Renungan Harian (28 Februari 2016)

28BANK ‘KAWIN PAKSA’

Mazmur 133:1-3

Mazmur 133:1. “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!”

Mengabdi di sebuah bank yang terbentuk dari peleburan beberapa bank yang nyaris pailit, sangatlah tidak nyaman. Bukan hanya perbedaan berbagai latar belakang dan perangai rekan kerja yang teramat beragam. Perbedaan utama lebih dikarenakan masing-masing individu masih mengenakan “jas” lama mereka. Benar, budaya dari bank tempat bekerja sebelumnya masih melekat erat di setiap badan. Pun suasana kantor jadi terbagi dalam sejumlah kelompok dengan warna-warni bank sebelumnya. Egoisme pribadi, serta perasaan, bahwa banknya dahulu paling baik dari bank rekan lain, memperpanjang jarak pertemanan yang memperkeruh kinerja. Rumah Menabung hasil merger bentukan Pemerintah ini tak lebih dari Bank Kawin Paksa. Kalau sudah begini, pindah kerja adalah solusi terlaris dipilih.

Bukan hanya Bank Kawin Paksa, ternyata eh ternyata, “penyakit” ini menjangkiti dunia pelayanan di gereja. Dalam sebuah gereja, sangat mungkin terjadi. Atmosfer pelayanan terbentuk dari sejumlah manusia yang tidak hanya berbeda latar dan watak. Perbedaan tingkat skill dan budaya gereja sebelumnya masih melekat dalam kinerja pelayanan tiap pelayan Tuhan. Alhasil, bukan hanya beda prinsip, ketegangan demi ketegangan pun meruncing. Semua ini berujung pada virus “kecewa” dan bakteri “pahit hati”. Dan solusi bodoh terlaris yang dianggap jitu tak lain adalah mundur dari pelayanan berbuntut ‘pindah gereja lagi.’

Lalu, apa solusi untuk fenomena “penyakit” ini? Hanya satu, ayat di atas jawabannya. Karena kasih menutup banyak dosa. Kasih persaudaraan dalam Kristus akan memampukan kita mentolerir kekurangan bahkan kesalahan saudara kita sepelayanan. Buat apa pula mendakwa saudara se-pelayanan atas kekurangan dan kesalahannya? Roma 3:10 berucap “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.” Diri kita sendiri jauh dari sempurna. Memang jengkel, geram, benci, mungkin saja tak terhindarkan. Namun, sebelum semua itu meruncing, segeralah tumpulkan dengan kasih persaudaraan dalam Kristus! Hingga di penghujung pengabdian kita pada-NYA, kita akan menyadari, obat paling mujarab dari segala gangguan dan penyakit di hati dan jiwa hanyalah: KASIH!!! (NK).

Doa: “Penuhilah kami dengan kasih-Mu, Tuhan Yesus. Agar kami dapat mengasihi rekan-rekan kami dan mampu saling menerima satu dengan yang lainnya. Amin.”

Check Also

Ilustrasi Renungan 31 Desember 2023 TUHAN ADA DI SETIAP MUSIM KEHIDUPAN

Renungan 31 Desember 2023

Ilustrasi Renungan 31 Desember 2023 TUHAN ADA DI SETIAP MUSIM KEHIDUPAN Renungan 31 Desember 2023 …