SENANG & SEDIH BERLEBIHAN, Apakah itu baik?

Cover Kesehatan
By: Andreas Adiwinata, dr., M.Biomed

Di tengah kehidupan yang penuh tekanan dan dinamika emosi, banyak orang mengalami pergumulan dalam kesehatan mental, salah satunya adalah gangguan Bipolar. Gangguan ini ditandai dengan perubahan suasana hati yang ekstrem, dari fase depresi yang dalam hingga fase mania yang penuh energi. Sayangnya, tidak sedikit orang Kristen yang mengalami bipolar tetapi tidak mendapatkan pemahaman dan dukungan yang memadai—baik dari keluarga, gereja, maupun lingkungan sekitar. Sebagai tubuh Kristus, gereja dipanggil bukan hanya untuk peduli pada kesehatan rohani, tetapi juga kesehatan jiwa dan tubuh umat-Nya. Alkitab sendiri mencatat berbagai kisah tokoh iman yang bergumul dengan kesedihan mendalam, ketakutan, bahkan keputusasaan—namun mereka tetap berada dalam pelukan kasih Tuhan. Ini menjadi pengingat bahwa iman tidak membuat kita kebal terhadap masalah mental, namun kasih Kristus memberi kita harapan dan kekuatan untuk pulih dan bertumbuh. Maka dari itu, mari bersama-sama kita belajar apa itu penyakit Bipolar.

Gangguan bipolar adalah masalah kesehatan mental yang menyebabkan perubahan suasana hati, energi, tingkat aktivitas, konsentrasi, dan kemampuan untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Pengidap yang sebelumnya merasa sangat gembira, bisa tiba-tiba berubah menjadi sangat sedih dan putus asa. Perubahan suasana hati secara drastis ini dapat memengaruhi kebiasaan tidur, tingkat energi, aktivitas, perilaku, dan kemampuan berpikir pengidapnya. Perlu kamu ketahui bahwa, penyakit bipolar adalah kondisi seumur hidup. Artinya, masalah kesehatan mental ini tidak bisa sembuh seutuhnya. Meski begitu, terapi dan pengobatan bisa membantu kamu mengelola gejala yang terjadi.

Penyebab Bipolar
Beberapa pakar berpendapat bahwa, penyebab masalah kesehatan mental ini adalah ketidakseimbangan neurotransmitter atau zat pengontrol fungsi otak. Selain itu, ada pula ahli yang menyebutkan kalau penyebab gangguan bipolar berkaitan dengan faktor keturunan.

Nah, berikut berbagai faktor yang ditengarai bisa menyebabkan gangguan bipolar:

  1. Genetik atau keturunan
    Seseorang yang punya riwayat keluarga dengan gangguan bipolar lebih berisiko mengalami masalah ini.
  2. Ketidakseimbangan kimia di otak
    Kondisi ini juga bisa timbul apabila ada ketidakseimbangan neurotransmitter, yaitu zat kimia otak yang mengatur suasana hati dan perilaku.
  3. Lingkungan
    Stres kronis, trauma fisik, dan emosional bisa memicu gangguan ini. Peristiwa hidup seperti kehilangan orang yang dicintai atau konflik dalam hubungan dapat menjadi pemicu atau memperburuk episode bipolar.
  4. Perubahan hormonal
    Fluktuasi hormon dalam tubuh, seperti selama kehamilan, menstruasi, atau menopause membuat seseorang lebih rentan mengalami masalah mental yang satu ini.
  5. Kemampuan menangani stres
    Nyatanya, ada beberapa orang yang memiliki koping stres yang kurang baik. Pasalnya, mereka kesulitan untuk mengatasi tekanan hidupnya.
  6. Konsumsi zat-zat psikoaktif
    Penggunaan narkoba atau alkohol secara berlebihan dapat memicu atau memperburuk episode mania atau depresi pada individu yang rentan terhadap gangguan ini.
  7. Mengidap gangguan mental
    Masalah mental seperti gangguan kecemasan atau gangguan penggunaan zat juga dapat meningkatkan risiko kondisi ini. Sebab, mereka yang telah mengidapnya amat rentan mengalami gangguan suasana hati yang ekstrem.
  8. Perubahan siklus tidur
    Gangguan tidur, baik kurang tidur atau tidur berlebihan, dapat memicu episode mania atau depresi pada individu dengan gangguan bipolar.

Gejala Gangguan Bipolar
Terdapat dua fase dalam gejala gangguan bipolar, yaitu fase mania (naik) dan depresi (turun).

Ketika periode mania terjadi, pengidap akan terlihat sangat bersemangat, enerjik, dan bicara cepat.
Sementara itu, pada periode depresi, mereka akan terlihat sedih, lesu, dan kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari.

  1. Fase mania
    Beberapa gejala yang termasuk pada fase mania adalah:
    · Sangat bersemangat, senang, dan mudah tersinggung atau sensitif.
    · Merasa gelisah.
    · Mengalami penurunan kebutuhan untuk tidur.
    · Kehilangan nafsu makan.
    · Berbicara dengan sangat cepat tentang banyak hal yang berbeda.
    · Merasa seperti pikirannya berpacu.
    · Berpikir bisa melakukan banyak hal sekaligus pada satu waktu.
    · Melakukan hal-hal yang berisiko, seperti makan dan minum secara berlebihan, menghamburkan uang, atau melakukan hubungan seks yang sembrono.
    · Merasa sangat penting, berbakat, atau kuat.
  2. Fase depresi
    Sementara itu, gejala yang termasuk dalam fase depresi bisa berupa:
    · Sangat sedih, hampa, khawatir, atau putus asa.
    · Mengalami sulit tidur, bangun terlalu pagi, atau justru terlalu banyak tidur.
    · Peningkatan nafsu makan dan penambahan berat badan.
    · Tidak berminat untuk melakukan semua aktivitas, dorongan seks yang menurun atau bahkan tidak ada sama sekali, serta ketidakmampuan untuk merasakan kesenangan.
    · Berbicara dengan sangat lambat, merasa tidak ada yang ingin mereka katakan, atau banyak lupa.
    · Kesulitan berkonsentrasi atau membuat keputusan.
    · Merasa tidak mampu melakukan bahkan hal-hal sederhana.
    · Merasa putus asa atau tidak berharga, dan munculnya pikiran tentang kematian atau bunuh diri.

Pengobatan Gangguan Bipolar
Gangguan bipolar adalah penyakit seumur hidup yang gejalanya bisa datang sewaktu-waktu.
Namun, perawatan jangka panjang dan berkelanjutan dapat membantu pengidapnya mengelola berbagai gejala yang muncul.
Berikut pilihan pengobatan untuk gangguan bipolar yang umum diberikan:

  1. Obat-obatan
    Jenis obat yang umumnya digunakan untuk mengobati kondisi ini termasuk penstabil suasana hati, antipsikotik, dan antidepresan. Hindari menghentikan pengobatan tanpa membicarakannya dengan dokter terlebih dahulu. Pasalnya, hal ini dapat menyebabkan “rebound” atau memburuknya gejala gangguan bipolar.
  2. Psikoterapi
    Terapi bicara atau psikoterapi sering menjadi bagian dari rencana perawatan. Psikoterapi adalah istilah untuk berbagai teknik pengobatan, yang bertujuan untuk membantu seseorang mengidentifikasi dan mengubah emosi, pikiran, dan perilaku yang mengganggu.
  3. Electroconvulsive Therapy (ECT)
  4. Transcranial magnetic stimulation (TMS)
  5. Komplikasi Gangguan Bipolar
  6. Jika tidak diobati, kelainan ini dapat menyebabkan perubahan suasana hati yang lebih lama dan lebih parah. Misalnya, episode depresi terkait kondisi ini dapat bertahan hingga 6 bulan, sedangkan episode mania dapat bertahan hingga 4 bulan tanpa perawatan berkelanjutan.
  7. Pengidap juga lebih berisiko untuk mengalami hal-hal berikut:
  8. · Penyalahgunaan zat (misalnya, alkohol atau obat-obatan).
  9. · Kecemasan.
  10. · Kondisi jantung dan kardiovaskular.
  11. · Diabetes.
  12. · Berat badan yang tidak sehat (seperti obesitas).
  13. · Pikiran untuk bunuh diri.
  14. Pencegahan Gangguan Bipolar
  15. Penyebab pasti gangguan mental ini belum diketahui sehingga pencegahannya pun belum ditemukan. Meski begitu, seseorang yang mengalami gejala ini sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan perawatan yang tepat. Perawatan ini juga perlu dilakukan secara berkelanjutan guna mencegah dampak serius dari gangguan ini. Hindari mengonsumsi zat yang dapat memicu episode mania atau depresi, seperti kafein dalam jumlah berlebih, alkohol, kokain, ekstasi, dan amfetamin. .

Check Also

Kesehatan April 26 copy

ASAM LAMBUNG NAIK,TERASA TERBAKAR & NYERI DI DADA : Keluhan Sepele Yang Tidak Boleh Diabaikan

Oleh: Andreas Adiwinata, dr., M.Biomed Banyak orang pernah merasakan sensasi panas di dada setelah makan, …