KUASA PERKATAAN
Amsal 18:1-8
Amsal 18:21. “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.”
Nelson Mandela adalah seorang revolusioner anti-apartheid dan politisi Afrika Selatan yang menjabat sebagai Presiden Afrika Selatan sejak 1994 sampai 1999. Ia yang pernah dipenjara selama tiga dekade sangatlah paham akan kuasa perkataan. Perkataannya saat ini sering kali dikutip orang, tetapi selama di penjara, ia tidak banyak berbicara, karena takut akan akibat buruk yang ditimbulkannya.
Satu dekade setelah pembebasannya, ia berkata: “Bukan kebiasaan saya untuk berkata-kata dengan sembarangan. Pengalaman selama 27 tahun mendekam dalam penjara mengajar kami untuk menggunakan kesunyian dari kesendirian itu guna memahami betapa berharganya perkataan dan betapa kuat dampak perkataan terhadap hidup-mati seseorang.”
Raja Salomo, penulis dari sebagian besar kitab Amsal juga menyatakan betapa besarnya kuasa perkataan, bahwa hidup dan mati kita dikuasai oleh lidah. Perkataan kita berpotensi untuk menghasilkan konsekuensi yang positif atau negatif.
Perkataan berkuasa memberikan hidup melalui kata-kata yang membangkitkan semangat, tetapi dapat merusak dan membunuh lewat kebohongan, gosip dan celetukan yang pedas. Karenanya pastikanlah untuk berhati-hati sebelum berucap. Jika tidak ada yang baik yang bisa kita katakan, lebih baik kita diam. Jangan asal ‘ngejeplak’ atau mengeluarkan pernyataan yang tanpa dipikirkan dahulu akibatnya. Dan pastikan, bahwa Anda menjaga hati Anda dengan segala kewaspadaan, karena dari sanalah terpancar kehidupan (Ams. 4:23).
Doa: “Kiranya Engkau berkenan akan ucapan bibirku dan renungan hatiku, ya Allah. Di dalam nama Tuhan Yesus. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung