Ada sebuah kabar buruk untuk anda yang menuntut orang lain untuk percaya pada anda. Kepercayaan itu tidak timbul dengan sendirinya, namun orang harus mengusahakan dirinya sedemikian rupa sehingga bisa mendapatkan kepercayaan dari orang. Orang yang bisa dipercaya dalam hal-hal yang kecil, ia kelak akan diberikan kepercayaan yang lebih besar.
Namun tidak jarang saya dengar mereka yang bekerja di berbagai perusahaan dalam berbagai bidang berkeluh kesah tentang susahnya mereka mendapatkan kepercayaan atau promosi dalam karir mereka. Mereka berjuang mati-matian dengan berbagai cara untuk mendapatkan kepercayaan lebih dari pemimpin mereka.
Saya teringat dengan perumpamaan tentang talenta yang ada di Matius 25:16-18 dimana hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan yang mempercayakan hartanya kepada hamba-hambanya. Rasanya hampir semua dari kita tahu bagaimana ujung dari perumpamaan ini, dan tentunya kita tidak mau menjadi hamba yang terakhir. Untuk itu setidaknya ada 4 hal yang bisa kita pelajari agar kita, sebagai hamba / pekerja / yang diberikan kepercayaan, bisa membuat orang yang memberikan kepercayaan tersebut merasa `aman` memberikan kepercayaannya pada kita.
Untuk mempermudah, 4 hal tersebut dapat diingat dengan kata S. A. F. E (= rasa aman)
1. STEWARDSHIP ( penatalayanan ) – Ayat 15
Kita bukanlah pemilik atas setiap hal yang ada pada kita. Penting untuk menyadari bahwa perusahaan kita, posisi kita sekarang dalam sebuah perusahaan, kekayaan kita atau apapun yang menjadi tanggungjawab kita adalah hal-hal yang Tuhan percayakan pada kita. Kita hanya dipercayakan dan menjadi pengelola atas semuanya itu. Tidak sepantasnya kita menyombongkan diri atau berbesar hati atas semua hal yang kita `pegang` sekarang. Sebaliknya kita harus mengetahui untuk apa kita diberikan kepercayaan itu dan apa yang diharapkan pihak pemberi kepercayaan itu dari kita agar bisa menjadi seorang pengelola yang baik.
Ketika kita sadar bahwa Tuhan memberikan sebuah kepercayaan kepada kita, sudahkah kita mengetahui apa tujuan dan harapan Tuhan di dalamnya?
2. ACCOUNTABILITY ( pertanggungjawaban ) – Ayat 16 – 23
Mengetahui bahwa kita bukanlah pemilik dan hanya sebagai penatalayan, kita mengakui bahwa ada otoritas yang lebih tinggi dari kita. Suatu saat, siapapun yang memberi kepercayaan kepada kita akan meminta pertanggungjawaban atas apa yang dipercayakannya. Di saat itulah kita akan `dinilai` bagaimana kita merespon kepercayaan yang diberikan. Penilaian tersebut tidak hanya dilihat dari hasil akhirnya saja. Tidak ada perbandingan antara hamba yang diberikan 5 talenta dan yang diberikan 2 talenta. Keduanya melakukan yang terbaik, keduanya mengerjakan apa yang diharapkan tuannya. Tuhan tidak melihat hasilnya menjadi berapa tapi dia melihat bahwa apa yg dipercayakan kepada mereka menghasilkan buah yang sama.
Roma 14:12 menulis “Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah”. Tuhanlah otoritas tertinggi dalam hidup kita. Kita mungkin bisa mengesampingkan pertanggungjawaban kita kepada manusia, tapi di akhir hidup kita nanti, bagaimana kita mempertanggungjawabkan tiap hal di hidup kita kepada Tuhan?
3. FAITHFULLNESS ( kesetiaan ) – Ayat 24-28
Berapa banyak orang yang dapat setia sampai akhir? Kesetiaan kita untuk mengerjakan kepercayaan yang diberikan akan selalu diuji sepanjang waktu. Kita harus bertahan sepanjang waktu tersebut sampai saat dimana kita diminta pertanggungjawaban. Hal terbaik yang saya pikir dapat membuat kita bisa terus mengerjakan kepercayaan yang diberikan adalah jika kita punya hubungan personal dengan orang yang memberi kepercayaan tersebut. Kita mengenal dia dan kita juga bisa menaruh rasa percaya kita kepadanya. Kalau kita tidak percaya tuan kita, kita tidak akan melakukan yg terbaik buat dia. Hamba yg terakhir memberikan alasan-alasan, mencari pembenaran untuk dirinya sendiri. Ketika yang lain mengerjakan apa yang dipercayakan, ia memilih untuk tidak melakukan apa-apa.
Hamba yang terakhir tidak melakukan dosa, ia hanya tidak melakukan apa-apa. Tapi di mata Tuhan itu adalah respon yang sangat buruk. Tuhan tidak suka dengan mereka yang dipercaya tapi tidak mengerjakan kepercayaan tersebut.
4. ETERNAL EFFECT ( dampak kekekalan ) – Ayat 29 – 30
Dalam dunia pekerjaan, kita selalu melakukan evaluasi. Hasil evaluasi itu selalu bisa berujung pada dua hal yaitu apakah hasilnya positif atau negatif. Tentu saja setiap pihak ingin mendapatkan hasil yang positif. Otoritas yang memberi kita kepercayaan mengharapkan kepercayaannya kita balas dengan hasil yang baik, dan kita juga mengharapkan setelah kita mengerjakan apa yang dipercayakan kepada kita dengan baik, kita mendapat sesuatu yang positif. Apakah itu pujian, citra yang baik, kenaikan gaji, promosi karir atau hal-hal lainnya. Itu semua adalah baik dan sudah sepantasnya setiap orang yang bekerja berhak mendapatkan upahnya. Hasil itu tentu baik tapi sebagai anak Tuhan kita perlu juga memikirkan hasil yang memiliki dampak kekekalan, sesuatu yang kita bisa peroleh dan tidak bisa hilang dari hidup kita.
Ketika kita mengerjakan apa yang Tuhan percayakan kepada kita, upah kita bukanlah upah seperti yang dunia berikan. Lebih dari segala harta di dunia kita bisa dapatkan dari Tuhan, karena Tuhan mengundang kita untuk menjadi bagian dari kerajaanNya, menjadi rekan sekerjaNya.
Ketika Tuhan mempercayakan hal-hal tertentu ke dalam hidup kita , melalui perantara bisnis kita, pekerjaan kita, orang-orang di sekitar kita, maka sesungguhnya Tuhan sedang menunjukkan kemurahan dan perkenananNya atas kita. Kita sebenarnya tidak layak namun kasih karunia Tuhan melayakkan kita untuk menerima kepercayaan dari Tuhan. Mari kita sama-sama meresponnya dengan mengerjakan kepercayaan tersebut, memberikan yang terbaik agar kita bisa memberikan pertanggungjawaban kepada Tuan segala tuan dan memperoleh hasil yang berdampak kekal. Tuhan memberkati!
Oleh: Victor Apriando
GBI Pasir Koja 39 Bandung