Matius 2:1-12
Mazmur 51:19. “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.”
Ada seorang anak kecil yang terlahir dari kalangan keluaraga yang sederhana. Dia hidup sebagai anak yang begitu taat dan begitu aktif dalam kegiatan gereja. Ketika Natal tiba, dia pun pergi ke gereja bersama keluarganya, tetapi saat itu dia hanya memakai baju yang biasa dan bukan baju baru seperti temen-temennya. Saat itu temennya pun bertanya kepadanya kenapa dia tidak memakai baju baru? Lalu dia menjawab, “Tuhan Yesus ‘kan tidak mewajibkan kita untuk berpakaian baru ketika Natal, yang penting adalah hati kita yang sungguh untuk memuji dan memuliakan Dia.”
Ilustrasi di atas menggambarkan, bahwa untuk menyambut Natal yang diperlukan adalah persembahan hati. Bagi orang yang belum menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, ia perlu mempersembahkan hatinya dengan mengakui bahwa dia orang berdosa, mohon ampun kepada Tuhan Yesus atas dosa-dosanya, lalu mengundang Tuhan Yesus dalam hatinya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Itulah Natal yang sesungguhnya. Untuk kita yang telah percaya, menjelang Natal ini, kita perlu mengintropeksi diri, apakah hati kita betul-betul melekat pada sang Juruselamat, sehingga hidup kita menjadi alat kemuliaan Bapa di sorga?
Tuhan Yesus lahir ke dunia ini dengan sangat penuh kesederhanaan. Dia lahir di kandang domba, di dalam palungan. Allah yang memiliki segalanya, Dia penguasa alam semesta dan kehidupan manusia, Dia mau ke dunia untuk menemui ciptaan-Nya yang berdosa karena kasih-Nya kepada manusia. Tuhan Yesus lahir ke dunia dengan satu misi yaitu misi keselamatan umat manusia. Oleh karena itu, untuk memperingati hari Natal, maka yang terbaik yang bisa kita persembahkan adalah persembahan hati kita.
Doa: “Tuhan Yesus, kupersembahkan hatiku hanya untuk-Mu. Jadilah padaku seperti yang Kau mau. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung
