Filipi 3:18-19.
Filipi 3:18-19. “..banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka…”
Ada pepatah lama yang kira-kira berbunyi “cara untuk membuat seorang suami bahagia adalah dengan mengenyangkan perutnya“, “perut kenyang, hati senang“. Urusan perut memang hal yang sangat penting bagi kelangsungan hidup dan kesehatan manusia, tapi tampaknya, sebetulnya urusan pikiran dan lidah-lah yang membuat urusan makan-minum menjadi hal yang rumit, merepotkan, dan membebani. Seseorang pernah bercerita, bahwa setiap bangun pagi, yang pertama terlintas di pikirannya adalah: makan apa pagi ini. Yang lain mengeluh: bosan mikir harus masak apa. Teman yang lain dengan agak sombong berkata: Aku sudah pernah makan di restoran ’anu’.
Bangsa Israel bersungut-sungut karena urusan makanan, bosan makan manna dan meminta daging (Bil 11:4). Manusia pertama pun jatuh ke dalam dosa karena memakan buah terlarang. Urusan perut bergeser dari soal kebutuhan kepada soal keinginan, dan seringkali dipengaruhi oleh faktor gengsi pula. Oleh karena itu, berdoa-puasa bukan cuma soal berpantang terhadap makanan dan minuman. Berdoa-puasa berarti mengalahkan keinginan-keinginan daging (yang digambarkan sebagai perut) dan menempatkan tubuh di bawah roh.
Berdoa-puasa dilakukan ketika orang membutuhkan kuasa, kemampuan dan ketekunan yang luar biasa untuk mengatasi musuh, atau halangan yang besar, seperti yang dilakukan oleh Nehemia, Ester dan oleh Tuhan Yesus sendiri, atau ketika menyadari dosa dan memohon pengampunan dan pemulihan dari Tuhan seperti yang dilakukan Daud dan diserukan oleh Yoel (Yoel 2:12-14).
Tuhan Yesus berkata bahwa ada hal-hal yang tidak dapat diselesaikan kecuali dengan doa puasa (Mat 17:21). Doa puasa punya kuasa yang besar bila dilakukan dengan benar dan dengan tujuan yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Tuhan berjanji bahwa kita akan sanggup membangun reruntuhan sekalipun (Yesaya 58:12). (NK).
Doa: “Tuhan, berilah kami kekuatan untuk berdoa dan berpuasa dengan benar, ajar kami untuk merendahkan diri di hadapan-Mu, dan bawa kami kepada doa-doa yang berpusatkan pada perluasan Kerajaan-Mu di muka bumi ini. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung
