
PEMILIK HARTA
Pengkhotbah 5:7-6:12
Pengkhotbah 6:2. “Orang yang dikaruniai Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan suatu pun yang diingininya, tetapi orang itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya, melainkan orang lain yang menikmatinya! Inilah kesia-siaan dan penderitaan yang pahit.”
Salah satu sektor yang paling terpukul di masa pandemi Covid19 adalah ekonomi. Di sinilah orang baru menyadari, betapa tidak berartinya harta kekayaan yang mereka kumpulkan. Sekarang harus menghadapi kenyataan bahwa kebangkrutan ada di depan mata kita.
Melalui Pengkhotbah, kita belajar bahwa harta kekayaan yang kita miliki sebenarnya adalah milik Allah yang dititipkan kepada kita untuk dikelola dengan benar. Sayangnya, kita berpikir harta yang kita miliki seolah-olah milik kita sendiri dan tidak ada satu orang pun yang berhak mengambilnya. Akan tetapi Allah punya cara untuk menyadarkan manusia yang cinta diri sendiri dan cinta harta. Pandemi diijinkan Allah melanda seluruh dunia untuk menguji dan memurnikan hati manusia. Kepada siapakah sebenarnya mereka menggantungkan hidupnya selama ini? Kepada pribadi Allah sang pemilik harta atau justru kepada berkat Allah. Bila yang kedua yang menjadi pilihan layaklah kita stress, bahkan kecewa kepada Allah yang membuat sumber kekayaan kita berhenti selama beberapa bulan ini.
Bila Allah jadi sumber kehidupan kita, maka tak ada rasa takut sebab kita yakin Allah pasti mencukupi kebutuhan hidup kita. Kita harus percaya, bahwa Allah sanggup mencukupi, supaya kita tetap bisa melanjutkan kehidupan ini. Manusia hanya diberi hak menerima dan mengelola dengan baik dan benar bagi kesejahteraan hidupnya dan keluarganya. Jangan pernah kita mengambil alih hak Allah atas hal ini, maka kita tidak akan kecewa.
Doa: “Bapa di dalam nama Yesus, aku mau mempercayakan hidupku kepada pribadi-Mu, Sang Pencipta. Amin.”
Bacaan Setahun: Yohanes 20:24-31, Kolose 4:7-18, Yeremia 29:24-30:15, 2 Tawarikh 18-19
GBI Pasir Koja 39 Bandung