
ROH YANG SEDERHANA
Yohanes 13:13-17
Filipi 2:8. “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”
Kesibukan dari masa jabatan (pelantikan, peneguhan) yang baru seringkali menyangkut upacaranya: penanda-tanganan piagam, pidato, sederetan sambutan dari pelbagai pihak. Sesudah itu acara resepsi, mengucapkan selamat dan acara lainnya.
Gereja pun ikut-ikutan dalam budaya ini. Memang sebutannya sih beribadah, sebelum melayani memohon prekenanan Tuhan. Namun dalam praktiknya, perhatian orang bukan lagi tertuju pada ibadah, melainkan pada segala keramaian dan upacara, penyambutan tamu, buku acara, dekorasi ruangan, pemandu acara, kata sambutan, hidangan, ucapan selamat, potret bersama, musik, kenangan, kostum, dan lain sebagainya.
Suasana ini tidak tampak ketika Yesus mengawali masa pelayanan-Nya di daerah Yerusalem. Penduduk datang karena tertarik akan khotbah Yohanes, tetapi Yohanes berkata: …”Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak (Mark. 1:7). Asumsi orang-orang adalah Yesus yang akan datang pasti sangat “besar”. Tetapi kenyataannya bertolak belakang, Yesus datang bukan sebagai orang besar tetapi sebagai orang kecil dan biasa. Ia berjalan seorang diri, datang tanpa pengantar, pakaian dan penampilan-Nya serba biasa. Rendah hati dan bersahaja.
Pelantikan dan peneguhan Yesus sebagai putera Allah, suatu jabatan yang begitu besar dan istimewa; pelantikan-nya terjadi dengan sederhana. Yesus punya kedudukan istimewa, namun Ia tidak minta diperlakukan istimewa.
Roh kesederhanaan Yesus mengawali pelayanan Yesus, bagaimana dengan kita?
Doa: “Beri kami hati yang melayani-Mu dan pekerjaan-Mu dalam kesederhanaan dan kerendahan hati, seperti yang telah Engkau teladankan, ya Kristus. Amin.”
Bacaan Setahun: Yohanes 10:40-11:16; Galatia 5:16-21; Yesaya 59; I Raja-raja 20.
GBI Pasir Koja 39 Bandung