PELAYANAN = PERSEMBAHAN
Roma 12:1-11
Roma 12:1. “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”
Hari-hari ini kita sering mendengar istilah “pelayanan”, tapi biasanya terbatas di lingkup ibadah rutin gereja. Dimulai dari penyambut jemaat, kolektan, multimedia, kemudian paduan suara, pemain musik, penyanyi, pemimpin pujian, pendoa syafaat, pengkotbah dan banyak lagi. Hampir semuanya hanya terfokus pada ibadah di dalam gedung gereja. Kalaupun ada pelayanan keluar biasanya sangat mainstream seperti mengunjungi panti asuhan, panti jompo, membesuk orang sakit, membantu penginjilan dan gereja-gereja kecil di daerah,dll. Dan setelah melakukan hal-hal “textbook” tadi kita merasa sudah sah melayani.
Ironisnya, gereja yang tidak mengerti makna pelayanan yang benar, kemudian terjerumus juga ke dalam kesalahan tersebut. Orang percaya harus sungguh-sungguh memperhatikan, mau mengerti dan menerima, bahwa Tuhan Yesus melepas jubah kebesaran-Nya dan mencuci kaki murid-murid-Nya (Yoh. 13). Inilah kebesaran sebuah pelayanan yang mulia.
Dalam suratnya Paulus berkata “dirinya adalah hamba” (1Kor. 9:19; 2Tim. 2:3-4). Ini berarti, bahwa pelayanan adalah segala sesuatu yang kita lakukan yang membuat orang lain diberkati (yaitu mengenal Allah yang benar dan didewasakan). Inilah yang sering dimaksud dengan memperkaya orang lain. Untuk ini seseorang harus berhenti dari melihat kepentingan diri sendiri, beralih melihat kepentingan orang lain. Inilah kehidupan yang disalibkan. Telah mati bagi dirinya sendiri dan hidup bagi Allah.
Hal berikutnya, pelayanan berarti penyerahan terhadap tugas tanpa menuntut imbalan. Seorang hamba yang benar tidak menuntut upah (1 Kor. 9:18). Salah mengerti makna pelayanan ini membuat seseorang merasa memiliki jasa yang layak diimbali. Mereka belum melayani Tuhan, tetapi melayani diri sendiri. Melayani cita-cita, ego dan nafsunya. (NK).
Doa: “Tuhan Yesus, ampuni kami yang merasa sudah melayani-Mu, tetapi sesungguhnya diri kamilah yang kami layani. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung