
KARENA AYAH-IBU
1 Petrus 5:1-11
Amsal 22:6. Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.
Dalam buku Religious Thinking from Childhood to Adolescene, Ronald Goldman mencatat hasil belasan peneliti tahap-tahap perkembangan iman. Goldman menulis: Pentingnya keluarga dan pengaruh orangtua atas berbagai segi perilaku religius dilaporkan oleh banyak penelitian. Di sini sikap orangtua terhadap agama menjadi faktor paling penting. (Terjemahan)
Dalam teori Pendidikan Agama Kristen: Pertama, cita rasa religius bukan bawaan lahir melainkan ditimbulkan oleh pendidik. Pendidik menjadi personifikasi (perlambangan, perumpamaan) Tuhan di mata anak. Dengan cepat anak menyerap semua yang dilihat dan didengar. Agama bukan diajarkan melainkan diteladankan. Kualitas hubungan anak dengan pendidik menjadi cikal-bakal kualitas hubungannya dengan Tuhan. Kedua, cita rasa religius pada anak kecil perlu dipandu. Kalau panduan itu terputus, anak akan mengalami kebingungan dalam membayangkan konsepnya tentang Tuhan.
Kata didiklah dalam Amsal 22:6 terjemahan kata Ibrani chanak (= latih sejak dini, biasakan dari awal). Dari permulaan tunjukkan jalan yang benar kepada anakmu, maka seterusnya ia akan menempuh jalan itu.
Mari para orangtua, didiklah anak-anak kita sedini mungkin, jadilah panutan dalam segala hal, terutama peribadatan kita kepada Tuhan Yesus. Maka ketika ada orang bertanya kepada anak kita, mengapa kamu menjadi Kristen, mereka akan menjawab, “Karena ayah, karena Ibu.”
Doa: “Mampukan kami Roh Kudus, untuk mendidik anak-anak kami di dalam Tuhan dan menjadi teladan dalam beribadah kepada Allah. Amin.”
Bacaan Setahun: Lukas 20:27-40; I Korintus 9:1-14; Kidung Agung 1:1-2:1; Hakim-Hakim 5.
GBI Pasir Koja 39 Bandung