
BELAJAR BERSYUKUR
Mazmur 30:1-12
Mazmur 30:2. Aku akan memuji Engkau, ya TUHAN, sebab Engkau telah menarik aku ke atas, dan tidak memberi musuh-musuhku bersukacita atas aku.
Pengalaman hidup anak Tuhan tidak selalu berjalan baik dan mulus. Perjalanan itu bisa diumpamakan menaiki wahana halilintar di Dunia Fantasi, salah satu arena permaianan di Jakarta. Jalannya naik turun, kecepatan berubah-ubah. Ada saat kepala di bawah, lalu disamping. Perut serasa dikocok-kocok. Satu hal yang pasti dijamin oleh pemilik wahana tersebut, kereta yang memuat penumpang terikat erat dengan mesinnya sehingga dipastikan aman, demikian juga penumpangnya.
Pengalaman yang dicatat oleh Mazmur ini memang dominan akan syukur dan pujian (ay. 2,5-6,12). Syukur dan pujian itu terjadi karena pengalaman ditolong atau dibebaskan dari gonjang-ganjing kehidupan. Dengan kata lain, sebelum jalannya aman dan tentram, ada pengalaman hidup yang berat, menimbulkan ketar-ketir di hati serta keluhan dan permohonan belas kasih agar dilepaskan dari situasi seperti ini.
Di satu sisi pemazmur meyakini perlindungan Tuhan memberi rasa aman dan sentosa. Di sisi lain, perubahan begitu cepat terjadi, bahkan pemazmur merasakan hal itu. Yang penting, ia tahu bahwa dahulu Tuhan pernah menolong dirinya keluar dari kemelut hidup. Sekarang ia meminta dengan iman agar Tuhan sekali lagi menolong dia, melepaskannya dari masalah agar dapat memuji-muji Tuhan lagi.
Mazmur ini mengingatkan kita bahwa Tuhan itu baik. Ia pasti menolong kita tepat pada waktunya. Namun, juga dalam hal menggoncang kehidupan kita tatkala kita terlena dengan rasa aman dan nyaman, sehingga melupakan realitas dosa di dunia ini. Tujuan Tuhan menggoncang hidup kita adalah agar kita ingat, bahwa kita membutuhkan Tuhan senantiasa dalam hidup kita.
Doa: “Tuhan Yesus, bantulah kami agar kami selalu mengucap syukur dalam segala hal. Amin.”
Bacaan Setahun: 1 Yohanes 2:18-21; Titus 2:6-10; Yehezkiel 13; Yoel 3
Untuk membaca artikel atau renungan yang lain silakan klik disini
GBI Pasir Koja 39 Bandung