
Hari Raya Natal adalah Hari Raya Kelahiran Yesus Kristus. Sebuah peringatan umat Kristen akan lahirnya Yesus Kristus, Putra Sulung Allah, yang menjadi manusia. Menurut iman umat tebusan Allah sendiri, Sabda Allah itu menjadi daging, berinkarnasi sebagai manusia secara utuh, dan diam di antara kita (Yoh. 1:14)
Jika para gembala di padang Efrata merasa kelahiran Yesus adalah kabar gembira, apakah sehari-hari kita juga melakukan broadcast messages berupa kabar gembira (Injil: berita sukacita tentang Yesus)? Atau sebaliknya, kabar kebencian dan menyebarkan ketakutan? Atau bahkan berita Hoax, mungkinkah seorang perawan dapat melahirkan? (Luk. 1:30-33). Mari kita menjawab pertanyaan ini pada diri kita masing-masing.
“Malam kudus…Sunyi senyap.. Dunia terlelap..Hanya dua berjaga terus..Ayah bunda mesra dan kudus..Anak tidur tenang..” (lirik Lagu Malam Kudus)
Dalam kesunyian dan kesendirian sekeluarga: Yusuf, Maria dan Sang Putra Sulung Allah yang tidur tenang, lirik lagu malam kudus atau Stille Nacht ditulis dalam bahasa Jerman oleh seorang pastor Austria Fr. Josep Mohr sementara lagunya disusun oleh pemimpin paduan suara Austria Franz X Gruber, pada tahun 1818. Apakah kidung Natal ini merupakan gambaran nyata bahwa dunia yang gelap kini membutuhkan terang Allah di dalam diri Yesus Kristus? Inilah tugas gereja dan umat Kristen untuk mendeklarasikan kepada dunia lewat Injil.
Pilihan untuk melahirkan dalam kandang yang tentu tidak populer dan tentu saja bau. Di sanalah Putra Sulung Allah lahir. Dia menjadi manusia seutuh-utuhnya dan sesulit-sulitnya. Yesus Kristus Nama Nya, Ia ditetapkan untuk menyertai manusia, sebagai Imanuel (Mat. 2:13-15). Ribuan tahun sesudah kelahiran Yesus, semangat itu seharusnya masih sama. Natal akhirnya memberi simbol persatuan keluarga. Simbol Natal juga adalah persatuan Tuhan dengan manusia, inkarnasi Allah di dalam diri Yesus Kristus. Namun, spiritualitas Natal bukan sekadar sukacita, tetapi sebenarnya spiritualitas bertahan dalam tekanan hidup, bukan sekadar hidup sederhana tetapi hidup yang sangat terbatas dan bertumbuhnya radikalisme, yang salah satu sasarannya adalah umat Kristen. Namun, di tengah kesulitan itu, perlindungan-Nya sangat nyata (Mat. 2:19-23).
Natal adalah penghayatan pada hidup manusia yang selalu sulit untuk mempercayai-Nya sebagai Juruselamat dan inkarnasi Allah, hingga akhirnya yang tersulit dari menjadi orang Kristen adalah ketaatan mengikuti Kristus. Sebab, Yesus setia terhadap misi kedatangan-Nya untuk menyelamatkan manusia, born to save (Yes. 9:5-6).
Spiritualitas yang ditawarkan Kristus sejak kelahiran-Nya adalah berpihak pada yang lemah, selalu ingat kepada mereka yang dikorbankan. Sebab Dia adalah simbol dari manusia yang lemah dan rela mengorbankan diri-Nya untuk manusia berdosa. Dalam dinamika saat ini Yesus sama seperti para pengungsi, sama seperti tempat penginapan yang tidak tersedia untuk melahirkan Sang Juruselamat di Betlehem Efrata.
Akhirnya spiritualitas Natal jauh melebihi kumpul keluarga, kandang, gereja, pohon natal, atau salib yang ditolak. Spiritualitas Natal jauh melebihi simbol-simbol itu. Spiritualitas Natal adalah tentang generasi yang berani menerima tongkat estafet penginjilan dalam menggiring manusia memasuki era kelahiran baru dan berani memilih yang tersulit.
Selamat Natal bagi seluruh jemaat GBI Pasirkoja. Selamat menghayati spiritualitas Natal. Damai di bumi Damai di hati dalam menyongsong. Great God, Great Generation, and the Great Harvest di tahun 2020.
Oleh: Pdt. A. L. Jantje Haans
GBI Pasir Koja 39 Bandung