ANAK DOMBA ALLAH
Yohanes 1:29-34
Yohanes 1:29b. “Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.”
Guna memahami mengapa gelar “Anak Domba Allah” dikenakan pada Kristus, pertama-tama kita harus memahami makna perayaan Paskah. Saat bangsa Israel dijadikan budak di tanah Mesir, Allah mendengar jerit tangis umat-Nya (Keluaran 2:24). Tuhan mengutus Musa untuk membebaskan umat-Nya dari belenggu penindasan. Setelah sembilan tulah, Firaun masih tetap tegar hati. Akhirnya, Tuhan memerintahkan Musa agar setiap keluarga mengambil seekor anak domba berumur satu tahun, jantan, dan tak bercela; menyembelihnya, dan memberi tanda dengan darahnya pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu dari setiap rumah di mana mereka makan daging anak domba yang dipanggang dengan roti tak beragi dan sayur pahit. Malam itu, malaikat maut akan “melewati” rumah-rumah yang bertanda darah anak domba, tetapi ia akan merenggut nyawa anak-anak sulung dari rumah-rumah yang tidak bertanda darah anak domba. Karena korban darah itulah, Firaun akhirnya membiarkan orang Israel pergi; dari perbudakan menuju kebebasan, dari tanah dosa menuju tanah perjanjian, dan dari mati menuju hidup baru.
Para nabi mempergunakan gambaran anak domba untuk menggambarkan Mesias. Gambar anak domba memiliki arti ganda: Mesias akan dikorbankan untuk menghapus dosa dan hamba yang menderita. Yang menarik, ketika berbicara kepada sida-sida Etiopia yang sedang membaca nas ini dari Kitab Yesaya, Filipus menjelaskan kepadanya bagaimana ayat itu menunjuk kepada Kristus dan bagaimana Ia menggenapinya (Kis. 8:26).
Pengorbanan Kristus yang diibaratkan seperti domba tersebut merupakan indikator hebat akan kasih-Nya yang penuh kuasa. “Tidak ada kasih yang lebih besar,” kata-Nya, “daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yoh. 15: 3). Yesus mengasihi kita demikian besarnya hingga mengorbankan diri-Nya.
Doa: “Tuhan Yesus, Engkau mati menggantikanku, semuanya itu karena Engkau mengasihiku. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung