Renungan Harian (22 Februari 2016)

22TELADAN YANG KUAT

Lukas 14:34-35

Lukas 14:34-35. “Garam memang baik, tetapi jika garam juga menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya …, dan orang membuangnya saja. Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

Hidup kita tidak bisa dipisahkan dari garam. Masakan yang tidak memakai garam rasanya tidak enak, biarpun masakannya memakai bumbu-bumbu lainnya, tetapi kalau tidak ada garam rasanya hambar. Kalau garam itu sudah hilang asinnya, garam itu sudah tidak ada gunanya lagi, baik untuk ladang, maupun untuk pupuk. Garam itu akan dibuang dan diinjak-injak orang. Di dalam Injil Matius, Yesus juga berkata: “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.” (Matius 5:13).

Tuhan menghendaki agar kita harus dapat menjadi garam dunia, jangan sampai kita kehilangan pengaruh kita. Kita berada di masyarakat, dan sebagai orang dewasa pastilah sehari-hari kita ada di dalam dunia pekerjaan, baik itu sebagai pengusaha ataupun karyawan, di dunia pekerjaan inilah kita menghabiskan waktu paling banyak dan di sini pula kita berinteraksi paling banyak dengan orang lain.

Maka di dunia pekerjaan ini kita harus menjadi garam sampai orang-orang di sekitar kita bisa melihat dan menilai keberadaan hidup kita yang lain dari mereka. Bukan hanya lain tapi sebagaimana garam yang punya pengaruh kuat, kita pun harus membawa pengaruh yang baik dan menjadi teladan. Mungkin kita tidak bersaksi dengan perkataan tentang Yesus, tetapi dengan tindakan dan perbuatan kita yang jujur dan bersih, kita sudah menyatakan pengaruh yang kuat. Jadi di mana saja kita berada, kita harus mempunyai pengaruh.

Garam tidaklah sama dengan gincu (pewarna), kalau gincu merah ditaruh di air maka air itu berubah warna menjadi merah, tetapi rasanya tetap tawar. Tetapi kalau garam ditaruh di air, air itu tetap putih, tetapi rasanya berubah menjadi asin. Jadi garam bukan hanya dalam penampilan luar, tapi jauh lebih dalam, menjadi dampak. Di manapun kita berada, kita harus dapat memberi teladan yang kuat untuk menyatakan, bahwa kita adalah anak-anak-Nya. (NK).

Doa: “Kami mau hidup seperti garam, yang meski tidak terlihat tetapi berdampak besar. Mampukan kami, ya Roh Kudus. Amin.”

Check Also

Ilustrasi Renungan 31 Desember 2023 TUHAN ADA DI SETIAP MUSIM KEHIDUPAN

Renungan 31 Desember 2023

Ilustrasi Renungan 31 Desember 2023 TUHAN ADA DI SETIAP MUSIM KEHIDUPAN Renungan 31 Desember 2023 …