Galatia 5:22-23 Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.
Sebagian besar orang yang berasal dari Jawa Tengah dan Yogyakarta pasti kenal dengan makanan “tempe bacem” yang super manis ini. Melongok resep pembuatannya, tempe mentah biasanya direbus dahulu di dalam air biasa atau air kelapa yang sudah dilengkapi bumbu-bumbu dan gula merah. Tempe akan dibiarkan terendam dalam rebusan air dengan api kecil sampai airnya menyusut habis, sehingga bumbu-bumbu dan gula merah terserap sempurna ke dalam tempe. Jika tempe sudah berubah warna menjadi coklat tua seperti ciri khas tempe bacem, artinya tempe bacem sudah siap untuk digoreng, karena seluruh bumbu dan gula merah sudah terserap sempurna ke dalam tempe bacem tersebut. Tempe bacem yang dibuat dengan baik akan memiliki citarasa yang merata di seluruh bagian tempe, tidak hanya di bagian kulit luar saja, tapi juga seluruh bagian tempe akan memiliki rasa yang manis dan sedap.
Selayaknya tempe bacem yang manis dan sedapnya merata di seluruh bagian, kehidupan orang percaya idealnya juga dapat dinikmati oleh setiap orang yang bersinggungan dengannya. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi mengatakan “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu”. Jika kita sebagai orang percaya selalu memenuhi pikiran kita dengan semua yang manis dan sedap didengar, semestinya kita akan menemui diri kita sebagai pribadi yang paling manis dan paling sedap dimanapun kita berada. Tentu saja kita sadari bahwa setiap kita pasti masih memiliki kelemahan dan kekurangan, masih ada saja bagian hidup kita yang kurang manis dan kurang sedap sehingga kita harus terus bertumbuh, berubah dan berbuah.
Pribadi yang paling tepat untuk diteladani bagi setiap orang percaya tentu saja adalah Tuhan kita Yesus Kristus. Ada sebuah ayat yang sangat menarik tertulis pada Injil Lukas: ”Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia”. Pernyataan mengenai pribadi Yesus yang makin dikasihi Allah dan manusia ini tentu saja menarik untuk diteladani. Sekalipun tentu saja tidak semua orang mengasihi Yesus, khususnya para ahli Taurat dan orang Farisi yang selalu mencari-cari kesalahan Yesus, namun kebencian sebagian orang tidak dapat menutupi kenyataan bahwa Yesus adalah pribadi yang dikasihi. Jika sampai hari ini begitu banyak orang mengasihi Yesus, tentu saja termasuk kita, bukankah ini menunjukkan bahwa Yesus merupakan pribadi yang begitu manis dan sedap.
Kontras dengan Yesus, pribadi lain yang tentu saja tidak boleh kita teladani adalah para ahli Taurat dan orang Farisi. Satu kali di Injil Matius, Yesus mengecam mereka dengan mengatakan “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan”. Yesus mengecam orang-orang yang sekedar melakukan ibadah agamawi dan hanya sekedar tampak baik di mata orang, akan tetapi tidak pernah benar-benar mengalami perubahan kehidupan. Kehidupan seseorang yang seperti ini tentu saja tidak dapat dinikmati oleh banyak orang, kehidupan yang hanya terlihat indah luarnya namun tidak sedap dan tidak manis di dalamnya.
Jika tempe bacem menjadi manis dan sedap karena bumbu-bumbu dan gula jawa yang begitu meresap sampai ke bagian yang paling dalam, hidup kita juga harus terus direndam dalam perenungan firman Tuhan dan persekutuan pribadi dengan Roh Kudus agar menjadi semakin manis dan sedap. Jika tempe bacem dapat dinikmati karena rasanya yang enak, hidup kita juga seharusnya dapat dinikmati oleh banyak orang karena buah Roh yang semakin nyata dalam kehidupan kita. Bukankah kitab Galatia mengatakan bahwa tidak ada hukum yang akan menentang buah Roh, yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri. Mari kita terus bertumbuh menjadi surat Kristus yang terbuka lewat perubahan hidup kita. Hendaknya terang hidup kita sungguh bercahaya bagi banyak orang, supaya mereka melihat perbuatan kita yang baik dan memuliakan Bapa di sorga.
Oleh: Timotius Witono
GBI Pasir Koja 39 Bandung