
(2 Tim. 1:3-8; 1 Tim. 4:13; 1 Tim. 5:1-2)
Dalam 1 Timotius 4, 5, dan 2 Timotius 1, kita dapat belajar mengenai rahasia kebangunan rohani dalam kehidupan Timotius yang masih muda, yaitu:
1. Bahwa Timotius terus menjaga kehidupan spiritual atau agama nenek moyang. Perhatikanlah, agama dari orangtuanya menurun kepada Timotius, yang secara khusus dari pihak ibunya. Timotius mempunyai seorang ibu dan seorang nenek yang adalah orang percaya, meskipun ayahnya tidak. Di sini Rasul Paulus mengajarkan, bahwa kita harus melayani Allah dengan hati nurani yang murni, begitulah kehidupan rohani yang dilakukan oleh nenek moyang yang saleh. Ini berarti menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat.
2. Bahwa Timotius terus mengobarkan karunia Allah yang ada padanya. Maksudnya adalah semua karunia dan anugerah yang telah diberikan Allah kepadanya, untuk memperlengkapinya bagi pekerjaan sebagai pemberita Injil, yaitu karunia-karunia Roh Kudus yang tercurah melalui penumpangan tangan oleh Rasul Paulus. Timotius harus melatihnya, dan dengan demikian mengembangkannya. Rintangan besar bagi kita untuk mengembangkan karunia-karunia kita adalah ketakutan yang memperbudak kita. Oleh sebab itu, Rasul Paulus memperingatkan Timotius terhadap hal ini yaitu bahwa Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan Allah telah membebaskan kita dari roh ketakutan, dan telah memberi kita roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan ketertiban.
3. Bahwa Timotius harus tetap belajar dengan rajin dan tetap bertekun dalam membaca kitab-kitab suci, dalam membangun dan mengajar. Meskipun Timotius memiliki karunia-karunia yang luar biasa, namun ia harus tetap menggunakan cara-cara yang biasa. Hal ini berarti, bahwa ia harus membaca dan menasihatinya di hadapan jemaat, artinya membaca dan menjelaskan secara terperinci, membaca dan menekankan mengenai apa yang ia bacakan kepada mereka. Ia harus menjelaskan secara terperinci baik dengan cara menasihati, maupun dengan cara mengajar mereka dengan baik mengenai apa yang harus mereka lakukan dan apa yang harus mereka percayai.
4. Bahwa Timotius harus belajar beberapa pedoman yang diajarkan Paulus tentang cara menegur, yaitu bersikap lemah lembut ketika menegur orang yang sudah tua, lebih tua dalam hal usia, atau dalam hal kedudukan. Martabat mereka harus dihormati karena usia dan kedudukan, dan karena itu mereka tidak boleh ditegur dengan keras atau seperti dihakimi. Sebaliknya, Timotius sendiri, sekalipun seorang penginjil, harus memperlakukan mereka sebagai bapa, karena ini merupakan cara yang paling pantas untuk berhubungan dengan mereka, dan memenangkan hati mereka. Orang yang lebih muda harus ditegur sebagai saudara, dengan kasih dan kelembutan. Perempuan yang lebih tua harus ditegur, kalau memang perlu ditegur, sebagai ibu. Perempuan yang lebih muda harus ditegur sebagai adik, dengan penuh kemurnian.
Dari uraian mengenai kebangunan rohani yang dialami dalam kehidupan rohani Timotius tersebut di atas, menjadi pelajaran yang penting bagi kita generasi muda masa kini untuk dapat meneladani contoh yang telah Allah ajarkan kepada kita, apabila kita rindu untuk mengalami kebangunan rohani dalam kehidupan kita sehari-hari serta menjadi saksi Tuhan bagi generasi kita. Amin.
GBI Pasir Koja 39 Bandung