
IBADAH
Yosua 24:1-33
Yosua 24:15b. “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!”
Ibadah (abodah/lbr. latreia/yun) adalah satu sikap dalam mencari dan menyembah Tuhan. Ibadah dilakukan sebagai bentuk respon dan ucapan syukur atas penyertaan dan keselamatan yang Tuhan beri dalam kehidupan umat-Nya (Kel. 13:8). Ibadah juga dilakukan sebagai bentuk pengajaran berulang-ulang kepada anak-cucu (keturunan) tentang Allah dan karya-karya-Nya (Kel. 12:26-27).
Bagi Yosua, langkah pertama menuju kesalehan sejati adalah mengenal Allah. Mengenal bukan saja dalam arti tahu tentang Allah tetapi memiliki persekutuan yang erat dengan-Nya. Inilah yang disebut mengasihi Allah. Konsekuensi logis dari keintiman hubungan dengan Allah adalah ketaatan kepada perintah-Nya.
Bagi orang Yahudi, apalagi kalangan Farisi, ketaatan beribadah, ketaatan kepada Taurat dan aturan-aturan yang dijabarkan secara detail adalah kewajiban nomor satu. Tingkat kesalehan ditentukan oleh tingkat ketaatan mereka. Semakin taat, semakin saleh. Itulah sebabnya orang Farisi berusaha taat sampai hal sekecil-kecilnya.
Permasalahannya, ketaatan tidak pernah menjadi cara untuk membangun hubungan dengan Allah. Ketaatan lebih merupakan cara untuk menunjukkan persekutuan yang telah terjadi antara Allah dengan manusia, dan sebenarnya Allah-lah pembuka hubungan itu. Ketika ada kasih, maka perintah-perintah-Nya akan terasa ringan (1 Yoh. 5:3).
Beribadah yang disertai kerinduan memberikan prioritas utama bagi Tuhan akan menarik penggenapan janji-Nya (Mat. 6:33). Oleh sebab Yosua menantang umat Israel dan mengikrarkan diri, bahwa ia dan keluarganya hanya akan beribadah kepada TUHAN.
Mari kita beribadah dengan benar, maka Tuhan akan memberkati roti makanan kita dan air minuman kita dan akan menjauhkan penyakit dari tengah- tengah kita (Kel. 23:25).
Doa: “Tuhan, ajari kami mulai hari ini beribadah dengan niat yang benar dan tulus, karena kami tahu berkat-Mu ada bagi kami. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung