya suasana pujian dan penyembahan menjadi lebih hidup. Tentu ini harus dimulai dengan persiapan lewat doa dan perenungan firman Tuhan. - Conductor.
Seorang pemimpin pujian bertugas mengarahkan dan menginspirasi jemaat serta tim musik pujian, sehingga mereka mudah untuk memuji dan menyembah Tuhan. Dengan arahan yang jelas, tentu para pemain musik, penyanyi dan jemaat mudah untuk tahu bagian mana dari sebuah lagu yang akan dinyanyikan kemudian. Pemimpin pujian yang baik pasti mampu menginspirasi jemaat untuk lebih lagi antusias berpartisipasi dalam sesi pujian penyembahan dengan menyanyi, bertepuk tangan, bersorak, memuji dan menyembah Tuhan.
Biarlah kiranya pelatihan yang kami jalani dapat terus kami latih dan terapkan agar pelayanan kami lebih lagi menyukakan Tuhan dan memberkati seluruh jemaat GBI Pasir Koja 39. Tuhan Yesus memberkati.
Oleh: Hagi Aryanto & Bhernadethe S.
GBI Pasir Koja 39 Bandung