
Dalam Surat Yakobus pasal 1 ini, kita belajar satu anugerah Kristiani yang harus diterapkan dalam perbuatan nyata setiap orang percaya yaitu sukacita atau kebahagiaan: Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan (ay. 2). Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa kita tidak boleh tenggelam dalam kesedihan dan berputus asa, yang akan membuat kita tak berdaya dalam menghadapi cobaan-cobaan. Ketika kita berusaha bersukacita dalam setiap ujian yang kita hadapi, kita dibawa semakin menyerupai Kristus sebagai kepala kita, dan itu menjadi tanda bahwa kita sudah diangkat menjadi anak-Nya.
Dengan berjalan di jalan kebenaran, kita melayani kepentingan kerajaan Tuhan kita di antara manusia, dan membangun tubuh Kristus. Ujian-ujian akan membuat kita menjadi cemerlang dalam kasih dan anugerah Allah kepada kita pada saat ini, dan mahkota yang akan kita terima pada akhirnya. Oleh sebab itu, kita harus menganggap sebagai kebahagiaan apabila ujian dan kesulitan menimpa kita sewaktu kita menjalankan kewajiban.
Iman adalah anugerah, seperti yang disebutkan dalam Yakobus 1:3, “Sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu …”, dan yang dengan jelas dituntut dalam ayat 6, “hendaklah ia memintanya dalam iman,”. Kita harus betul-betul mempercayai kebenaran-kebenaran agung dalam Kekristenan, dan berpegang teguh padanya, dalam masa-masa pencobaan. Iman yang di sini dikatakan diuji oleh penderitaan adalah keyakinan terhadap kuasa, firman, dan janji Allah, dan kesetiaan serta keteguhan terhadap Tuhan Yesus. Ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Ujian terhadap satu anugerah menghasilkan anugerah lain. Semakin sering anugerah-anugerah orang Kristen diuji, semakin kuat anugerah-anugerah itu bertumbuh.
Ketekunan atau kesabaran bukanlah hal yang diam membatu, tetapi giat bekerja. Apa pun yang dikatakan atau dilakukan, hendaklah kesabaran yang mengatakan dan melakukannya. Janganlah kita biarkan amarah kita menghalang-halangi bekerjanya kesabaran dan dampak-dampaknya yang luhur. Marilah kita biarkan kesabaran bekerja, maka kesabaran itu akan mengerjakan keajaiban-keajaiban di masa sulit.
Kita harus membiarkan kesabaran bekerja dengan sempurna. Jangan melakukan apa saja yang membatasi atau melemahkannya, tetapi biarkanlah kesabaran bekerja sepenuhnya. Apabila kita menanggung segala sesuatu yang sudah ditetapkan Allah, dan sejauh Ia menetapkannya, dengan mata yang tertuju pada-Nya dengan taat dan rendah hati, dan apabila kita tidak hanya menanggung kesusahan-kesusahan, tetapi juga bersukacita di dalamnya, maka kesabaran sudah bekerja dengan sempurna.
Apabila kesabaran atau ketekunan sudah tuntas bekerja, maka orang Kristen menjadi utuh, dan tidak akan kekurangan suatu apa pun. Ketekunan akan memperlengkapi kita dengan segala hal yang diperlukan untuk pertandingan dan peperangan rohani kita, dan akan membuat kita mampu bertahan sampai akhir. Pada saat itulah pekerjaannya akan berakhir, dan dimahkotai dengan kemuliaan. Setelah berlimpah dalam anugerah-anugerah lain, kita memerlukan ketekunan (Ibr. 10:36). Tetapi biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.
GBI Pasir Koja 39 Bandung