STIGMA

Belasan tahun lalu untuk pertama kalinya saya mengetahui tentang apa sebenarnya penyakit Tuberkolosis atau TBC. Saya dan adik saya bekerja bersama-sama di perusahaan milik keluarga. Waktu itu, saya memperhatikan, bahwa kondisi adik saya berbeda dari biasanya. Bolak balik minum obat batuk tetapi tidak juga sembuh dan lama-lama ia mengeluh sesak. Kemudian saya mengantarnya untuk periksa ke rumah sakit, dan ia divonis mengidap TBC.

Saat itu kami begitu kaget, takut dan malu. Ya, karena stigma yang terlanjur melekat di kepala kami tentang penyakit tersebut. Pengidap TBC seolah seperti pasien yang menakutkan, menggelikan dan harus diasingkan. Akan tetapi, dokter menjelaskan dengan gamblang kalau kami tidak perlu kuatir atau takut. Penyakit ini adalah penyakit yang sangat umum kasusnya di Indonesia, dan menyerang semua golongan, dari anak-anak sampai orang tua, dari kalangan marjinal sampai kaum elite sekalipun.

Adik saya hanya harus meminum obat selama 6 bulan dengan rutin tanpa bolong satu hari pun dan menggunakan masker. Ia juga tidak perlu cuti kerja karena setelah BTA-nya  (sebutan untuk bakteri TBC) dinyatakan negatif. Bahkan biasanya setelah minum obat selama 2 minggu ia tidak lagi beresiko menularkan penyakit itu kepada orang lain.

Pengalaman itu membuat saya lebih santai ketika mendengar orang-orang yang saya kenal terinfeksi penyakit ini, termasuk tahun lalu saat anak saya yang bungsu divonis dokter tertular penyakit ini. Ia minum obat selama 6 bulan tanpa lalai, tetap sekolah dan beraktifitas seperti biasa, karena memang anak-anak tidak akan menularkannya kepada anak-anak lain atau kepada orang dewasa. Ia mungkin tertular dari orang dewasa yang bersinggungan dengannya, entah itu di sekolah, di angkot, atau di mall, karena kami  yang ada di rumah dan sekeluarga terbukti tidak ada yang mengidapnya.

Hal ini mengajarkan saya untuk berhati-hati dengan stigma dan hoax, yang berkaitan dengan penyakit, baik itu TBC, Hepatitis atau HIV/AIDS, yang masih sering saya dengar, bahwa masyarakat disesatkan dengan stigma yang salah.  Lebih baik menanyakan kebenarannya kepada dokter, sehingga kita dapat menjaga diri kita dengan baik supaya tidak tertular, tetapi tidak dengan tindakan atau perkataan yang dapat melukai dan menyakiti perasaan penderita.

Tuhan Yesus memberkati.

Oleh: Bhernadethe Siregar

Check Also

kesaksian

MAMA SHELLA

Kesaksian kali ini datang dari seorang ibu yang akrab dipanggil dengan Mama Shella, karena bagi …