Renungan Harian (15 Juni 2016)

15HANYA SATU PAPA

Pengkhotbah 4:9-12

Pengkhotbah 4:9. “Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka.”

Air mata saya berlinang deras saat membaca kisah pernikahan Robby Sugara dan istrinya Bertha Iriani Mariana. Ia sukses membangun karirnya di dunia perfilman pada rentang 1975-1983. Pada 1983 saat perfilman nasional mulai mundur, karier Robby pun meredup. Menghadapi krisis ini, Robby dan istrinya justru tidak berjalan seiring dan kerap bertengkar. Salah seorang rekan Robby lalu memperkenalkannya pada seorang pengusaha perempuan, sebut saja Tita, yang diharapkan dapat menolongnya. Berawal dari bisnis, berlanjut menjadi hubungan pribadi. Robby merasa melihat masa depan cerah dan pada 1984, meninggalkan Bertha dengan ke 7 anak mereka. Si sulung Ella berusia 11 tahun dan si bungsu Juan berusia 9 bulan.

”Saya benar-benar pengecut. Saya tinggalkan keluarga, tanpa harta sepeser pun. Saya pergi menyelamatkan diri sendiri,” katanya sendu. Bersama Tita, ia menghilang dari Jakarta. Mereka membangun penginapan di suatu tempat dan hidup dalam kemewahan.

Sementara Robby hidup bagai raja, keluarganya hidup di ujung jurang. Bertha harus menghidupi tujuh anak seorang diri, karena keluarga besarnya memilih untuk mengucilkannya. Meski menderita, Bertha berjanji, “Tidak ada Papa kedua di rumah ini, kecuali Papa Robby yang kita tunggu pulang.” Ia selalu membawa anak-anaknya hidup dekat dengan Tuhan. Ketujuh anak itu bersatu hati, berdoa pada Tuhan.

Tahun ke-14, Januari 1998, Robby Sugara menelpon Etha, berjanji akan kembali ke keluarga meski berada di bawah terror dan ancaman Tita. Pada hari yang dijanjikan, Robby akhirnya kembali ke keluarga dalam kondisi nol. Hanya ada uang Rp 60 ribu di dompetnya, dua celana jeans dan beberapa t-shirt. Semua kemewahan yang direguknya ditinggalkan begitu saja. Robby Sugara, sang Big Five itu menjadi pengangguran. Tahun 2005, ia tinggalkan dunia sinetron yang kembali ia tekuni setelah pulang dan melayani Tuhan sepenuh waktu.

Saya percaya mujizat, saat kita tidak menyerah, taat dan terus berharap hanya kepada-Nya. Tuhan pasti menjawab doa kita. Bersabarlah! (NK).

Doa: “Bapa, Engkaulah pengharapan dan kekuatanku. Hanya Engkau yang sanggup menolongku. Bersama-Mu Bapa kujalani semua, Engkau adalah Bapaku yang baik. Amin.”

Check Also

Ilustrasi Renungan 31 Desember 2023 TUHAN ADA DI SETIAP MUSIM KEHIDUPAN

Renungan 31 Desember 2023

Ilustrasi Renungan 31 Desember 2023 TUHAN ADA DI SETIAP MUSIM KEHIDUPAN Renungan 31 Desember 2023 …