MENGHARAPKAN HADIAH YANG INDAH
Matius 7:7-10
Matius 7:8. “Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.”
Dipinggiran desa, hiduplah seorang gadis penjual bunga mawar. Di kebun samping rumahnya terdapat bermacam-macam bunga mawar, namun tidak ada yang menarik hatinya. Dia juga sangat meyukai kupu-kupu. Dia sangat berharap dapat melihat seekor kupu-kupu yang bersayap indah, dari sekian banyak kupu-kupu di kebunnya tak ada yang bersayap indah seperti yang diharapkannya.
Lalu mulailah gadis ini berdoa kepada Tuhan agar apa yang ia inginkan dapat terwujud. “Tuhan aku meminta setangkai mawar yang indah, dan aku berharap dapat melihat kupu-kupu yang bersayap indah.”
Ternyata yang didapat gadis itu bukanlah setangkai mawar yang indah, namun kaktus yang jelek dan berduri. Dan kupu-kupu yang diminta bukanlah kupu-kupu yang didapatnya tetapi seekor ulat bulu. Dan betapa kecewanya gadis itu, karena apa yang diharapkannya tidak sesuai dengan kenyataanya. Tetapi, suatu ketika kaktus yang jelek dan berduri itu berbunga indah sangat indah dan seekor ulat bulu kini berubah menjadi kupu-kupu yang bersayap indah. Dan betapa bahaginya gadis itu meyaksikan kejadian tersebut.
Mungkin Anda dan saya pernah mengalami seperti gadis tersebut, apa yang kita minta kepada Tuhan berbanding terbalik dengan apa yang Tuhan berikan. Kemudian kita kecewa dan marah. Tapi kita lupa, bahwa rencana dan waktu Tuhan berbeda dengan rencana dan waktu kita. Tuhan mampu memberi lebih dari apa yang kita minta dan waktu-Nya selalu tepat.
Mungkin banyak hal yang kita minta dalam satu tahun ini kepada Tuhan. Pekerjaan, jodoh, ekonomi yang dipulihkan, rumah dan macam-macam, namun belum kita dapatkan. Satu hal yang harus kita yakini, bahwa Tuhan mampu membari hadiah yang indah kita, bahkan jauh lebih indah dari yang kita minta.
Doa: “Tuhan Yesus, ajar aku untuk mengerti setiap rencana-Mu dalam hidupku. Biarlah aku terus berharap dan bergantung pada-Mu, karena Engkaulah yang berdaulat atas hidupku. Segala cita-cita dan harapan kuserahkan pada-Mu. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung