
CERMIN TIDAK PERNAH BERBOHONG
1 Yohanes 4:7-21
1 Yohanes 4:11. “Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.”
Dalam kisah putri Salju, sang Ratu bertanya pada cermin ajaibnya, “Wahai cermin siapa wanita tercantik di dunia ini.” Sang cermin selalu menjawab, “Anda adalah yang tercantik dari semuanya.” Sang Ratu pun merasa puas karena tahu cermin ajaibnya tidak pernah berkata bohong. Hari-hari berlalu, Putri Salju tumbuh dewasa dan makin cantik. Kecantikannya mengalahkan sang Ratu. Sehingga suatu hari ketika sang Ratu bertanya kepada cermin ajaibnya. Sang cermin pun menjawab, “Ratu, Anda cantik tetapi Putri Salju lebih cantik dari Anda.”
Itulah sepenggal adegan dalam dongeng putri Salju dan tujuh Kurcaci. Meski hanya sekedar dongeng, tetapi faktanya memang cermin tidak pernah bohong. Cermin adalah sebuah obyek yang dapat memantulkan bayangan yang mempertahankan bayangan aslinya. Singkatnya cermin berfungsi untuk melihat refleksi sebuah benda yang dipantulkannya. Oleh karena itu, saat kita melihat cermin yang normal maka kita akan melihat hal yang sama dengan benda aslinya.
Begitu juga dengan tindakan kita selama di dunia ini tidak jauh berbeda dengan cara kerja cermin. Apa yang kita perbuat selama ini, itulah yang mencerminkan apa yang ada dalam diri kita. Jika kita mengakui Allah ada di dalam diri kita, maka perbuatan kita menjadi cerminnya. Apakah perbuatan kita akan selalu mengasihi sesama kita, seperti Allah yang adalah kasih yang tinggal di dalam kita telah terlebih dahulu mengasihi kita. Sehingga seharusnya tindakan Allah tercermin dalam sikap kehidupan kita sehari-hari. Dalam setiap perbuatan kita haruslah didasari dengan kasih. Cermin akan selalu menunjukkan hal yang serupa dengan aslinya, seperti itulah kita memancarkan sifat Allah yang sesungguhnya.
Doa: “Bapa di dalam nama Yesus, aku mau mencerminkan sifat-Mu yang penuh kasih. Amin.”
Bacaan Setahun: Yohanes 11:54-57; Efesus 1:1-14; Yesaya 63; II Raja-raja 3:1-4:7.
GBI Pasir Koja 39 Bandung