
(Kejadian. 26:1-25)
Kitab Kejadian 26 menceritakan bahwa Ishak berada di negeri orang Filistin yang sedang mengalami bencana kelaparan. Namun, Allah menyatakan firman-Nya kepada Ishak untuk tidak pergi dari Filistin dan Ishak pun taat terhadap perintah Allah tersebut. Sebagai akibat dari ketaatannya, Allah memberkati dan membuat Ishak menjadi makmur, serta semua yang ada padanya berkembang pesat.
Hal yang luar biasa, di masa kelaparan gandum yang ditabur Ishak menghasilkan berlipat kali ganda. Ishak tidak memiliki tanah sendiri namun menyewa tanah orang Filistin, Ishak menabur di sana, dan Allah memberkati dengan peningkatan yang besar. Hal ini memberikan pelajaran penting bahwa ditengah-tengah keadaan yang sulit Allah sanggup memberkati kita yang bekerja dengan jujur dan rajin. Kita akan mengalami pertolongan Allah ditengah-tengah kesulitan yang sedang terjadi, ketika orang lain hampir tidak menuai sama sekali, kita menuai bahkan hingga berlimpah-limpah.
Selain itu, ternak yang dimiliki oleh Ishak juga bertambah dan kemudian memiliki banyak anak buah yang dia pekerjakan dan hidupi. Dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang-orang yang menghabiskannya.
Ishak diberkati berlimpah-limpah, hal itu menimbulkan niat jahat dari orang-orang Filistin, mereka menutup sumur yang pernah digali oleh Abraham, hal ini dilakukan dengan kedengkian, karena mereka tidak memiliki kawanan ternak sendiri yang minum di sumur-sumur tersebut, dan mereka juga tidak mau membiarkan sumur-sumur tersebut digunakan oleh Ishak. Bahkan raja Gerar mulai memandang Ishak dengan pandangan cemburu dan bersama dengan rakyatnya mengusir Ishak keluar dari negeri orang Filistin. Namun, Ishak masih terus melanjutkan pekerjaannya, Ishak tetap memelihara ladangnya, dan terus rajin menemukan sumur- sumur air, serta mempersiapkannya untuk dia gunakan, walaupun Ishak telah menjadi sangat kaya, dia masih sangat memperhatikan keadaan kawanan ternaknya seperti yang ia lakukan selama ini, dan juga masih memperhatikan rombongannya dengan baik. Walaupun Ishak dipaksa meninggalkan kenyamanan-kenyamanan yang dia miliki, dan tidak dapat melanjutkan ladangnya dengan kemudahan dan keuntungan yang sama seperti sebelumnya, namun Ishak bertekad menghasilkan yang terbaik dari negeri yang dia masuki. Ini adalah tindakan yang bijaksana yang perlu dilakukan oleh setiap orang.
Ditengah kesulitan yang dihadapi, dia terus teguh dengan keyakinannya, dan memelihara persekutuannya dengan Allah. Dengan murah hati Allah menampakkan diri kepada-Nya, ketika orang-orang Filistin mengusir dia, memaksa dia pindah dari satu tempat ke tempat lain, dan terus-menerus menganiaya dia, dan pada waktu itulah Allah mengunjunginya, dan memberinya jaminan baru atas perkenanan-Nya. Janganlah takut, kata Allah, sebab Aku akan menyertai engkau!
Orang yang dapat pergi dengan tenang adalah orang yang yakin bahwa Allah ada bersama dengan nya ke mana pun dia pergi. Amin.
TUHAN YESUS MEMBERKATI.
Oleh: Yanuar
GBI Pasir Koja 39 Bandung