Wahyu 1:9-17
Wahyu 1:17a. “Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati;”
Mahameru adalah sebutan bagi Puncak Gunung Semeru, nama sebuah gunung tertinggi di Pulau Jawa. Lebih dari 15 tahun lalu, saya pernah memberanikan diri untuk ikut dalam pendakian Mahameru bersama kawan-kawan saya. Saya sebenarnya bukan pendaki gunung, tetapi hanya seorang penikmat jalan-jalan, sehingga diajak kemana pun kala itu, saya akan hayuk saja. Hasilnya saya gagal mencapai puncak Mahameru dan hanya berhasil sampai di titik cemara tunggal, meski telah mengerahkan segala daya dan usaha, karena Mahameru bukan sembarang tempat yang mudah digapai.
Namun keindahan pemandangan yang dapat saya nikmati saat mendaki Gunung Semeru sudah sangat menghiburkan saya. Anda yang pernah ke sana pasti setuju dengan saya, bahwa Ranu Kumbolo, hamparan padang adelweiss, dan Tanjakan Cinta, menyajikan pemandangan yang luar biasa indah.
Pengalaman mendaki Puncak Semeru adalah pengalaman luar biasa yang pernah saya lakukan, dan kenangannya terus melekat hingga kini. Terlebih, saat turun gunung saya sempat tergelincir dan hampir jatuh ke jurang yang berbahaya. Di tengah kedahsyatan alam buatan tangan Allah, saya diingatkan tentang betapa kecilnya diri saya, sehingga saya pun memahami mengapa Yohanes tersungkur di depan kaki Kristus seperti orang yang mati, ketika Yohanes mendapat penglihatan akan kemuliaan Kristus yang telah bangkit (Why.1:17).
Saat Anda melihat betapa luar biasanya alam yang Allah ciptakan, mestinya hal itu dapat menolong Anda untuk lebih dalam menghayati betapa jauh lebih besar dan mulia-Nya Allah kita dan mendorong Anda untuk tersungkur menyembah Tuhan. Ubahlah kekaguman Anda menjadi bentuk penyembahan kepada Allah yang mulia dan dahsyat.
Doa: “Sungguh betapa luar biasa dan dahsyatnya Engkau Allah. Hamba tersungkur di kaki-Mu, menyembah Engkau, Raja di atas segala raja. Haleluya. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung
