
CHATTING
Efesus 4:29-32
Matius 24:12. “Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.”
Sudah sebulan Grace tidak ke gereja. Padahal hampir tiap minggu Grace ada jadwal pelayanan di gereja. Semua berawal dari pesan singkat yang melukai hatinya, sangat dalam. Pesan singkat itu memang tidak bermuatan kata-kata kasar, tetapi gaya interaksi yang memojokkan di sebuah group chat membuatnya tersudut dan merasa tak berdaya. Detik itu juga, Grace memutuskan untuk mundur dari semua pelayanan yang dipegangnya di gereja. Betul, Grace bersalah karena terbawa emosi, tetapi seharusnya kita bisa membayangkan betapa parahnya kerusakan yang bisa diakibatkan oleh komunikasi yang tidak sehat.
Anda yang terbiasa chatting di berbagai media sosial mungkin sudah kenyang dengan beragam model “guyonan” yang berseliweran di media sosial. Kadang kita ikut tertawa, walau sadar bahwa materi yang disampaikan sebenarnya bisa sangat menyakitkan seseorang. Ceplas-ceplos di ruang medsos memang tampak lucu, tetapi di saat yang bersamaan, sebuah hati mungkin telah terluka parah. Tidaklah bijak bila kemudian kita berkomentar, “Jangan baperlah” (alias bawa perasaan). Bukankah kita dipanggil untuk memenangkan jiwa dan bukan malah membuat satu jiwa “terhilang” hanya karena guyonan yang tidak sehat?
Kita semua pasti ingat ketika Yudas bersandiwara dengan mencium Yesus di depan para serdadu yang akan menangkap Yesus. Bukankah hari-hari ini juga banyak yang berkelakuan seperti Yudas, dengan berpura-pura menunjukkan perhatian yang berlebihan, tetapi terselubung maksud-maksud seperti menyindir atau niatan tidak baik lainnya? Dulu sekali Allah pernah memperingatkan nabi Samuel dengan berkata, “Janganlah pandang parasnya….sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah;…TUHAN melihat hati,” (1 Samuel 16:7). Mari koreksi hati kita sendiri di hadapan Tuhan.
Doa: “Ampuni aku Tuhan, yang terkadang ikut terbawa arus dalam komunikasi yang tidak sehat di media sosial. Pulihkanku, agar aku dapat mengasihi sesama dengan tulus. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung