
PENGHARAPAN YANG BENAR
Matius 6:19-24
Amsal 10:28. Harapan orang benar akan menjadi sukacita, tetapi harapan orang fasik menjadi sia-sia.
Banyak orang meletakkan harapannya pada suatu yang salah. Mereka menyangka, jika memiliki banyak uang, maka hidup akan terjamin. Jika punya jabatan yang tinggi, maka pasti akan dihormati, jika saya memiliki popularitas, maka saya akan terkenal di seluruh dunia. Atau, jika saya memiliki banyak wanita, maka saya akan bahagia. Harta, jabatan, wanita dan popularitas bukan pengharapan yang sebenarnya, karena semua itu akan lenyap dalam sekejap. Harta bisa habis, jabatan bisa lenyap, wanita bisa menyakiti, dan popularitas akan redup.
Ayat emas hari ini mengatakan “Harapan orang benar akan menjadi sukacita, tetapi harapan orang fasik menjadi sia-sia.” Harapan orang fasik adalah harapan yang salah, oleh karena itu Amsal mengatakan akan sia-sia, tetapi orang benar harapannya adalah benar, sehingga mereka akan bersukacita.
Apa harapan orang benar? Harapan orang benar adalah Allah, Dialah pengharapan satu-satunya. Mengapa? Karena Allah adalah Allah yang pasti menggenapi janji-janji-Nya. Ketika kita berpegang pada janji Allah, maka Allah akan menepati janji-Nya dan Dia akan menjamin kehidupan kita baik di dunia ini maupun di kehidupan yang akan datang.
Di tengah kondisi dunia yang tidak pasti dan tidak menentu, di tengah badai pandemi yang sedang bergejolak entah kapan akan berakhir, pada siapa harapan kita gantungkan? Sebuah renungan yang perlu kita kaji saat ini. Jika kita berharap pada harta, jabatan, wanita dan popularitas, maka harapan kita akan sia-sia, tetapi jika harapan kita adalah Allah, maka kita akan bersukacita. Letakkanlah harapan Anda hanya kepada Allah.
Doa: “Engkaulah harapan hidupku, ya Tuhan sumber pengharapanku. Amin.”
Bacaan Setahun: Matius 14:1-21; Kisah Para Rasul 8:1b-13; Mazmur 12-13; Kejadian 47.
GBI Pasir Koja 39 Bandung