KEMENANGAN BUKANLAH SEGALANYA
Roma 12:3
Roma 12:3b. “Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.”
Seorang petani tua dari sebuah pedesaan yang subur, dikenal selalu berhasil memenangkan kontes tanaman pertanian selama bertahun-tahun. Tunas-tunas jagung yang dihasilkannya berkualitas sangat baik. Hal ini menarik perhatian seorang wartawan, karena di desa itu ada puluhan petani yang juga memiliki lahan jagung. Tertarik mengungkap rahasia ini, sang wartawan mewawancarai sang petani, “Apakah Anda memiliki rahasia khusus untuk memenangkan kontes hasil panen jagung terbaik setiap tahun?”
Petani sederhana itu hanya tersenyum lalu menjawab: “Saya tidak punya rahasia khusus. Hanya saja, bibit jagung milik saya yang memenangkan kontes, selalu saya bagi-bagikan kepada petani lain karena itu adalah bibit jagung terbaik.” Sang wartawan tampak bingung, karena berarti semua petani memiliki bibit jagung yang sama-sama baik. “Mengapa Anda membagikan bibit jagung terbaik itu? Bukankah para petani di desa ini mengikuti kontes juga? Anda tak takut kalah?”
Sang petani terkekeh pelan, “Aku sama sekali tidak memikirkan menang ataupun kalah, anak muda. Tahukah kamu, bahwa angin dapat menerbangkan serbuk sari bunga-bunga jagung dari satu ladang ke ladang yang lain? Bila ada serbuk sari tanaman jagung dari bibit yang buruk terbang ke ladang jagungku, itu akan menurunkan kualitas jagungku dan seluruh hasil jagung desa ini. Jika aku ingin mendapat hasil jagung terbaik, maka aku harus menolong tetanggaku untuk mendapat bibit jagung yang baik pula.”
Tidak ada suatu kemenangan atau keberhasilan yang dicapai hanya bergantung pada keunggulan pribadi semata. Tetapi dibutuhkan keberadaan dan dukungan pihak lainnya sebagaimana tiap orang mempunyai kemampuan dan tugas masing-masing di dunia ini. Karena itulah Rasul Paulus menasehatkan kita untuk belajar menilai keadaan diri secara wajar, tidak berlebihan. (NK).
Doa: “Bapa, kami mau hidup dengan rendah hati, karena kami tahu, bahwa sesungguhnya kami selalu memerlukan sesama kami di dalam hidup ini.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung