Renungan Harian (27 Februari 2016)

27KUDA TULI

Yakobus 4:13-17

Yakobus 4:17. “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.”

Peristiwa 27 Juli 1996, disebut sebagai Peristiwa Kudatuli (akronim dari KERUSUHAN DUA PULUH TUJUH JULI) atau Peristiwa Sabtu Kelabu adalah peristiwa pengambilalihan secara paksa kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jln. Diponegoro 58 Jakarta Pusat yang saat itu dikuasai pendukung Megawati Soekarnoputri. Penyerbuan dilakukan oleh massa pendukung Soerjadi (Ketua Umum versi Kongres PDI di Medan) serta dibantu oleh aparat dari kepolisian dan TNI. Peristiwa ini meluas menjadi kerusuhan di beberapa wilayah di Jakarta.

Hampir 20 tahun berlalu, hingga kini kasus ini tidak pernah tuntas diselesaikan. Padahal hal ini merupakan kasus yang menciderai demokrasi dan HAM saat itu. Pemimpin di negeri ini boleh berganti, tetapi tampaknya itikad untuk menerangi kasus ini baru menjadi retorika saat kampanye atau hanya saat menjabat kepemimpinan. Mungkin hal ini terkait dengan suatu teori “benar salahnya sesuatu, bukan hanya berdasarkan dari apa yang terjadi tapi tergantung dari siapa yang melihatnya.” Beberapa petinggi militer yang bertanggung jawab bahkan terlibat pada kasus ini tetap bungkam, bahkan mereka dipromosikan atau tetap menduduki jabatan-jabatan tinggi dalam pemerintahan.

Bulan kemarin seorang jendral hendak dimintai keterangannya mengenai suatu peristiwa tahun 1998. Tetapi ia menolak panggilan yang dianggapnya politis dan ia mengusulkan untuk membuka seluruh kasus yang ia ketahui termasuk “Kuda Tuli” ini, dalam wacana rekonsiliasi Nasional. Bukan hanya menjadikan kasus-per kasus sebagai komoditi politik untuk mencari kambing hitam. Ia menganggap berbagai kasus yang melibatkan militer harus dilihat dari kacamata yang lebih luas dan pada akhirnya pertemuan itu bukan menjadi ajang balas dendam.

Dalam kehidupan kebaikan atau kejahatan seringkali memang tergantung dari kacamata kita saja. Padahal jika hendak jujur pandangan kita tentang nilai-nilai sering berubah. Karena itu, pakailah sudut pandang Allah dalam firman-Nya dalam bertindak. Lakukanlah semua kebaikan dan kebenaran dalam situasi apa pun. Bungkam kejahatan dengan terus melakukan kebaikan. (NK).

Doa: “Kami mau terus melakukan kebaikan dan kebenaran yang sesuai dengan standar firman Tuhan, sehingga kami tidak berdosa terhadap Engkau, ya Allah. Amin.”

Check Also

Ilustrasi Renungan 31 Desember 2023 TUHAN ADA DI SETIAP MUSIM KEHIDUPAN

Renungan 31 Desember 2023

Ilustrasi Renungan 31 Desember 2023 TUHAN ADA DI SETIAP MUSIM KEHIDUPAN Renungan 31 Desember 2023 …