
ASAH KAPAK
1 Tawarikh 25:1-7
1 Tawarikh 25:7. “Jumlah mereka bersama-sama saudara-saudara mereka yang telah dilatih bernyanyi untuk TUHAN–mereka sekalian adalah ahli seni–ada dua ratus delapan puluh delapan orang.”
Dikisahkan seorang saudagar mempekerjakan tukang kayu untuk menjalankan usahanya. Tugasnya tidak lain adalah menebang pohon setiap hari untuk kemudian diolah oleh pekerja lainnya. Pada hari pertama tukang kayu tersebut berhasil menebang tujuh batang pohon, di hari kedua turun menjadi enam batang, di hari ketiga turun lagi menjadi lima batang, dan begitu di hari-hari berikutnya. Hingga di hari kedelapan tidak satu batang pohon pun yang berhasil ditebangnya.
Ia datang kepada tuannya dan melaporkan kejadian yang telah dialaminya tersebut, termasuk ketidakberhasilannya ketika menebang di hari yang ke delapan. Sang saudagar kemudian bertanya tentang kapak pemotong yang dipakainya untuk menebang kayu-kayu itu, apakah pernah diasah atau tidak. Dengan segera ia menjawab tidak punya waktu untuk mengasahnya, karena sangat sibuk sekali bekerja. “Bagaimana kamu akan berhasil menambah tebanganmu setiap hari, sementara kapak yang kamu gunakan semakin tumpul,” ujarnya menasehati.
Sebagai apa pun kita sekarang, dan bergerak dalam bidang apa pun profesi yang tengah kita jalani tetap saja menuntut untuk selalu mengasah ‘kapak’ kita. Termasuk juga dalam pelayanan. Sikap merasa cukup, tidak mau belajar, akan membuat kita mengalami kesulitan untuk mengembangkan diri. Milikilah kerendahan hati untuk terus mengasah kapak kita, sehingga Tuhan dapat memakai kita dengan maksimal.
Doa: “Kami mau terus mengasah kemampuan kami, agar kami menjadi ahli di bidang yang telah Engkau tetapkan atas kami, ya Allah. Sehingga, Engkau disenangkan dan dimuliakan. Amin.”
Ayat Bacaan: Matius 25:31-46; Kisah Para Rasul 15:12-21; Mazmur 52-53; Keluaran 39:32-40:38
GBI Pasir Koja 39 Bandung