
Mazmur 4:9 “Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman“.
Tidur adalah suatu karunia pemberian Tuhan yang diberikan secara gratis. Ibarat kata, tidur itu adalah suatu karunia “damai” yang Tuhan berikan kepada kita di malam hari, sehingga sangat patut kita syukuri. Seringkali kita meremehkan tidur, dan menukarnya dengan kegiatan lain seperti bekerja lembur dan begadang hingga larut malam. Padahal orang lain rela untuk membayar mahal agar bisa mendapatkan karunia tersebut, seperti contohnya orang yang negaranya sedang dalam zona perang yang mungkin selalu tetap terjaga di malam hari atau beberapa orang yang mengalami penyakit atau susah tidur (insomnia), rela untuk membayar mahal seperti membeli obat-obatan atau kasur yang empuk agar bisa tidur dengan pulas. Dalam hal ini, kita akan membahas apa sih itu insomnia dalam dunia medis, bagaimana cara kita mengenalinya dan apa yang harus kita lakukan jika kita mengidap gejala tersebut, apakah bisa sembuh, dan bagaimana cara mencegah terjadinya insomnia.
Insomnia adalah jenis gangguan tidur yang terjadi ketika seseorang mengalami kesulitan atau tidak bisa tidur sehingga tubuh menjadi kurang fit untuk melakukan aktivitas keesokan harinya. Saat tidur, tubuh akan melalui siklus yang bergantian antara tidur gerakan mata cepat dan tidur non-gerakan mata cepat. Seseorang mungkin akan melalui empat atau lima siklus tidur dalam satu malam, di mana satu siklus tidur berlangsung kurang lebih selama 90 menit. Siklus ini bermula dari empat tahap tidur non-REM, terdiri dari tidur ringan sampai tidur dalam. Lalu, lanjut dengan tidur REM dan di tahap inilah proses mimpi terjadi.
Penyebab Insomnia
Penyebab insomnia pada seseorang berbeda-beda tergantung dari jenisnya, seperti:
· Penyebab insomnia akut:
· Mengalami stres.
· Mengingat peristiwa yang traumatis.
· Terjadinya perubahan kebiasaan tidur, seperti tinggal di rumah baru.
· Mengalami jet lag atau mabuk setelah naik pesawat.
· Mengonsumsi obat-obatan tertentu.
· Penyebab insomnia kronis:
· Kondisi nyeri kronis, seperti radang sendi atau nyeri punggung.
· Masalah psikologis, seperti kecemasan, depresi, atau gangguan penggunaan zat.
· Mengalami sleep apnea dan gangguan tidur lainnya.
· Mengidap kondisi kesehatan tertentu seperti kencing manis, kanker, GERD, atau penyakit jantung.
Faktor Risiko Insomnia
Faktanya, insomnia dapat terjadi pada semua rentang usia. Namun, biasanya kondisi ini lebih rentan terjadi pada wanita daripada pria, serta seseorang yang sudah lanjut usia. Beberapa faktor lainnya yang bisa jadi penyebab atau meningkatkan risiko penyakit ini adalah:
· Masalah mental. Misalnya pada pengidap depresi, gangguan kecemasan, hingga gangguan stres pasca trauma.
· Bekerja shift.
· Jenis kelamin. Ketika wanita mengalami menstruasi, tubuh akan mengalami perubahan hormon. Kondisi ini menimbulkan gejala hot flashes atau keringat di malam hari, sehingga menyebabkan gangguan tidur.
· Usia. Kesulitan tidur biasanya meningkat seiring dengan bertambahnya usia.
· Perjalanan jauh. Melakukan perjalanan jauh atau jet lag karena melintasi beberapa zona waktu juga bisa memicu insomnia.
· Kondisi medis tertentu.
· Masa menopause.
Gejala Insomnia
· Sulit untuk merasakan ngantuk dan tidak bisa tertidur.
· Terbangun pada malam hari atau dini hari dan tidak bisa tidur kembali.
· Merasa lelah, emosional, sulit berkonsentrasi, dan tidak bisa melakukan aktivitas secara baik pada siang hari.
· Tidak bisa tidur siang, meskipun tubuh terasa lelah.
Pengobatan Insomnia
Dalam mengobati kondisi kesehatan ini, hal pertama yang dilakukan oleh dokter adalah mencari tahu apa yang menjadi penyebab kondisi ini. Jika gangguan tidur ini didasari oleh kebiasaan atau pola hidup tertentu yang tidak sehat, maka dokter akan menyarankan untuk memperbaikinya. Jika penyebabnya adalah gangguan kesehatan (misalnya, gangguan kecemasan), maka dokter akan terlebih dahulu mengatasi kondisi yang mendasari rasa cemas tersebut. Dalam beberapa kasus, dokter akan menyarankan agar menjalani terapi perilaku kognitif. Terapi ini bisa membantu untuk mengubah perilaku dan pola pikir yang memengaruhi tidur mereka. Selain itu, tak menutup kemungkinan dokter akan meresepkan obat tidur untuk beberapa waktu. Namun, obat tidur merupakan solusi yang bersifat sementara saja. Hal yang perlu digaris bawahi, penanganan insomnia jarang berhasil bila tak mencari solusi dari akar penyebabnya.
Komplikasi Insomnia
Ketika seseorang mengalami insomnia, maka fungsi otak akan mengalami hambatan. Inilah mengapa pengidap insomnia akan merasa sulit untuk fokus, serta produktivitas menurun. Selain itu bisa juga menimbulkan penyakit dan kondisi lain, seperti:
· Kecemasan berlebih.
· Mengalami depresi.
· Meningkatkan risiko terjadinya stroke.
· Memicu terjadinya serangan asma.
· Mengalami kejang.
· Fungsi sistem kekebalan yang melemah.
· Meningkatnya risiko obesitas.
· Tekanan darah tinggi.
· Memicu perkembangan penyakit jantung.
· Meningkatkan risiko kesalahan pada pekerjaan, serta kecelakaan saat mengemudi dan mengoperasikan alat atau mesin.
· Memengaruhi kinerja dan prestasi di sekolah atau tempat kerja.
· Menurunkan gairah seks dan kesuburan.
· Menurunkan daya ingat.
· Membuat tubuh kesulitan mengatur emosi.
Pencegahan Insomnia
· Cobalah untuk mempertahankan jadwal tidur dan bangun yang kira-kira sama, bahkan di akhir pekan.
· Buat rutinitas sebelum tidur yang membantu kamu rileks dan mendapatkan suasana yang baik untuk tidur.
· Membatasi asupan kafein di sore hari.
· Redupkan lampu dan letakkan perangkat elektronik, satu jam sebelum waktu tidur.
· Dapatkan sinar matahari dan lakukan aktivitas fisik, minimal 30 menit setiap hari.
· Hindari tidur siang, terutama jika kamu tahu tidur di siang hari membuat kamu tetap terjaga di malam hari.
· Memeriksakan diri ke psikolog, jika kamu merasa memiliki gangguan kesehatan mental seperti depresi atau kecemasan berlebih.
Apa penyakit insomnia bisa sembuh?
Insomnia dapat diobati, namun pengobatannya tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Beberapa metode yang dapat dilakukan untuk mengatasi insomnia antara lain:
· Menjaga jadwal tidur yang teratur, menciptakan lingkungan tidur yang nyaman, menghindari kafein dan alkohol sebelum tidur, serta berolahraga secara teratur.
· Terapi perilaku kognitif untuk mengubah pola pikir dan perilaku yang terkait dengan insomnia.
· Dokter dapat meresepkan obat tidur untuk membantu mengatasi insomnia jangka pendek. Namun, penggunaan obat tidur jangka panjang tidak disarankan karena dapat menyebabkan ketergantungan.
GBI Pasir Koja 39 Bandung